
setelah kepergian Naura dan Attar mahasiswa yang berada di dalam ruangan itu, melayangkan tatapan tak suka kepada Aleta dan juga teman-teman nya.
"Keluar sana" ucap mereka, Aleta dan teman-temannya keluar setelah di usir oleh teman-teman Naura.
"pantas saja kemarin waktu pernikahan silvi Naura sama pak Attar bergandengan terus" ucap mereka yang merasa sedih sudah tidak ada lagi harapan untuk mengenal lebih dekat Dosen mereka.
mereka semua menatap Silvi dengan tatapan yang tidak bisa Silvi artikan.
"ngapain kalian menatap aku seperti itu" tanya Silvi yang sibuk mengatur buku-bukunya dan juga buku Naura.
"kenapa Naura tidak mengundang kami waktu pernikahan mereka, sejak kapan mereka menikah" tanya salah satu dari mereka kepada Silvi.
"ada alasan kenapa Naura tidak mengundang kalian, mereka menikah sudah hampir 3 bulan, Naura juga sedang hamil apa kalian tidak melihat perubahan badannya" jawab Silvi.
"kalian harus belajar ikhlas ya, cepat-cepatlah mencari supaya tidak jomblo terlalu lama" ucap Silvi yang mengejek teman-temannya.
"yeee mentang-mentang sudah nikah nih ya, berdosa tau menghina yang jomblo" ucap Fatin.
"eeh ngomong-ngomong udah di unboxing gak nih" tanya Reva dengan blak-blakan.
"astagfirullah mulut kamu tuh harus di filter juga ya, jangan cuman muka yang di pakein filter" ucap Fatin dan membuat seisi ruangan itu tertawa.
"Yee filter di ciptain kan untuk muka, emang ada filter diciptain untuk ucapan" ucap Reva.
"Sudah-sudah aku duluan ya" pamit Silvi beranjak keluar..
***
"kenapa tadi mas tiba-tiba muncul lagi di kelas aku" tanya Naura yang sedang berada di ruangan suaminya.
"tadi Silvi mengirimkan pesan sama mas lewat handphone kamu" ucap Attar, Naura membuka handphone dan benar saja ternyata sahabat nya itu mengirimkan pesan kepada suaminya, benar-benar sangat bisa di andalkan. baru saja di omongin Silvi sudah mengetok pintu ruangan Attar, Attar berdiri untuk membukanya.
"maaf pak Naura di dalam kan" tanya Silvi dan Attar menganggukkan kepalanya.
"masuk" ucap Attar.
"siapa mas" tanya Naura yang menyusul suaminya.
"Ooh Silvi, masuk Sil" ajak Naura
"nggak Nau, aku cuman bawain ini tas kamu, aku mau nyusul Eza dulu" ucap Silvi menyodorkan tas Naura, Naura menerima nya.
__ADS_1
"Yaudah aku duluan ya" pamit Silvi
Naura berdiri mendekati suaminya yang masih sibuk di depan laptopnya, Naura sangat bosan berada berdua di dalam ruangan suaminya tapi serasa sendiri karena Attar yang sibuk dengan laptopnya.
"Mas aku pulang aja ya" ucap Naura, Attar menarik tangan istrinya dan kembali lagi melihat-lihat laptopnya.
"tunggu sebentar lagi ya, mas selesaikan yang ini dulu baru kita pulang sama-sama" ucap Attar. Naura mengangguk lalu ikut duduk di pangkuan suaminya entah kenapa Naura menjadi manja sekarang, Attar hanya membiarkan istrinya duduk di pangkuan nya yang sama sekali tidak merasa terganggu.
"Ada apa hmm, kenapa jadi manja seperti ini" ucap Attar mengecup sekilas bibir istrinya lalu kembali lagi mengerjakan pekerjaannya.
"Mas, harus kasih lulus aku sama Silvi ya, aku nggak mau mengulang lagi mata kuliah kamu" pinta Naura membuat attar tersenyum.
"sudah mas duga, pasti lagi ada maunya" ucap Attar mencolek hidung istrinya.
"ya mas ya, nanti aku kasih hadiah deh buat mas" ucap Naura yang melingkar kan tangannya di leher sang suami.
"mas mau minta hadiahnya sekarang boleh" tanya Attar membuat Naura mengernyitkan dahinya.
"Emangnya mas mau minta hadiah apa? asal itu tidak berat aku akan melakukannya sekarang" jawab Naura
tangan Attar mulai menjalar kemana-mana, menyadari hal apa yang suaminya itu inginkan sekarang Naura beranjak cepat dari duduknya.
