
Silvi pulang lebih dulu meninggalkan Eza, dengan menggunakan taksi ia sama sekali tidak suka dengan Eza yang menyalakannya hanya karena dirinya tidak ingin Fany duduk bersama mereka, sepanjang jalan Silvi terus menangis membuat sopir taksi itu menjadi kasihan, lalu memberikannya tissue.
"hiks... makasih" ucap Silvi menerima tissue yang di berikan lalu kembali lagi melanjutkan tangisnya. sopir taksi yang masih muda itu di buat tersenyum oleh tingkah Silvi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"aku baru Nemu wanita yang seperti ini" gumam sopir taksi.
"putus cinta ya Mbah" tanyanya dan Silvi menggeleng.
"terus apa yang membuat nangis" tanya nya lagi.
"kok kepo sih mas" ucap Silvi yang tak suka membuat pria itu terdiam.
"emang ya semua laki-laki itu sama aja, dulu aja kalau belum mendapatkan usahanya mati-matian sekarang sudah di dapatkan malah biasa-biasa aja" ucap Silvi yang masih terus terisak.
"mbak jangan menjustifikasi kan seperti itu, laki-laki tidak semuanya sama" ucap laki-itu yang mengajak Silvi untuk berdebat.
"sama aja, turunkan aku disini" ucap Silvi yang menjadi jengkel juga dengan laki-laki itu, ia keluar setelah memberikan ongkos, berjalan sambil terus mengomel yang tidak menyadari mobil suaminya sedang berada di belakangnya, Eza mengklakson mobilnya tapi Silvi sama sekali tidak menyadarinya.
Eza menepikan mobilnya dan turun menghampiri istrinya.
"ngapain kamu disini" tanya silvi yang jengkel, Eza hanya diam dirinya tau bahwa ia salah.
"Kamu kalau suka sama Fany, bilang, kenapa malah nikahin aku" ucap Silvi semakin deras air matanya.
"nggak Silvi, aku minta maaf ya tidak seharusnya aku kaya tadi" ucap Eza yang meraih Silvi ke dalam pelukannya.
"perempuan seperti itu yang akan merusak hubungan kita, kalau kamu memberikannya sebuah peluang" ucap Silvi.
"Iyah Iyah aku salah, aku minta maaf ya, kita pulang sekarang" ucap Eza mengajak Silvi masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
malam menyapa dua insan yang sedang berada di ruang tamu Naura melamun sambil berbaring di paha suaminya, dibuat tersadar karena benda kenyal yang menempel di bibirnya dan itu adalah perbuatan Attar.
"mas tau tidak, tadi aku sewaktu berjalan ke kantin banyak yang menatapku dengan tatapan tak suka, itu pasti dari fans-fans kamu, apa lagi sekarang mereka sudah tau aku ini istri kamu" ucap Naura yang terlihat gusar.
"jangan memikirkan hal-hal itu, nanti jadi beban pikiran, kasian bayi kita belum lahir aja sudah di buat banyak pikiran" ucap Attar sambil mengelus perut istrinya.
"tapi mas, kalau Naura di apa-apain gimana" tanya Naura.
"hushh itu namanya sudah suudzhon sayang, kamu tidak akan di apa-apa kan" ucap Attar menenangkan sang istri Naura hanya mengangguk sembari memejamkan matanya.
baru saja menutup mata Attar berdiri dan mengangkat tubuh istrinya.
"Mas mau ke mana" tanya Naura melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
"meminta hadiahku, sekaligus menengok putraku" ucap Attar padahal ia belum tau jenis kelamin anak mereka. membuat pipi Naura memanas ia benar-benar telah salah memberikan sebuah tawaran kepada suaminya, dirinya hanya bisa pasrah lagian juga kan pahala nyenengin suami.
mereka melakukan aktivitas yang sangat panjang, dengan Attar yang bermain sangat lembut.
