
Bang Igo bersandar dengan wajah pucat. "Sekarang kamu sudah tau kelemahan terbesar saya. Jika kamu berniat menusuk saya dari belakang.. kamu sudah tau jalannya."
"Siap. Saya tau Dan.. tapi pria sejati pantang menikung. Mulai detik ini saya akan menjaga jarak dengan ibu, saya memahami batasan saya sebagai seorang pria dan saya akan menjaga loyalitas sebagai ajudan komandan..!!" Ucap tegas Prada Fahrul.
"Terima kasih Fahrul."
"Siap.. sama-sama Dan..!!" Prada Fahrul pun merawat Bang Igo.
...
Bang Igo tersenyum melihat karya ajudannya. Bun roti anti gagal untuk hamburger Nai. "Alhamdulillah sudah jadi. Sekarang kamu isi daging, selada, tomat, keju dan lain-lain."
"Ini yang putih apa Dan. Saya geli lihatnya."
"Itu mayonaise. Kamu lahir tahun berapa sampai nggak tau namanya mayonaise?" Kata Bang Igo.
"Oohh.." Om Fahrul menggaruk kepalanya sembari tersenyum, pipinya pun ikut memerah.
"Waahh.. jangan-jangan ngeres kamu ya..!!" Tegur Bang Igo.
"Siap.. tidak Dan..!!" Om Fahrul pun tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia pun menata burger buatannya sesuai arahan Bang Igo.
"Aaahh setan. Saya lagi puasa pikiran mistis nih. Kamu datang malah buat saya keracunan."
:
"Hhhkkkkk.." Nai melihat burger tersebut. Bukannya senang Nai malah mual hebat. "Jauhkan Bang, Nai sudah bilang nggak mau burger lagi. Sekarang kalian yang harus habiskan..!!"
"Haah?" Bang Igo melongo mendengarnya.
"Siap ibu..!!" Jawab Om Fahrul.
~
Kedua pria tersebut menghabiskan masing-masing tiga buah hamburger. Untung saja rasanya enak jadi mereka masih bisa terkikik geli.
"Baang..!!" Suara Nai dari dalam kamar.
"Dalem.."
"Badan Nai sakit semua." Terdengar suara rintih kecil dari dalam kamar.
"Kalau begitu saya pamit saja Dan..!!"
"Ya sudah, terima kasih ya..!!" Kata Bang Igo.
~
"Disini..!!" Tunjuk Nai pada punggungnya.
Bang Igo mengarahkan tangannya untuk memijat punggung Nai. Meskipun dirinya masih belum sehat tapi melihat Nai di sisinya sudah sangat memberi kekuatan tersendiri.
"Bang, kapan Nai dapat mobil sport nya?" Tagih Punai.
__ADS_1
"Oiya ya, Abang sampai lupa. Kamu mau warna apa?" Tanya Bang Igo.
"Warna merah. Tapi Nai boleh balapan nggak? Kemarin Bang Fahrul sudah daftarkan Nai balap mobil."
Mata Bang Igo langsung menatap tajam ke arah Punai. "Apa perlu penjelasan lebih lanjut????"
Nai langsung menunduk. "Daftarnya sebelum menikah sama Abang. Nai memang pengen ikut kejuaraan ini."
"Keadaan hamil dan tidak itu sangat berbeda dek. Hobby mu terlalu berbahaya. Cari saja kesibukan dan hobby yang lainnya asal jangan balap mobil. Asalkan bukan balap mobil.. semua Abang turuti..!!" Janji Bang Igo.
"Beneran Bang??" Tanya Nai tak percaya pendengarannya.
"Iya..!!"
"Ada satu cita-cita yang pengen Nai capai tapi belum kesampaian. Papa melarangnya." Mata Nai berkaca-kaca membuat Bang Igo tidak tega.
"Apa?? Abang yang ijinkan..!!"
"Tawuran Bang, Nai belum pernah merasakan..!!" Jawab Nai tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Seketika Bang Igo mengusap dadanya. "Lailaha Illallah.. di mana mulianya cita-citamu???? Pantas Papa melarangnya. Abang juga tidak akan ijinkan. Semut merah menggigitmu saja Abang marah karena kulitmu bentol. Mana mungkin Abang ijinkan kamu tawuran. Nggak usah mimpi kamu..!!"
"Tuh khan.. Abang memang bohong. Abang nggak cinta sama Nai." Nai menarik selimutnya menutup seluruh tubuh.
"Amit-amit jabang bayiiiiiii.. aku iki preman, kok iso kalah musuh uget-uget..!!!" Gumam Bang Igo kemudian mengacak rambutnya.
Bang Igo menarik nafas panjang lalu membuangnya. "Cithul.. sayaaang..!!" Goda Bang Igo menggelitik pinggang Punai.
