Pesona Dosen Muhammad Attar

Pesona Dosen Muhammad Attar
kemegahan pernikahan Silvi


__ADS_3

setelah hampir satu Minggu mereka mempersiapkan untuk persiapan pernikahan, besok merupakan hari bahagia untuk Eza dan juga Silvi.


"Mas kira-kira kita kasih kado apa ya sama Eza dan Silvi" tanya Naura yang tengah besandar di bahu suaminya.


"terserah kamu saja, mau kasih kado apa nanti mas kasih kamu uangnya" jawab attar sambil fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya


"Apa kita belikan saja mereka tiket haneymon ke Bali, kan seru tu" ucap Naura membayangkan


"nggak, jangan yang itu kita saja belum pernah honeymoon" tolak Attar


"gimana kalau kita honeymoon nya barang-barang kan bagus tuh jadi rame" ucap Naura sambil tersenyum


"itu namanya bukan honeymoon, beri saja mereka hal yang bisa untuk di kenang" ucap Attar.


"ishh haneymon ke Bali juga sesuatu yang akan bisa di kenang mas, mereka bisa melakukannya disana dengan suasana Bali yang indah" ucap Naura ia sambil membayangkan lalu tersenyum.


"bilang saja kalau sebenarnya kamu yang ingin haneymon ke Bali, libur semester kita kesana ya kan libur semester nggak sampai sebulan lagi" ucap Attar mencium kening Naura


"Benar nih mas" tanya Naura dengan tersenyum dan di jawab anggukan kepala oleh Attar


"kalau gitu aku ke kamar duluan ya, aku tungguin mas" ucap Naura dengan menggigit bibirnya seolah-olah menggoda suaminya Attar yang melihatnya dibuat tidak fokus oleh sang istri.


"Kamu sudah berani ya menggoda mas" ucap Attar lalu buru-buru menutup laptopnya dan menyusul istrinya di dalam kamar ia tidak menemukan keberadaan Naura karena Naura sedang berada di dalam walk-in closet.


untuk pertama kalinya Naura memakai sebuah lingerie yang di hadiakan oleh sahabatnya waktu pernikahannya tapi ia belum berani memakai pakaian itu di hadapan Attar, Naura menatap dirinya ia bergidik ngeri dengan apa yang ia lakukan sekarang padahal itu untuk suaminya.

__ADS_1


"sayang" panggil Attar yang sudah menunggu istrinya tidak kunjung keluar, mendengar suara Attar Naura menjadi dag Dig dug ia melangkah keluar dengan menunduk, Attar yang sedang duduk di kasur meneguk salivanya ketika melihat pemandangan yang pertama kali ia melihat istrinya memakai pakaian seperti itu untuk menyambut nya.


Naura berjalan mendekati Attar dengan sedikit melangkahkan kakinya Attar yang melihat itu sudah tidak sabar lalu berdiri meraih istrinya dan membaringkan dan menindih tubuh istrinya selanjutnya hanya mereka yang tau apa yang terjadi.


***


hari ini adalah hari pernikahan Eza dan Silvi hampir satu Minggu mereka mengurus mulai dari fitting baju yang dilakukan di butik Naura, pengecekan gedung dan juga beberapa undangan mereka hanya mengundang teman seangkatan masing-masing.


Silvi di temani oleh ibunya karena dirinya yang sedang di dandanin, Silvi meminta make up nya yang natural saja tapi karena di dalam kamar itu ada sang ibu akhirnya ia harus mengikuti ucapan ibunya yang mau anaknya terlihat sangat wao, karena menurutnya ini ada sekali seumur hidup untuk anaknya maka nya ia ingin anaknya terlihat cantik. sebenarnya meskipun tanpa di make up wajah Silvi sudah cantik dan juga manis.


"ibu aku rasa ini lipstik nya terlalu merah" protes Silvi sambil menatap dirinya yang sudah selesai di make up oleh sang perias yang pernah merias Naura waktu menikah.


