Pesona Dosen Muhammad Attar

Pesona Dosen Muhammad Attar
kepergian orang tua Naura


__ADS_3

Bagai ditarik paksa ruh dari badan dan bagai di hempaskan ke dasar jurang, Seluruh aliran darah Naura seolah terhenti, tubuhnya merosot jatuh karena tidak bisa menopang tubuh nya Semua oksigen terasa lenyap, dadanya semakin sesak. Air mata yang semula tak ada kini membanjiri wajahnya.


Silvi tidak tau apa yang terjadi dengan Naura, Silvi mencoba mengangkat tubuh Naura dan belum berani menanyakan apa yang terjadi, dirinya memeluk sahabatnya dan ikut merasa sakit melihat Naura yang menangis seperti ini.


"kenapa Nau, ada apa? kamu jangan nangis kaya gini" ucap Silvi air matanya juga ikut mengalir mendengar Naura semakin sesegukan.


Attar yang mendapatkan kabar dari sang ayah berlari cepat menuju kelas istrinya, betapa sakit perasaan Attar melihat istrinya yang sedang menangis ia sudah menduga kalau istrinya pasti sudah mendengar kabar, Silvi yang melihat kedatangan Attar melepaskan pelukannya kepada Naura, mendekati istrinya dan mendekapnya menguatkannya, Silvi hanya melihat mereka dan masih terus menangis ia tidak tau apa yang sedang terjadi pada mereka tapi Silvi bisa merasakan keterpurukan dari sahabatnya.


"Gak gak gak gak mungkin!" rancau Naura Otaknya tetap menyangkal segala kemungkinan yang sudah terjadi.


"Kamu harus sabar ya sayang" ucap Attar meciummi wajah istrinya.


"nggak mungkin bunda sama ayah secepat itu ninggalin aku, nggak mungkin" ucap Naura memukul dada suaminya.


"deg!.... Silvi terpaku mendengar ucapan Naura.


"ayah, bunda Naura nggak bisa di tinggal kalian berdua" rancau Naura bahkan jilbab yang ia pakai sudah terlepas.


Silvi menghubungi suaminya, dan memberikan kabar, Eza yang mendengar kabar langsung menuju kelas istrinya dan melihat Attar yang sedang memapah Naura dan Silvi yang mengikuti mereka.


"Kita ke rumah sakit" ucap Silvi dan Eza mengangguk.


mobil melintasi jalanan dengan kecepatan cepat, tapi Naura merasa Attar menjalankan mobilnya dengan sangat lambat. sampai di parkiran Naura berlari menuju sebuah ruangan melewati kerumunan dan orang orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit dengan berderai air mata.


Sebisa mungkin ia menguatkan hati, menyiapkan diri untuk kemungkinan yang selalu di sanggah nya.


"Ayah bundaaa" teriak Naura dengan berderai air mata sungguh Attar yang melihat istrinya merasakan sakit


"Ayah bund-aa" ucap Naura tercekat. Bahkan kerongkongannya terasa sakit.


ibu dan juga ayah Attar yang sudah berada di sana, ibu Attar memeluk menantunya.

__ADS_1


"ikhlaskan ya nak" ucap ibu Tangis Naura semakin pecah di pelukan ibu mertuanya.


"Ikhlas, kata yang akan selalu di ucapkan orang sebagai kata bela sungkawa atas terjadinya musibah.


"Mengapa? Mengapa aku di paksa ikhlas untuk sesuatu yang tak di ingin kannya terjadi.


Seseorang keluar dari ruangan kedua orang tuanya Dia dokter yang menangani bunda dan ayahnya, Naura menoleh dan mereka yang ada disitu menatap dokter mereka meminta penjelasan pada sang dokter.


Dengan perasaan campur aduk, dokter menatap kedua orang itu tatapan sendu. Sorot matanya berubah sayu.. Seolah menyesali perbuatannya yang tak mampu menyelamatkan pasiennya.


"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan, karena pendarahan pada otak membuat keduanya kehilangan banyak darah" ucap dokter.


Dengan berat hati dokter mengucapkan kalimat yang menyakitkan bagi keluarga pasien. Naura mendekat Sorot matanya menajam, tanpa pikir panjang Naura menarik kerah baju dokter itu. Dokter hanya diam ia sudah tahu apa yang bakalan terjadi, sebab ini bukan kali pertama ia mengumumkan kematian pasiennya.


"Apa yang anda lakukan, Hah?! Periksa lagi ayah dan bunda saya!" teriak Naura memenuhi koridor rumah sakit dengan air mata yang mengalir tanpa bisa di tahan.


