
melihat kemegahan pernikahan sahabatnya, membuat Naura merasa bangga dan juga bahagia sepanjang acara senyum nya tidak pernah lepas. Attar yang melihat istrinya yang dari tadi terlihat sangat bahagia dirinya kini merasa bersalah kepada istrinya, karena pernikahan mereka yang tidak dilakukan secara besar-besaran dan mengundang banyak orang.
"sepertinya kita harus mengumumkan pernikahan kita" bisik Attar membuat Naura menatapnya.
"maksudnya mas" tanya Naura
"Iyah kita adakan resepsi ulang, dan mengundang teman-teman kamu agar mereka tau kalau kita ini suami istri, apa kamu tidak sadar teman-teman kamu dari tadi tidak terfokus ke arah pengantin melainkan ke arah kita, dan itu pasti membuat mereka bertanya-tanya" ucap Attar membuat Naura menggelengkan kepalanya.
"Nggak nggak, buang-buang uang tau biarkan saja mereka berfikiran seperti apa, biar nanti aku beritahu mereka" jawab Naura.
kedua pengantin terlihat sangat bahagia dan juga acara telah selesai, hanya ada beberapa keluarga yang masih berada di situ, Naura dan Attar sudah lama balik setelah mengucapkan selamat dan juga memberikan sebuah kado kepada Eza dan Silvi, karena Naura sedang hamil tidak baik kalau pulang nanti terlalu malam.
kini waktunya Silvi untuk ikut pulang bersama suaminya, ia memeluk ibunya dan juga ayahnya meminta maaf karena selama ini ia kurang patuh dan selalu berbuat ulah.
"ibu, ayah maafkan Silvi ya, Silvi selama ini selalu membuat ibu sama ayah marah" ucap Silvi
"Iyah ibu sama ayah bersyukur kamu sudah menikah jadi tidak akan ada lagi yang mengganggu ibu sama ayah kalau lagi sedang berduaan" ucap ayahnya yang bercanda dengan putrinya sambil tersenyum.
"sepertinya kalian merasa sangat bebas ya sekarang" ucap Silvi cemberut dan melepaskan pelukannya.
"tidak sayang ayah hanya bercanda" ucap ayahnya yang kembali meraihnya kedalam pelukannya.
"ingat kamu itu sudah jadi seorang istri, jadi harus bisa masak dan juga melayani suami dan patuh kepada suami, dan satu lagi ubah sifat kamu yang tidak pernah mau di salahkan itu" ucap ibunya menasehati, Silvi hanya ngangguk-ngangguk saja.
Eza dari tadi hanya memperhatikan interaksi kedua orang tua dan putrinya, melihat begitu besar rasa sayang kedua orang tua Silvi kepada putrinya membuat Eza bertekad untuk tidak akan pernah membuat istrinya tersakiti, ayah Silvi beralih menatap Eza lalu memeluk pria yang sudah menjadi suami dari putrinya.
"Eza jangan pernah sakiti putriku. Jika seandainya kelak kamu merasa bosan dan tidak lagi mencintainya, maka kembalikan dia pada ayah. Selama tanganmu tidak ikut andil, papa tidak akan marah. Dia putri ayah satu-satunya, dia harapan ayah selama ini ayah bekerja keras untuk kebahagiaan nya, semoga
dengan bersamamu, dia akan mendapatkan apa yang belum didapatkan dari ayahnya." Ucap
ayah Silvi.
__ADS_1
Eza menganggukkan kepalanya dengan yakin, ia lalu menatap Silvi sebelum akhirnya kembali menatap ayah mertuanya.
"Aku janji ayah, Aku akan selalu membuat Silvi bahagia, tidak akan pernah menyakitinya dan akan berusaha memberikan apa yang belum di dapatkannya. Aku tidak akan pernah membiarkan setetes air mata kesedihan di wajah istriku." Balas Eza dengan mantap.
ayah Silvi dan ibu Silvi senang mendengar ucapan menantunya, ia merasa lega memberikan putrinya pada pria seperti Eza dan semoga selamanya akan seperti itu.
Silvi pun tak kalah tersentuh mendengar ucapan sang ayah dan suaminya, ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan kedua orang tua yang sangat menyayangi nya serta suami seperti Eza
"Hiks ... ayah !!!" Rengek Silvi beralih memeluk sang ayah dengan sangat erat
ayah Silvi tersenyum, namun tak ayal matanya menunjukkan air mata kebahagiaan. Ia bahagia melihat putrinya telah menikah, namun ia juga sedih karena kini Silvi harus berjauhan dengan mereka.
setelah kedua orang tua Silvi pulang, Silvi di ajak pulang bersama kerumah Eza, Eza memilih untuk tinggal dulu bersama kedua orang tuanya walaupun sebenarnya ia sudah mempunyai rumah di dekat showroom nya, tapi dirinya belum mau meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah tua apa lagi ibunya yang sakit.
"Silvi mulai sekarang rumah ini adalah rumah kamu juga, anggap ayah sebagai ayah kamu jangan canggung canggung" ucap ayah mertuanya dan Silvi mengangguk sembari tersenyum.
"kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, di sini ada beberapa pelayan" ucap Eza
Eza menggenggam tangan Silvi dan berjalan membawahnya ke lantai atas di mana kamar mereka berada, detak jantung Silvi sekarang berpacu sangat cepat ia membayangkan bagaimana dengan malam pertama mereka, Eza merasakan tangan Silvi yang ia genggam terasa dingin lalu menatap wajah Silvi.
"apa kamu sakit" tanya Eza sambil mendekatkan wajahnya menatap Silvi.
"ti-tidak" ucap Silvi benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya sekarang ketika di tatap oleh suaminya dengan jarak yang sangat dekat.
"Masa sih, kenapa tangan kamu terasa sangat dingin" ucap Eza mengangkat tangan Silvi yang ada di genggaman nya tanpa mengalihkan wajahnya dari wajah Silvi.
"be-benaran nggak kenapa-kenapa" ucap Silvi sedikit mendorong tubuh Eza dan membuka pintu kamar.
"Ini kan kamarnya" tanya Silvi yang berusaha mengubah kegugupan nya.
karena merasa sangat gemmes Eza menarik tangan Silvi dan masuk ke dalam dekapannya mendorong pintu dengan kakinya agar tertutup, lalu mencium lama di kening istrinya Silvi tidak berani untuk menatap wajah Eza ia menutup matanya tidak bisa menetralisir perasaannya yang sudah seperti pacuan kuda, Eza mengecup singkat bibir nya Silvi yang merasakan bibirnya di kecup membuka matanya dan mendapati Eza sedang tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1
"a-aku ingin membersihkan diri dulu" ucap Silvi mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Eza
"kita mandi berdua" ucap Eza membuat mata Silvi membulat sempurna
"bercanda sayang" ucap Eza tersenyum.
"jangan seperti itu Eza, aku lebih terbiasa dengan sifat kamu yang sok cool" ucap Silvi.
"itu karna dulu kita belum halal, makanya aku nggak berani kalau sekarang kan sudah sah" jawab Eza sambil tersenyum
"sudahlah aku mau membersihkan diri dulu, kamar mandinya dimana" tanya Silvi karena kamar Eza yang sangat besar, Eza menunjukkan kamar mandi setelah itu Silvi masuk ke dalam kamar mandi dan keluar ketika sudah selesai membersihkan dirinya.
"kamu nggak mau mandi" tanya Silvi yang sudah selesai membersihkan diri berjalan melangkah ke arah Eza.
melihat rambut Silvi yang masih basah karena keramas membuatnya terlihat cantik, Eza bahkan tidak berkedip sedikitpun berdiri dan menarik pinggang Silvi, ia sudah tidak bisa lagi menahan nya sebagai seorang pria yang berada di dalam kamar berdua dengan wanita apa lagi itu halal baginya, Eza menciumi wajah Silvi lalu beralih ke leher, baru akan hendak mencium bibirnya tiba-tiba handphone Eza berbunyi ada sebuah panggilan masuk.
Eza tidak mengangkat hanya membiarkan handphone bunyi sampai panggilan itu berhenti, tapi lagi-lagi handphone nya berbunyi dan itu membuat Silvi melepaskan dirinya dari dekapan Eza.
"Kamu angkat dulu siapa tau itu penting" ucap Silvi yang melihat layar handphone Eza tertera nama Fany, Eza terpaksa mengangkat panggilan dari Fany dengan menyalakan louspikernya agar Silvi mendengar juga ucapan Fany.
"hallo Eza, selamat ya atas pernikahan kamu, maaf aku nggak bisa datang tadi karena jujur za, aku cinta sama kamu perasaan aku sama kamu sudah sangat lama, tapi sayangnya cinta itu tidak mendapatkan balasan, aku hancur za mendengar kamu bersanding dengan wanita lain, semoga pernikahan kamu bahagia ya" ucap Fany dan membuat Eza menatap lekat wajah Silvi.
Silvi yang mendengar ungkapan cinta dari Fany membuat Silvi menjadi panas dan merasakan sesak di dadanya. Silvi memilih keluar dari kamar itu, melihat Silvi yang berlari keluar Eza berdiri mengejarnya.
"maafkan aku za yang memberitahukan perasaanku kepada kamu, tapi aku hanya ingin kamu tau kalau aku mencintaimu aku tutup ya" ucap Fany mematikan panggilan nya.
Eza berusaha membujuk Silvi dan menjelaskannya kalau ia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Fany, ia juga tidak tau ternyata Fany selama ini menyukainya.
Silvi mengikuti Eza yang mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar, mengingat mereka tinggal bersama mertuanya sangat tidak enak kalau mereka di lihat sedang bertengkar.
Silvi berbaring dengan membelakangi dirinya, Eza yang tau Silvi masih marah berusaha memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"jangan marah dong, kan sudah kamu yang menjadi pemilik hati ini" ucap Eza sambil menghirup aroma tubuh Silvi, tapi Silvi hanya cuek dan berusaha memejamkan matanya. Eza yang mendengar deru nafas sang istri membuatnya harus menahan diri untuk malam ini dan berusaha untuk tidur.