
Hari ini Steve tidak masuk ke kantor.
Nadia juga, namun dia telah mengirim surat izin pada ibu Mulia, dititipkan pada Jacob.
Sebenarnya surat izin seperti itu tidak terlalu penting apalagi jika ada hubungannya dengan Steve. Tapi tetap saja Nadia memaksakan diri untuk membuatnya, dia masih ingin bersikap secara profesional jika menyangkut pekerjaan.
Ya sudah, Steve tidak bisa menghalangi keinginan sang calon istri. lagi pula Apa yang dilakukan oleh Nadia itu bukanlah sebuah kesalahan.
Dalam surat izinnya tersebut Nadia mengatakan jika ada hal penting yang sangat mendesak.
Mereka berdua melaksanakan rencana yang sudah disusun semalam. Yaitu menemui kedua orang Steve untuk memperkenalkan Nadia.
Setelah mengantarkan Zayn ke sekolah mereka langsung menuju ke kediaman kedua orang tua Steve.
Bangunan rumah mewah tersebut membuat Nadia makin tak percaya diri. Dia selalu merasa kecil, apalagi mengingat statusnya yang seorang janda anak 1.
Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Aku tidak boleh malu dengan apa yang aku punya. Zayn adalah harta paling berharga dalam hidupku. Batin Nadia.
Dia putuskan untuk tidak murung ataupun malu, bagaimana pun ini adalah takdir yang harus dia hadapi.
__ADS_1
Andai ada penolakan, Nadia akan sangat memahami itu. Tapi bukan berarti dia akan merendahkan dirinya sendiri.
Apalagi menyangkut Zayn, tak ada yang boleh merendahkannya.
Meski jantungnya berdegup kencang, namun Nadia menunjukkan wajahnya yang telah siap untuk bertemu kedua orang tua Steve.
Dia bahkan menolak saat Steve ingin menggenggam erat tangannya. Mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Perkenalkan Nyonya, Tuan, nama saya adalah Nadia," ucap Nadia, memperkenalkan dirinya dengan sopan saat mereka semua telah bertemu di ruang tengah rumah megah tersebut.
Richard ayahnya Steve tersenyum, sementara Fenny ibunya Steve memandang penampilan Nadia sesaat memperhatikan dengan lekat dari atas sampai bawah, setelah itu barulah dia tersenyum.
Wajar saja jika Steve menaruh hati pada wanita ini, jika dilihat-lihat Nadia dan mendiang mantan istrinya Steve memang ada sedikit kemiripan. Kesederhanaannya, suaranya yang lembut dan wajah teduh.
"Jangan sungkan seperti itu Nad, panggil saja mama dan papa, seperti Steve memanggil kami," terang mama Fenny.
pertemuan yang Nadia kira akan berlangsung dengan menegangkan ternyata bisa cair dalam waktu yang tak begitu lama.
Apalagi sepanjang pertemuan itu mereka lebih banyak membicarakan tentang Zayn, membuat Nadia bisa banyak bicara.
__ADS_1
Fenny bahkan mengatakan bahwa dia akan mengurus semua persiapan pernikahan mereka.
Sebuah pembahasan yang membuat kedua mata Nadia mendelik. karena sebenarnya dia dan Steve pun belum terlalu banyak membicarakan tentang hal itu tapi mama Fenny malah seolah lebih banyak tahu dibandingkan dia.
Dan Nadia tidak bisa membantu ataupun menolak yang bisa dia lakukan hanya iya-iya saja.
Jam setengah 10 mereka berdua pamit untuk pergi karena harus menjemput Zayn.
ketika sudah berada di dalam mobil, Nadia langsung saja memukul lengan pria di sampingnya ini, yang sudah duduk di kursi kemudi.
Plak!
"Aw, kenapa memukul ku Nad?"
"Kenapa mama Fenny sudah membicarakan tentang pernikahan, bahkan sudah menentukan tanggalnya juga. padahal kita belum membahas apapun."
Steve tersenyum mendengar gerutuan calon istrinya tersebut.
"Sengaja agar kamu tidak punya cara untuk kabur dariku."
__ADS_1
"Steveeeee!"
Nadia mencebikkan bibirnya, Bagaimana bisa dia kabur dari pria ini jika Steve selalu menjeratnya dengan hal yang indah-indah.