"Katanya mau tawuran?? Kita tawuran berdua yuk...!!" Ajak Bang Igo.
Nai membuka selimutnya. "Caranya??"
Bang Igo pun masuk ke dalam satu selimut bersama Nai.
"Aaaaa.. Abaaaang.. geliiiiiii" terdengar suara Nai tertawa di balik selimut bersama Bang Igo.
***
Untuk pertama kali Bang Igo merilekskan diri mencoba untuk mengecup kening Punai. Di tepisnya rasa gengsi dalam diri agar mood sang istri menjadi stabil. Hari ini juga hari pertama Nai mengikuti kegiatan di lingkungan Batalyon.
"Ribut sama Abang saja berani masa berhadapan dengan ibu-ibu disana nggak berani?"
"Nai berani saja, tapi Nai takut salah bicara.. takut Abang kena teguran." Jawab Nai.
"Teguran itu makanan sehari-hari. Lakukan saja sesuai kata hatimu. Selebihnya Abang yang tanggung jawab..!! Nanti khan Abang temani dulu, setelah itu kamu perkenalan sendiri dalam pertemuan rutin."
:
"Selamat pagi.. Danyon, Wadanyon, senior para rekan beserta para ibu sekalian. Mohon ijin memperkenalkan diri.. Saya Lettu Panjer Mas Galigo.. jabatan disini sebagai anggota BP membantu cabang 'pertahanan dan penyelidikan.', saat ini saya bertempat tinggal di asrama satu. Di samping saya ini ada rem cakram milik saya.. Nama lahirnya Galuh Intan Pualani.. sesuai kesepakatan keluarga.. saya jadi ikutan memanggilnya Nai.. jadi saya tidak single lagi, status saya sudah ganda campuran dan insya Allah tujuh bulan lagi launching perdana jentik-jentik yang saya tebar dalam misi rahasia."
Nai melirik suaminya yang sejak semalam terasa begitu menyebalkan. Nai hanya bisa mengurai senyum saat para anggota dan keluarga tertawa terbahak mendengar ocehan random Lettu Igo.
Bu Danyon yang sangat sulit membuka hati dengan sembarang orang pun langsung jatuh hati pada sosok Punai.
__ADS_1
"Cantik sekali istrinya Om Igo." Kata Bu Wadanyon.
"Alhamdulillah dapat dari seleksi alam." Jawab Bang Igo.
"Waahh.. bahagia sekali ya dek dapat sosok hangat seperti Om Igo."
Seketika Bang Igo was-was takut Nai akan kelepasan bicara.
"Sebenarnya........"
Wajah Bang Igo memerah, ia cemas setengah mati sampai memeluk erat agar Nai tidak bicara apapun.
"Saya korban pelet mbak." Jawab Nai dalam pelukan Bang Igo.
Tawa pun kembali mengisi keriuhan satu ruangan.
"Waaaahh.. bahaya Letnan Igo ini" Danyon pun gemas ingin ikut meledek Bang Igo.
"Ijin Danyon.. biar rumah tangga harmonis."
"Yaa.. yaaa.. yaaaa.. hasil peletnya sudah di perut ya Let..!!"
"Siap..!!" Jawab Bang Igo.
:
Kegiatan pun berlanjut pada acara pertemuan arisan rutin. Nai pun di minta memperkenalkan diri secara pribadi dan resmi. Tak jarang banyak ibu-ibu berkasak kusuk melihat cantiknya istri Lettu Igo.
"Yang terhormat ibu ketua cabang, yang terhormat ibu perwira sekalian, ibu-ibu pengurus cabang dan ibu-ibu semuanya. Mohon ijin memperkenalkan diri, saya Galuh Intan Pualani.. istri dari Lettu Panjer Mas Galigo........."
//
"Pantas saja kau sampai membawa istrimu. Cantik begitu, takut hilang ya?" Danyon tak hentinya meledek Bang Igo.
"Bukan Bang, Abang khan tau istri saya sedang hamil. Mana tega saya tinggalkan dia sendirian." Alasan Bang Igo.
"Halaaaahh.. bilang aja lu nggak bisa jauh dari Mila." Celoteh Bang Tarman yang baru saja datang.
Bang Igo menoleh siapa pria yang membuat keonaran. "B*****t.. lambe boyo marai molo"
"Nggak usah sungkan, aku sudah bawa Mila kesini..!!"
"Astaga pot.. istriku nggak tau siapa Milaaa.!!!!!!!" Bentak Bang Igo jengkel, saking emosinya rasa sakit di dada Bang Igo kembali terasa.
"Yaaaa.. yang bener lu????"
.
.
.
.
__ADS_1