
***
"Mas bisa tolong tarikkan ini" ucap Naura membelakangi suaminya dan memperlihatkan punggungnya, melihat punggung istrinya yang sedang berada di hadapannya Attar bukannya menaikkan resleting baju istrinya ia malah iseng menurunkan resleting baju istrinya.
"Mas bukan di turunin, tapi di naikin ishh gimana sih" ucap Naura protes berbalik menatap suaminya yang menampakan senyumnya.
"kita nggak usah ke rumah Silvi ya" ucap Attar yang mengusap punggung istrinya.
Naura yang merasakan tangan Attar mulai menjalar kalau tidak di hentikan pasti bisa-bisa mereka tidak akan ke rumah Silvi benaran yang ada hanya akan menuju ke tempat lain, Naura membalikan badannya dan menatap wajah suaminya dengan intens.
"nggak boleh gitu mas, Eza nelvon kamu karna dia ngehargai kamu sebagai kakak jadi kita harus ke rumah Silvi" ucap Naura yang meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim.
"ayo bantu aku selesaikan ini" ucap Naura kembali membalikan badannya.
bukannya bergerak untuk membantu Naura Attar malah membalikkan tubuh istrinya dan memeluknya
"sebenarnya mas malam ini sangat tidak ingin untuk keluar setelah kamu menggoda ku" ucap Attar lalu perlahan tangannya menaikkan resleting baju istrinya.
"siapa yang menggoda mas" ucap Naura.
"ya kamu lah sayang, masa bi Siti" ucap Attar mengangkat wajah Naura lalu mengecup sekilas bibir yang sudah menjadi candu baginya.
"itu karena mas nggak kuat imannya, masa cuman lihat punggung aja sudah kaya gitu gimana kalau semuanya" ucap Naura geleng-geleng
"semuanya juga sudah mas lihat kali" ucap Attar mencolek hidung istrinya
"sudah ayok, kita berangkat nanti kalau berlama-lama di kamar bisa-bisa mas benaran nggak tahan" ucap Attar menggandeng tangan istrinya lalu berjalan keluar menuju mobilnya.
"huu iman lemah bangat" cibir Naura
Eza mengirimkan sebuah pesan kepada Attar bahwa orang tuanya tidak bisa ikut, karena mengingat kondisi ibunya yang memang sudah sakit-sakitan dan ayahnya juga sudah pasti tidak bisa karena menjaga istrinya, meskipun mereka berkecukupan ayah Eza tidak ingin istrinya di rawat oleh orang lain selain dirinya. akhirnya mau tidak mau Eza berangkat sendiri.
mobil Attar berjalan dengan instruksi dari istrinya karna rumah sahabat istrinya itu ia tidak tau.
"setelah ini belok kemana" tanya Attar
"jalan aja dulu, nanti di ujung sana baru belok" ucap Naura yang fokus menatap layar handphone nya.
"belok dimana sih ini sayang" tanya Attar karena ia sama sekali tidak tau mau belok kemana sedangkan ini jalanan yang lurus tanpa adanya pembelokan.
__ADS_1
"di depan sittuuu" tunjuk Naura
"astagfirullah kok bisa di jalan sini sih mas" ucap Naura ia celingak celinguk melihat ke kanan dan kirinya.
"ini kan arahan dari kamu, mas cuman ngikutin saja, jadi ini gimana" tanya Attar.
"belok lagi aja, kenapa nggak bilang sih dari tadi" protes Naura yang menyalakan Attar.
"ini juga arahan dari kamu loh sayang" ucap Attar
"tapikan mas nggak tanya beloknya kiri apa kanan" jawab Naura yang tidak mau di salahkan.
"Iyah Iyah mas deh yang salah, bumil selalu benar kok" ucap Attar.
Attar sangat tidak ingin berdebat dengan istrinya, karna ia sudah tau bagaimana sifat Naura kalau sudah merasa benar ia tidak akan pernah mau di salahkan, yang ada kalau Attar tanggapi ia takut jangan sampai membentak istrinya seperti kejadian waktu itu.
mendengar ucapan dari suaminya Naura tersenyum puas, sedang Attar hanya mengusap wajahnya dan kembali ke jalanan yang mereka lewati sebelum tiba-tiba handphone nya berbunyi tanda sebuah pesan chat masuk.
Attar melihat handphone nya ternyata itu adalah pesan chat dari Eza.
"kakak dan Naura sudah dimana" isi pesan chat dari Eza bukannya membalas Attar malah menghubungi Eza.