Eza menyelimuti tubuh istrinya yang tertidur, terlihat sangat cantik dengan rambut yang berantakan Eza mengecup kening Silvi lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi dan kembali keluar setelah membersihkan dirinya,
Eza masuk diam-diam ke dalam selimut dan memeluk Silvi, tidak ingin mengganggu istrinya yang tertidur kecapean karena ulahnya.
pagi yang dingin karena hujan yang menerpa, membuat kedua pasangan suami istri itu malas untuk melakukan aktivitas. Attar membangunkan istrinya dengan sangat lembut, karena hari ini adalah ujian tengah semester nya Attar tidak akan membiarkan istrinya itu untuk tidak masuk kampus.
Naura hanya mengeliat lalu memeluk kembali bantal gulingnya, Attar menghela nafasnya karena Naura yang sangat susah untuk di bangunin, karena Naura yang tidak ingin bangun akhirnya Attar mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkan di bathtub. Naura hendak protes tapi mulutnya tertahan karena Attar menciumnya.
"mandi, atau kita mengulang yang semalam" ancam Attar
Naura masih terus menguap dan merenggang kan otot-otot nya mencoba memperbaiki perasaannya, lalu menatap suaminya.
"Mas ganteng bangat sih" puji Naura sambil tersenyum padahal ini masih pagi tidak biasanya Naura memuji dirinya membuat Attar mencurigainya.
__ADS_1
"mas tau, pasti kamu lagi ada maunya kan" selidik Attar tapi Naura menggeleng dan malah menarik suaminya untuk ia cium.
"Aku nggak usah mandi ya, ini dingin sekali" pinta Naura, sudah Attar duga kalau istrinya itu sudah mulai manja pasti ada maunya.
"sayang, badan kamu pasti lengket" ucap Attar dengan lembut.
"harus mandi lagian hari ini kamu ada kuliah kan, mas juga hari ini ada jadwal di kelas lain" ucap Attar.
mereka menghabiskan waktu hampir satu jam di dalam kamar mandi, dan mengulang kegiatan mereka yang semalam. Attar menuntun istrinya untuk duduk di meja rias mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut istrinya, Naura terus menatap wajah suaminya dari pantulan cermin sambil tersenyum.
"Mas takut nggak sih kalau misalnya aku pergi" tanya Naura membuat Attar menghentikan kegiatannya dan menatap istrinya dari cermin.
"maksud kamu" tanya Attar yang tidak tau arah ucapan dari istrinya.
"misalnya nih mas, aku ada apa-apa terus ninggalin kamu, kamu takut nggak" tanya Naura, Attar menyorotnya dengan sangat tajam.
"kenapa kamu berbicara seperti itu, mas tidak suka mendengar ucapan kamu yang seolah-olah ingin meninggalkan aku" ucap attar.
"issh misalnya Lo mas, kan misalnya" ucap Naura lagi.
"kamu pagi-pagi mau membuat masalah ya" ucap Attar yang meninggalkan nya memilih masuk ke dalam walk-in closet dan keluar kembali setelah menggunakan pakaian nya sedangkan Naura sama sekali belum beranjak dari depan meja rias.
"kenapa belum siap-siap" tanya attar yang mendekatinya. Naura berbalik dan menatap wajah suaminya.
"mas belum menjawab pertanyaan aku tadi" ucap Naura yang membuat emosi Attar naik tapi dirinya berusaha untuk menahannya.
"kenapa kamu menanyakan hal yang sudah jelas-jelas kamu tau jawabannya" ucap Attar
"jawaban apa? mas bahkan belum menjawab apa-apa tadi" ucap Naura Attar menarik Naura untuk menghadapnya menatap nya dengan sangat lekat, menarik pinggangnya mengikis jarak di antara mereka berdua.
"jangan mempertanyakan tentang hal itu, sudah pasti mas akan gila kalau kamu meninggalkan aku, dan ini masih pagi jangan membuat-buat bahan untuk bertengkar" ucap Attar mengecup singkat bibir istrinya lalu menuntunnya masuk ke dalam walk-in closet agar segera bersiap-siap untuk ke kampus.
__ADS_1
Naura bertanya seperti itu karena takut akan dirinya yang bermimpi sebuah cahaya putih yang seolah-olah menyuruh Naura untuk mengikuti nya, dan tidak berani menceritakan kepada suaminya.