Pesona Dosen Muhammad Attar

Pesona Dosen Muhammad Attar
tidak ada yang lebih nyaman, selain pelukan seorang ayah


__ADS_3

***


Eza dan silvi di interogasi oleh Attar, bagaimana pun juga Attar dosen sekaligus sepupu Eza itu sangat mempermalukan keluarga kalau tadi dosen lain yang melihat mereka.


"tolong jelaskan Eza, kenapa kalian seperti itu di tempat umum bagaimana tadi kalau bukan saya dan Naura yang melihat kalian, itu akan sangat mempermalukan keluarga" ucap Attar dengan tegas.


"maaf pak ini bukan salah Eza, tadi aku, aku yang salah maaf" ujar Silvi menunduk tidak berani menatap wajah Attar.


"bukan kamu yang saya tanyai, tapi Eza" ucap Attar yang tidak mengalihkan pandangannya terhadap adik sepupunya itu.


"maaf kak tadi itu hanya kesalahan, seperti yang Silvi katakan" jawab Eza


"kamu tau kan batasan pria dan wanita seperti apa? saya tidak mau tau kamu harus tanggung jawab, kamu sudah melecehkan anak orang" ucap Attar


Eza dan Silvi menatap Attar secara bersamaan, mata mereka membulat lebar mendengar ucapan dari Attar, sedangkan yang di tatap hanya terlihat biasa saja.


"mas mereka kan sudah menjelaskan tadi, mau tanggung jawab apa lagi" ucap Naura


"kak ini tidak seperti yang terlihat tadi emang benar-benar sebuah musibah, tadi karna Silvi yang menabrak aku ketika aku ingin menariknya keseimbangan tubuhku tidak bisa aku jaga" ucap Eza menjelaskan dan Silvi mengangguk kan kepalanya.


"kamu sebagai pria harus bertanggung jawab Eza" ucap Eza tanpa ingin di bantah sambil menunjuk ke arah adik sepupunya.


"bertanggung jawab bagaimana kak" tanya Eza


"yaa nikahilah" ucap Attar dengan santai.


"nikahi bagaimana orang Silvi sudah punya calon" ucap Eza menunduk.


Naura yang mendengar ucapan Eza menjadi bingung, pasalnya ia tau tentang kedekatan sahabatnya dan Eza tapi kenapa tiba-tiba Eza berbicara kalau Silvi sudah mempunyai calon.


"eeh siapa bilang, aku belum punya calon ya" ucap Silvi dan membuat Eza menatap nya.


"bukan kah kemarin ayah kamu bilang kalau Ferdi adalah calon suami kamu, dan kamu akan menikah sama dia sebentar lagi" ucap Eza


"Makanya dengarkan penjelasan aku, siapa kemarin yang menjauh sama aku, di telvon-telvon nggak di angkat di chat nggak di balas di cariin di kampus nggak pernah ketemu" ucap Silvi dan membuat Eza terdiam.

__ADS_1


"kamu hanya mendengar ucapan dari ayah aku, tapi tidak dengan ucapanku" ucap Silvi


"kamu nggak tau aja aku kaya orang bodoh yang mencari-cari kamu" ucap Silvi


sekarang semua keluhan ia keluarkan sekarang, ia tidak ingat kalau di ruangan itu bukan hanya mereka berdua saja.


Naura dan Attar bagaikan sedang menonton sebuah sinetron mereka tampak asik melihat keduanya.


"maaf ucap Eza" yang meraih Silvi ke dalam dekapan nya. mata Attar dan Naura membulat sempurna tat kalah melihat Eza yang memeluk tubuh Silvi.


"sepertinya yang tadi bukanlah sebuah kesalahan" ucap Attar yang membuat kedua nya tersadar Eza melepaskan dekapannya dan tersenyum kikuk.


"kakak tidak mau tau Eza, kamu nikahi Silvi" ucap Attar


"tapi kak, gimana kalau aku di tolak sama orang tua Silvi" ucap Eza menatap Silvi.


"ishh kan belum ada usaha, gimana sih" ucap silvi menyenggol lengan Eza.


"kamu siapkan semuanya nanti, beritahu keluarga" ucap Attar kepada Eza.


"yasudah kalian boleh keluar, ingat jangan berdua-duaan" ucap Attar menyuruh Eza dan juga Attar.