"ini hari spesial kamu, warna merah menandakan suatu keberanian dan juga kamu terlihat sangat cantik dengan warna itu, Iyah kan mba" tanya ibunya kepada sang perias.


perias tersebut hanya mengangguk tanda mengiyakan, sedangkan Eza sedang berada di kamar lain mereka di rias di kamar yang berbeda.


"maa sya Allah" gumam Silvi setelah melihat Dekorasi pernikahannya yang sangat mewah, tidak tanggung-tanggung ternyata dua keluarga itu mengundang para kerabat dekat maupun yang jauh, serta teman-teman seangkatan Silvi dan Eza juga sudah berada ditempat.


Naura yang melihat kemegahan pernikahan Silvi membuat dirinya ingin menikah ulang dan ingin mengundang teman-teman nya, ia menyesal dulu waktu pernikahannya tidak mau mengundang teman-teman nya.


Naura yang merasakan kegugupan sahabatnya menepuk-nepuk punggung tangan Silvi mencoba menenangkan nya


"rileks, nggak boleh gugup" bisik Naura


"siapa yang gugup, orang cuman nervous aja kok" elak Silvi yang membuat kedua wanita di sampingnya itu tertawa.

__ADS_1


"emangnya nervous sama gugup beda Sil" goda ibunya


"iih ibu sama Naura sama aja deh" ucap Silvi cemberut.


"jangan gitu nanti cantiknya luntur" ucap Naura tersenyum.


Silvi melangkah maju secara perlahan diruangan khusus tempat untuk ijab kabul, disana sudah ada keluarga dua bela pihak yang menunggu tapi sayangnya ibu Eza tidak bisa hadir.


di sisi lain Eza menggenggam erat tangan Attar, ia bertambah menjadi gugup kalah melihat Silvi masuk dan melangkah dengan sangat anggun dan terlihat sangat berbeda sekarang, karena make up nya membuat dirinya terlihat lebih dewasa dan juga cantik.


"apa waktu kak Attar ijab kabul, menjadi gugup juga seperti ku" tanya Eza dan mendapat jawaban gelengan kepala dari Attar.


"kak ini benaran aku benar-benar gugup, aku takut jangan sampai salah ucap" bisik Eza merasa cemas.


"apa mau aku menggantikanmu? lumayan kan bisa punya istri dua" ucap Attar bercanda


"Yee enak aja, bini sudah berbadan dua mau cari lagi yang kedua" sergah Eza dan mendapatkan pukulan kecil di bahunya


"hanya bercanda, aku sangat mencintai istriku tidak mungkin aku menduakannya" ucap Attar


silvi datang dan di tuntun duduk di samping Eza oleh Naura dan juga ibunya, Eza langsung menatap Silvi tanpa berkedip melihat wanita yang berada di hadapannya ini sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Eza sampai deg degan, tapi saat mata mereka bersitatap Eza mengyakinkan diri untuk menjadi suami yang layak, lalu mulai mengatur nafasnya dan mendengar arahan dari pak penghulu.


setelah kedua mempelai menjawab pertanyaan dari pak penghulu bahwa mereka siap membina rumah tangga sehidup semati dan menerima segala kekurangan dari masing-masing, ayah Silvi menjabat tangan Eza hanya dengan satu kali tarikan nafas Eza mampu mengucapkan ijab kabul.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap semua yang berada di situ ketika kata sah di ucapkan oleh pak penghulu.


para tamu menyalami kedua pasangan suami istri itu dan juga tidak lupa mereka memanjatkan doa, teman-teman Silvi tidak terfokus ke arah para pengantin melainkan fokus menatap ke arah Attar dan juga Naura karena Naura yang sangat menempel bak perangko kepada Attar, mereka mulai menerka-nerka apakah mereka saudara atau mempunyai hubungan spesial mereka tidak berani menanyakan hal itu.


__ADS_2