"kalau mas mintanya yang itu ya di rumah aja, jangan disini" ucap Naura yang terduduk kembali di pangkuan suaminya karna Attar menariknya.
"kalau begitu boleh dong mas nyicil dulu, sedikit aja" ucap Attar yang mengecup pipi istrinya.
"boleh, asal nilai aku sama Silvi tinggi" ucap Naura yang menawarkan negosiasi, Attar tidak menjawabnya melainkan mencium kembali bibir sang istri.
"oke mas selesaikan ini, setelah itu kita pulang" ucap Attar yang sudah tidak sabaran.
"mas aku mau ke kantin, aku lapar mas mau di belikan apa" tanya Naura.
"minuman saja" jawab Attar.
Naura berjalan melewati beberapa mahasiswa yang menatapnya dengan tatapan aneh. Naura berhenti di depan wanita-wanita yang menatap tak suka ke arahnya, mereka adalah senior-seniornya yang satu jurusan.
"Ada apa, kenapa kalian menatapku seperti itu" tanya Naura yang sudah tidak tahan untuk menanyakan kenapa bisa ia di tatap seperti itu seolah-olah dirinya telah membuat suatu kejahatan.
"Perut Lo ko kaya sedang hamil, Lo hamil ya" tanya mereka.
"kalau Iyah kenapa" tanya Naura yang semakin mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat.
__ADS_1
"ciih hamil diluar nikah Lo" cibir salah satu dari mereka.
"kayanya kalian nggak punya pekerjaan selain nyinyirin orang, kalian mau kerja di rumah aku nggak, mumpung aku dan mas suami sanggup ngasih gaji buat kalian" ucap Naura yang membuat para wanita itu terdiam mereka saling menyenggol satu sama lain.
"Lo udah nikah" tanya mereka.
"kenapa? sewot amat jadi orang" ucap Naura berlalu meninggalkan mereka
"kalian yakin dia udah nikah" tanya salah satu dari mereka, mereka menggeleng tak tau.
"kok ada ya orang-orang kaya gitu, suka bangat ngurusin hidup orang aku aja nggak kenal sama mereka" ucap Naura yang terus berbicara sendirinya.
sesampainya di kantin lagi-lagi tatapan ke arahnya sangat aneh, kali ini Naura sudah malas pusing biarkan saja mereka berbicara tentang dia, to dia tidak akan di rugikan yang ada dirinya akan mendapatkan pahala.
"kalian tau ternyata mahasiswi itu istri dari dosen yang ganteng itu" bisiknya sambil matanya ia arahkan ke Naura.
"haa Lo seriusan, benaran istrinya" tanya nya lagi dan mendapat jawaban anggukan kepala.
"Iyah gue nggak heran sih, secara Naura kan cantik" ucap salah satu teman cowok mereka.
"waa waa loh bahkan tau namanya tuh cewe, jurusan apa sih dia" tanya Carolina
"Gue nggak tau dia jurusan apa, tapi gue tau kalau dia seangkatan sama kita" jawab mereka sambil terus menatap Naura yang sedang memesan makanan.
"hushhh jangan di lihatin terus" ucap Fauzan memperingatkan teman-temannya.
"Naura Lo disini" tanya Silvi dan Eza yang baru datang Naura mengangguk lalu berbalik menatap ke arah meja Carolina dan teman-teman nya.
"ada apa Nau, mereka ngejulidtin kamu ya" tanya Silvi yang mengikuti arah pandang Naura.
"disini banyak mahasiswa yang gak punya pekerjaan ya, selain ngurusin hidup orang, heran aku" ucap Naura yang mengambil pesanannya lalu berpamitan kepada Silvi dan Eza untuk keruangan suaminya.
disaat Silvi dan Eza sedang menikmati makanan mereka, tiba-tiba Fany datang dan menyapa mereka lebih tepatnya menyapa Eza, mendengar itu Silvi mendongakkan kepalanya dan menatap Fany tak suka.
"Selamat ya Silvi, Silvi kan nama kamu" ucap Fany yang berbasa-basi tapi tidak mendapatkan jawaban dari Silvi.
"gue boleh duduk disini nggak, boleh ya" ucap Fany, Eza baru akan mengiyakan terhenti karna Silvi.
"masih banyak kursi kosong dan juga meja yang kosong kenapa harus duduk disini" ucap Silvi sambil menunjuk kursi kosong yang tidak jauh dari mereka, akhirnya Fany mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Jangan kayak gitu, dia kan cuman ingin duduk" ucap Eza membuat Silvi melayangkan tatapan tajam kearah nya.
__ADS_1