
"Syok aja ini Go" kata Dokter Adam.
"Tapi aku nggak sengaja. Dia sendiri yang buat aku menusuknya"
"Sengaja atau tidak kenapa harus sepanik itu? Yang sudah terjadi mau di apakan kembali. Ya beginilah reaksi malam pertama" jawab Bang Adam.
"Aku maunya berdua Dam. Pelan-pelan, penuh kenangan dan tidak terlupakan."
"Mau bagaimana lagi. Sudah kejadian"
"Jalannya licin, aku tergelincir sedikit."
"Nggak sedikit lagi, pasti sudah mentok jalan buntu." Omel Bang Adam. "Istrimu sadar tuh. Nanti di minumkan obatnya..!!"
:
Bang Igo terpaksa pamit tidak ikut apel pagi karena kondisi Punai masih lemas. Istri kecilnya menolak obat yang diberikan dokter.
"Kalau nggak minum obat kapan sembuhnya. Anak playgroup saja tidak rewel begini" kata Bang Igo.
Ekor mata Punai melirik Bang Igo. Apa karena Nai tidak mau minum obat lantar Abang samakan Nai dengan bocah ingusan??" Jawab Punai kesal. "Nai punya obat sendiri.. bukan obat tidak jelas seperti itu" Nai pun menyambar tas kesayangan yang selalu ia bawa kemanapun.
Bang Igo melotot saat Nai mengeluarkan bungkusan kecil dari saku tasnya.
"Kamu dapat obat itu darimana?????" Tanya Bang Igo.
"Mau tau saja. Ini obat mahal dan rahasia. Bisa menyembuhkan segala penyakit. Memangnya Abang sakit apa? Kenapa mau obat ini??"
__ADS_1
"Sakit hati.. Cepat bilang darimana kamu dapat obat-obatan ini..!!!!" Bentak Bang Igo.
"Jangan memaksa, sampai kapanpun Nai nggak akan bilang kalau Nai dapat obat ini dari anaknya pedagang buah di atas bukit"
Bang Igo terhenyak tapi dirinya berusaha tenang, jika sedikit saja gegabah dalam bertanya, maka ia tidak akan mendapatkan hasil apapun. "Benarkah itu? Setiap Abang mau beli disana, nggak pernah ada. Kamu beli di lapak yang mana?"
"Kalau nggak tau ya sudah, pokoknya jangan tanya di lapak biru." Jawab Punai.
"Okee.. Abang nggak akan tanya"
"Bagus..!!! Jadi laki-laki nggak usah kepo."
-_-_-_-_-
Bang Igo meminta beberapa anak buahnya untuk pergi menyelidiki tentang lapak biru yang menjadi target operasi nya. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat gambar dari lapak tersebut adalah milik ibu Yani. Ibu dari Merida, mantan pacarnya dulu.
Suami Punai itu cemas bukan main karena wanita yang telah memberikan benda haram tersebut adalah Merida. 'Bagaimanapun caranya, aku harus menyelamatkan Nai..!!'
Bang Igo menghubungi beberapa rekannya dan juga littingnya.. Rojak selaku POM
//
Bang Igo menghentikan motornya dan menghampiri lapak Merida.
"Waaahh.. ada angin apa putra seorang p*****r bisa sampai kesini? Apa kau sudah sadar kalau ibumu hanya seorang wanita pembawa sial?? Atau kau sudah pasrah karena tidak tau siapa bapakmu???" Ledek Bu Yani.
Tangan Bang Igo mengepal kuat, hatinya terasa sangat sakit mendengar ucap Ibu Yani. 'Ya Allah, inikah sebabnya Papa sangat membenci Bu Yani. Bahkan mengancam akan membunuhku jika sampai aku mendekati putrinya.. tapi saat ini aku tidak punya pilihan, keselamatan istriku di atas segalanya meskipun Papa harus membunuhku.'
__ADS_1
"Saya keluar dari keluarga dan tidak ingin mengenal mereka. Saya tidak sepaham dengan jalan pikir mereka." Jawab Bang Igo.
"Benarkah??" Kening Bu Yani berkerut nampak tidak percaya.
"Iya"
"Karena masalah apa kamu berdebat dengan Papamu dan kembali kesini?" Tanya Bu Yani memastikan.
"Saya tidak bisa bohong kalau saya mencintai Merida, saya ingin terus bersamanya."
"Kamu punya harta apa? Berani sekali kau meminta putri saya yang cantik ini untuk menikah denganmu?" Kata Bu Yani dengan percaya diri.
"Saya punya toko bahan kue." Jawab Bang Igo namun menyembunyikan restoran, toko bangunan dan penginapan di puncak.
"Hhh.. sebenarnya saya malas berurusan denganmu, tapi kamu terlalu memaksa.. jadi apa boleh buat..!!" Ibu Yani masuk ke dalam lapak.
~
"Kamu harus hamil anaknya, biar dia cepat menikahimu dan kamu dapat toko bahan kuenya. Ingat, jadi perempuan harus pintar..!!" Doktrin ibu Yani pada putrinya.
Bang Igo yang menguping di balik lapak hanya bisa mengelus dada mendengarnya. "Kamu bukan levelku Rida, kamu tidak cukup pintar untuk membuatku tergoda." Gumamnya tersenyum menyeringai.
.
.
.
__ADS_1
.