
"Mimpi apa? Cepat cerita..!! Jangan sampai karena mimpi, kamu malah lapor Danyon lagi. Abang sudah nggak punya muka di hadapan senior."
Nai mimpi ada siluman kuda, tubuhnya besar, kulitnya gelap, naik di atas perutnya Nai. Dia melebarkan kaki Nai dan itu.. anuuuu... Nai nggak bisa cerita pokoknya pangkal paha Nai sakit sekali" jawab Nai.
Bang Igo sungguh kesal karena dirinya di samakan dengan siluman kuda hitam.
"Makanya kalau mau tidur itu baca do'a, jangan malah ngomel ngoceh nggak jelas. Kamu tau.. penunggu rumah ini sedang melabrakmu..!!" Kata Bang Igo dengan wajah serius. "Jadi semalam kamu dengar apa saja?"
"Kudanya merintih sampai mende*ah. Makanya Nai sedikit gerak biar dia pergi, eehh malam Nai seperti tertusuk benda asing.
"Kamu sih..!! Siapa suruh goyang???? Kudanya jadi ngamuk"
Nai terdiam, tapi tidak bisa ia ungkapkan rasa takutnya. Rasa gengsi lebih besar menutup ketakutan nya.
"Abang beli obat sebentar." Pamit Bang Igo.
"Jangan lama-lama..!!" Kata Nai.
"Hmm."
...
Bang Igo kembali dari klinik kesehatan kecil di Batalyon membawakan Nai salep dan obat. "Nih, cepat pakai. Atau Abang saja yang oleskan?"
Nai menyambar kantong plastik di tangan Bang Igo. "Nggak usah, Nai bisa sendiri."
"Yo wes, terserah mu lah. Abang mau merokok" Bang Igo keluar dari kamar setelah mengambil rokok di meja nakas.
~
Bang Igo duduk memejamkan mata sembari membuang asap rokok dari bibirnya. Ada senyum yang tidak bisa ia uraikan.
__ADS_1
Flashback Bang Igo on..
Punai berjalan masuk ke dalam kamar. Dari sofa Bang Igo melirik Punai yang sedang melepas pakaiannya karena istri kecilnya hanya menutup pintu kamar dengan asal.
Mata itu terus melihat lekuk tubuh Punai. Kulit putih langsat, pinggang ramping.
"Astagfirullah.. kelopo ijone" Bang Igo mengusap wajahnya dengan gelisah. Jika biasanya dirinya akan langsung tertarik untuk mendekati para wanita yang menggoda hatinya, namun kenapa kali ini nyalinya begitu ciut. "Bagaimana caraku merayunya?? Kenapa aku mati akal???"
Hatinya semakin gelisah saja melihat tindik cantik di perut Punai.
"Bisa-bisanya pakai mini dress sebelum tidur. Apa maunya?? Apa dia sengaja memancing naga geni untuk perang?" Gumam Bang Igo. Ekor mata Bang Igo sudah membidik sasaran. Tak hentinya Bang Igo membatin, darimana Nai mendapat und*rw*Ar yang menggoda seperti itu. "Aseeemm.. Joo bojooo"
Beberapa saat kemudian Punai menutup pintu kamarnya. Bang Igo mengacak rambutnya.
***
Suasana sudah sepi. Tak ada tanda Nai akan terbangun dari tidurnya. Bang Igo pun meredupkan lampunya. Ia memandangi tubuh Nai yang telentang tanpa selimut.
"Eghm.." Nai menggeliat saat Bang Igo menyentuh pahanya.
Suara rintihan kecil Nai begitu mengusik naluri tempurnya. Kakinya melangkah mendekati Nai. "Di pakani opo sampai ayu ngene?" Gumam Bang Igo kemudian ia pun membuka paha Nai beralih posisi.
~
Beberapa menit berlalu, Bang Igo sudah jengah karena Nai tak juga bangun meskipun dirinya sudah mengguncang tubuh Nai. "Astagaaaa.. bagaimana sih kamu dek? Di ajak 'ibadah' kok susah sekali."
Akhirnya Bang Igo memberanikan diri dengan bermain biola sendirian. Sekujur tubuhnya menegang sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sembari menekan lembut tubuhnya ia pun menikmatinya hingga Nai menggeliat merespon perlakuannya dan tanpa sengaja.
jllbb..
Bang Igo ternganga sampai meremas kepalanya. "Cckk.. dek, bangun..!!!!"
__ADS_1
"Eeghh" Nai merintih kecil.
Tanpa di duga Nai malah semakin menggeliat dan Bang Igo pun semakin tajam menusuk. Ingin rasanya mengangkat tubuh tapi pengalaman pertama ini sangat mengena di hatinya, ia pun memilih berhati-hati dalam senyap meskipun......
flashback Bang Igo off..
***
"Meskipun mimpi buruk tetap harus mandi..!!"
Nai mengangguk karena sejak kejadian itu dirinya sangat ketakutan hingga akhirnya demam.
"Sudah cepat mandi, Abang tunggu disini..!!" Kata Bang Igo.
Nai pun masuk ke dalam kamar mandi dan Bang Igo benar-benar menunggunya.
~
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Pertama yang ada dalam pandangan mata Bang Igo menatap wajah pucat Punai. Rambut sebahu masih basah oleh air.
"Dek..!!"
Siapa sangka Punai langsung ambruk menubruk Bang Igo.
"Deeekk..!!! Eehh.. piye to iki." Bang Igo panik dan langsung membawa Punai ke dalam kamar. Tangannya mengobrak abrik barang di sekitar untuk mencari ponselnya. "Mana nih ponsel??" Gumamnya kemudian ia mengingat ponselnya berada di sakunya. "Sabar.. sabar Go.. cari nomor......... Aku mau cari nomer siapaaaaaa????"
.
.
.
__ADS_1
.