"Iyah ini baru saja, tapi aku nggak berani masuk kak" ucap Eza padahal ini bukan pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Silvi tapi hari ini ia merasa sangat gugup karena akan menyampaikan niat baiknya.
"kamu itu pria, sebagai seorang pria harus bisa mempertanggungjawabkan dirinya, sudah sebentar lagi kakak tiba" ucap Attar lalu mematikan panggilan telvon nya.
"Eza sudah sampai mas" tanya Naura dan mendapatkan jawaban anggukan dari suaminya.
Silvi yang sedang membantu ibunya menyiapkan makanan untuk menyambut keluarga Eza, memberhentikan pekerjaan nya
karena mendengar suara mobil, ia keluar untuk menyambut Eza dan juga keluarga nya, tapi sayangnya setelah Eza membuka mobilnya dan keluar menghampiri tidak ada lagi orang lain yang keluar dari mobil tersebut.
"maaf ya aku hari ini datang nya di temani oleh kak Attar dan juga Naura" ucap Eza yang menjawab kebingungan Silvi yang dari tadi celingak-celinguk melihat terus ke arah mobilnya.
"ooh gitu ya, ibu sama ayah kamu kenapa nggak ikut" tanya Silvi yang sedikit kepo.
"ibu sudah lama sakit-sakitan dan ayah nggak bisa ikut karena beliau tidak ingin meninggalkan istrinya"ucap Eza dan Silvi hanya mengangguk
"maaf ya" ucap Eza
__ADS_1
"apa sih za, Iyah nggak papa kok kenapa juga harus minta maaf, semoga ibu cepat sembuh ya" ucap Silvi
"aamiin" ucap keduanya
"terus pak Attar sama Naura mana" tanya Silvi
"Ooh sebentar lagi sampai" ucap Eza dan benar saja baru saja ia mengucapkan kata itu mobil Attar sudah terlihat memasuki halaman rumah Silvi.
"Panjang umur bangat dua pasangan ini, baru aja di omongin udah muncul aja" ucap Silvi
Attar dan Naura keluar dan menghampiri Eza dan juga Attar, Silvi membungkukan badannya tanda untuk menghormati Attar karna sebagai dosennya.
"Ayo Nau, pak masuk" ajak Silvi
"Hanya Naura sama kak Attar aja nih yang di suruh masuk" ucap Eza
"aiishh maksud aku kamu juga ikut masuk, ayo" ucap Silvi dan Eza tersenyum.
setelah masuk ke dalam rumah Silvi rasa gugup kembali hadir dalam diri Eza, apa lagi setelah menuju ruang tamu sudah ada ayah dan juga ibunya Silvi, Eza berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup.
"biasa aja, jangan tegang begitu" ucap Attar menepuk pundak adik sepupunya itu yang memang Attar sadari dari tadi raut wajah Eza terlihat gugup.
"kak ngagetin aja" ucap Eza mengelus dadanya dan hanya di balas senyuman oleh Attar.
"assalamualaikum" ucap Attar
"wa'alaikumussalam silahkan duduk" ucap ibu silvi mempersilahkan
"waa ini suami kamu Nau? maaf ya Tante sama om kemarin nggak sempat hadir di pernikahan kamu" ucap ibu Naura
"Iyah Bu nggak papa kok, Silvi juga bilang kemarin kalau ibu sama om nggak bisa hadir" jawab Naura.
"eeh silahkan di minum dan dimakan kuenya, ini Silvi yang buat" ucap ibu Silvi
uhuk uhuk uhuk Naura terbatuk mendengar ucapan ibu Silvi Attar menyodorkan sebuah gelas berisi air minum
"ada apa" tanya Attar Naura menggeleng saja sedangkan Silvi sudah tau apa penyebab Naura terbatuk seperti itu, ia pasti sedang mengejeknya karna selama ia bersahabat dengan Naura Silvi tidak bisa buat kue selain makan.
setelah berbasa basi kini Eza memberanikan diri untuk memberitahukan niat awalnya ke rumah Silvi dengan membawa keluarga nya meskipun hanya Attar dan Naura.
__ADS_1
"sebelumnya saya minta maaf om, Tante, jadi kedatangan saya kemari bukan untuk mengajak Silvi keluar jalan-jalan, tetapi untuk melamar Silvi, saya sadari saya bukan pria sempurna tapi saya berjanji akan bisa membahagiakan putri Om" ucap Eza.