Dokter hanya diam, ia membiarkan Naura yang masih mencengkram kerah bajunya. Dari sorot mata Naura bisa di lihat berbagai macam perasaan tercampur aduk di sana. Naura yang lemah lembut seolah lenyap dalam dirinya dan di ganti dengan sosok Naura yang kasar dan sarkas.


"Naura cukup!" Attar berusaha menarik nya dari sana.


"Dia pembunuh mas, dia pembunuh" ucap Naura yang menyalakan dokter.


"Maaf, saya hanya dokter manusia biasa, Ini di luar kendali saya, Tuhan yang punya rencana" ucap dokter membuat Naura semakin terisak, Attar meraih istrinya dan menenangkan nya, menyuruh istrinya untuk ikhlas, Naura semakin berontak berlari masuk ke dalam ruangan dimana Bunda dan ayahnya terbaring.


melihat Naura yang masuk ke dalam dokter meninggalkan mereka Dalam langkahnya tanpa sadar dokter menitikkan air matanya. Ia tahu betul bagaimana sakitnya kehilangan orang yang paling berharga dan paling di sayang sudah tak ada lagi di dunia ini.


Attar menyusul istrinya masuk ke dalam tubuh Naura seketika ambruk, melihat wajah kedua orang tuanya yang terbaring pucat, untung saja Attar sigap menopang tubuh istrinya. Mata Naura sayu seperti tak ada sorot kehidupan di sana.


"sayang, istighfar Ini sudah ketentuan dari Allah" ucap Attar


"Kamu harus sabar ini, ini ujian yang di berikan Allah" timpal ibu mertuanya yang baru masuk, Naura diam, Suara Attar semakin jauh ia dengar penglihatannya semakin memburam. Dalam hitungan detik Naura tak sadarkan diri, membuat Attar panik ia mengangkat tubuh istrinya dan keluar Silvi dan Eza yang melihat Naura di angkat oleh Attar menjadi panik dan mendekati nya.

__ADS_1


"Naura kenapa pak" tanya Silvi,


"pingsan" ucap Attar sambil membawa Naura salah satu perawat yang melihat Attar mengangkat Naura mengarahkan ke dalam ruangan, Attar masuk dan membaringkan istrinya membiarkan perawat tersebut memeriksanya sembari menunggu dokter.


"bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Eza yang sudah tidak sabar"


"sebaiknya jangan membuat nya terlalu banyak pikiran, karena dia sedang hamil, takut kandungan nya kenapa-kenapa" ucap dokter yang baru memeriksa Naura.


***


sore setelah sholat ashar, kedua orang tua Naura di kebumikan, Orang orang yang ikut mengantar ke peristirahatan terakhir kedua orang tuanya berlangsung meninggalkan tempat pemakaman.


Naura menatap nanar gundukan tanah yang baru siap di gali dengan papan nisan bertulisan nama ayah dan juga bundanya Di sana sudah ada suaminya, kedua mertuanya, Silvi Eza dan juga teman-teman serta saudara dari kedua orang tuanya.


Naura duduk sambil menangis memeluk gundukan tanah yang masih baru itu, ibu mertuanya datang mendekat dan langsung memeluk menantu nya yang sudah di anggapnya sebagai anak perempuannya sendiri.


"Sabar ya sayang. Kamu harus kuat jangan terlalu menangisi kepergian mereka kasian, pasti bunda sama ayah kamu juga tidak ingin meninggalkan kamu tapi ini sudah menjadi ketetapan Allah" ucap ibu mertuanya.


Sejak ia sadarkan diri dan berteriak menyangkal akan kepergian Bunda dan ayahnya Hingga saat proses memandikan, mangkafani, mensolatkan sampai menguburkan tak henti hentinya


Naura menangis, meraung meratapi kepergian kedua orang tuanya.


Dunianya terasa berhenti, di hentikan secara paksa Kembali Naura rasakan sakitnya.


"Ayo kita balik sayang" ucap Attar dengan lembut.


"mas duluan aja, kalian duluan saja aku masih ingin disini menemani bunda dan juga ayah" ucap Naura.


"sayang kamu harus bisa ikhlaskan kepergian Bunda sama ayah, ingat juga bayi kita kamu jangan sampai stres tolong kamu harus bisa bangkit, masih ada kehidupan untuk kamu lanjutkan" ucap Attar sambil memapah istrinya berdiri, setelah mendengar ucapan dari suaminya Naura sedikit tenang dan ikut pulang.


"Di balik setiap kesedihan, terdapat kebahagiaan. Serahkan segala urusan kepada Tuhan. Biarkan waktu dan kehidupan berjalan"

__ADS_1


__ADS_2