
"Hhhkkkkk.." Punai semakin tak karuan. "Nai nggak mau mobil. Nai hanya mau tidur.." rengek Nai terlihat begitu tersiksa.
"Abang turuti inginmu, apa saja asalkan kamu mau coba untuk makan. Anak kita lapar, butuh makan."
Nai menggeleng lemah. "Nai pulang saja. Tapi kamar di rumah harus di buat motif angkasa" pinta Nai.
"Iya, Abang siapkan." Kata Bang Igo.
-_-_-_-_-
Setelah meminta ijin dengan pihak rumah sakit, Bang Igo membawa Nai untuk pulang ke rumah.
Bau cat masih sangat kental di dalam kamar Nai. Terus terang ada rasa cemas karena bau cat sangat tajam dan memicu rasa mual kembali datang.
"Kita tidur di kamar tengah dulu ya, kalau baunya sudah hilang baru kita pindah ke kamar depan..!!" Ajak Bang Igo.
"Sekarang saja Bang, Nai pengen tidur."
Mau tidak mau Bang Igo menurut, tak ada yang ia takutkan selain Nai yang terus merasa tersiksa dengan rasa mualnya.
Sungguh ajaib saat masuk ke dalam kamar, rasa mual Nai mendadak hilang dan rasa mual Bang Igo mendadak timbul tanpa sebab.
"Hhhkkkkk.." tangan Bang Igo berpegangan pada bingkai pintu, baru kali ini dirinya merasakan mual melebihi rasa mabuk minuman yang pernah ia rasakan, bahkan lebih parah daripada mabuk darat, laut dan udara. Ia segera memapah langkah Punai agar segera duduk di ranjang kemudian ia pun berlari masuk ke dalam kamar mandi.
~
Disaat Nai sangat suka dengan kamarnya, Bang Igo lah yang tidak bisa melihat kamar dengan motif angkasa plus aroma dari cat membuatnya luar biasa mual.
"Apa sekarang gantian aku yang mual??" Gumamnya.
"Abang nggak tidur??" Nai mencolek lengan Bang Igo.
__ADS_1
"Kamu tidur duluan..!! Rasanya perut Abang nggak enak."
"Nggak enak kenapa?" Tanya Punai.
"Nggak tau, tiba-tiba perut seperti di remas. Kepala rasanya berat, bawaannya mau ambruk saja, mulut juga pengen yang asam." Jawab Bang Igo sulit menjabarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Mata Punai pun juga hanya berkedip tak paham apa yang sedang terjadi pada Bang Igo.
***
"Igo nggak masuk lagi hari ini??" Tanya Danyon pada Kapten Firasat Dewandaru.
"Siap.. tidak tau Bang, nanti saya lihat keadaannya di rumah.. mungkin istrinya Igo masih tidak bisa di tinggal." Jawab Bang Isyad.
"Iya." Jawab Danyon.
...
Sampai melongo Bang Isyad melihat adiknya terus saja mual. Sejak dirinya datang hingga setengah jam berlalu, adiknya itu masih saja tersiksa dengan rasa mual dan muntah yang terasa mencekik.
"Nggak Bang, tapi perutku rasanya di aduk."
"Apa bawaan hamil?" Tanya Bang Isyad.
"Apa yang di bawa Bang?" Bang Igo masih meremas perutnya.
"Maksud Abang kamu yang ngidam. Abang juga pernah tapi tidak parah. Hanya pengen menghirup bau segala kertas."
"Aneh.." jawab Bang Igo.
"Kamu jangan meledek Abang. Apapun bisa saja terjadi."
__ADS_1
Bang Igo tersenyum geli mendengarnya, rasanya sangat aneh dan tidak mungkin jika dirinya sedang menginap.
"Aku ini preman Bang, masa ngidam. Hahahaha..!!!!! Aku hanya belum sempat makan." Ucap Bang Igo di sela rasa tersiksanya.
"Kamu ini................."
Belum selesai Bang Isyad bicara, Bang Igo sudah kembali mual hebat, kakinya bergetar, tubuhnya pun lemas.
"Apa Abang bilang, jangan suka meledek ibu hamil.. kualat kamu Go..!!" Kata Bang Isyad.
"Yang hamil khan Nai, bukan aku." protes Bang Igo.
"Jaga itu mulut ya, kamu yang buat.. jadi kamu juga yang harus tanggung akibatnya..!!" Sambar Bang Isyad.
"Aaahh tahayul Bang"
Bang Igo menepak bahu adiknya. "Terserah lah, yang jelas.. Abang sudah sudah pernah bilang."
.
.
.
.
Maaf atas berkurangnya bab ya..!! Nara belum bisa maksimal menulis😢🙏.
.
.
__ADS_1
.
.