"Kalian masih mikirin ucapan suami aku ya" tebak Naura dan mendapatkan jawaban anggukan kepala dari keduanya.


"tenang aja pacaran setelah menikah itu bagus bangat loh, bisa bebas mau ngapain aja" ucap Naura sambil senyum-senyum.


"ishh bukan itu masalahnya wahai Kaka ipar" ucap Eza


"lalu apa masalahnya bukannya kalian saling suka dan punya perasaan masing-masing" tanya Naura


"dan yaa Silvi aku mau nanya, kenapa bisa tadi kamu bilang kalau ayah kamu akan menikahkan kamu sama Ferdi" tanya Naura kepada Silvi


"nah itu dia Nau, aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba si Ferdi datang ke rumah aku, dan aku juga menolak tegas sama ayah untuk tidak akan menikah dengan Ferdi, aku sudah terlanjur nyaman dan cinta sama Eza" ucap Silvi menunduk malu.


"terus apa lagi yang kalian bingungkan" tanya Naura dan keduanya menggeleng tak tau.

__ADS_1


"sudahlah kalau gitu nanti aja kalian bahas, ayo kita ke kelas sebentar lagi masuk" ajak Naura kepada Silvi dan meninggalkan Eza.


***


selepas dari kampus Eza langsung ke rumah nya untuk memberitahu kan niatnya untuk melamar Silvi kepada kedua orang tua nya, setelah beberapa hari berfikir dan bertemu kembali dengan Silvi membuat tekadnya untuk mengikat Silvi sudah menjadi bulat.


Eza sangat senang tat kalah niat baiknya untuk menikah muda mendapatkan restu yang baik dari kedua orang tuanya, ia lalu menghubungi Silvi dan memberitahukan bahwa malam ini dia dan kedua orang tuanya akan berkunjung ke rumahnya. dan setelah itu menghubungi kakak sepupunya kalau ia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya dan meminta Attar dan Naura untuk berkunjung bersama malam ini.


niat Attar dan juga Naura untuk ke rumah ibunya di urungkan karna setelah mendapatkan telvon dari adik sepupunya.


"kita ke rumah ibu besok aja ya, ini Eza nelvon minta di temanin katanya" ucap Attar dan Naura hanya mengangguk.


Silvi memberanikan dirinya untuk memberitahukan kepada kedua orang tuanya bahwa malam ini keluarga Eza akan berkunjung.


"kenapa harus bersama keluarga nya" tanya ayahnya


"nggak tau yah, Eza cuman bilang gitu tadi" ucap Silvi yang berpura-pura tidak tau.


"itu pria yang kamu maksud" tanya ayahnya


"pria mana ayah" tanya Silvi yang tidak mengerti dengan ucapan ayahnya.


"Eza pria yang kamu maksud itukan, itu sebabnya kamu menolak tegas niat baik dari Ferdi, padahal dia itu pria yang baik dan juga anak pengusaha kaya" ucap ayahnya


"Iyah ayah, ayah itu nggak tau gimana Ferdi aku yang kenal dia lebih lama dari ayah dan dia itu bukan pria yang baik" ucap Silvi


"emangnya kalau kamu menikah sama si Eza, Eza punya apa bisa bahagiain kamu" tanya ayahnya dan membuat Silvi diam.


selama dekat dengan Eza Silvi memang tidak mencari tau Eza itu seperti apa keluarga nya juga seperti apa, karena ia tipe yang malas pusing dengan hal-hal itu kalau menurutnya itu nyaman buat dirinya ya dia ngejalanin aja.


"kenapa kamu diam saja, kamu nggak tau mau jawab apa kan" tanya ayahnya.


"tapi ayahnya aku yakin kok bisa bahagia sama Eza" ucap Silvi


"terserah kamu, itu sudah menjadi hak kamu untuk memilih pasangan hidup mu ayah tidak akan melarang kamu, asal kamu benar-benar yakin kalau bersamanya kamu akan bahagia" ucap ayahnya dan membuat Silvi tersenyum bahagia

__ADS_1


melihat senyum putrinya yang tampak sangat bahagia ayah Silvi menarik putrinya ke dalam dekapan nya, Silvi benar-benar merasa nyaman di dalam dekapan sang ayah.


"putri ayah sudah dewasa sekarang" ucap ayahnya sambil mencium keningnya.


__ADS_2