
Aslan kira setelah berpisah dari Nadia dia bisa mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, karena telah berhasil mencampakan wanita paling tidak berguna seperti dia.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Aslan malah seperti tidak memiliki wajah di depan mata istrinya tersebut.
Nadia bukan hanya mendapatkan penggantinya yang lebih baik, tapi Aslan pun jadi malu sendiri memperistri Cindy.
Tak ingin semakin sesak mendengar pembicaraan di antara Nadia dan Devi akhirnya Aslan pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Suasana kantor ini kini jadi terasa sangat tidak nyaman bagi Aslan dan Cindy, mereka memang selalu bersama tapi kini justru terlihat seperti sedang perang dingin.
Tak ada lagi kemesraan seperti dulu, tak ada lagi hasrat yang menggebu.
Aslan bahkan merasa dia telah mati rasa, tak ada minat sedikitpun untuk menyentuh Cindy. Wanita yang kini jelas-jelas adalah istrinya sendiri.
Dulu mereka selalu bisa melakukan percintaan di manapun, namun sekarang semua terasa menggebu itu seolah telah hilang.
Diganti hambar.
Tidak mungkin tuan Steve benar-benar menikahi Nadia, ku pikir itu hanya hubungan sesaat. Batin Aslan.
Kini dia tengah duduk di kursi kerjanya, ruangan yang sepi membuatnya selalu memikirkan tentang hubungan Nadia dan Steve.
__ADS_1
Perbedaan kasta yang sangat jelas, rasanya tak mungkin jika Steve dengan sukarela menikahi Nadia, bahkan Nadia tidak sendiri, masih memiliki tanggung jawab Zayn.
Dipikirnya Steve hanya ingin bersenang-senang saja, tak ada sedikitpun niat untuk serius.
Seperti itulah yang diyakini oleh Aslan.
Sore hari ketika jam pulang kantor tiba.
Steve dan Jacob mendatangi ruang kerja Nadia.
Datangnya sang Direktur Utama beserta asistennya, seketika membuat seluruh karyawan admin terkejut. Ibu Mulia bahkan langsung bertanya-tanya kenapa dua pria itu mendatangi ruangan ini.
Nadia juga sama terkejutnya, meskipun dia tidak ada niat untuk menyembunyikan hubungan mereka, tapi Nadia pun belum siap rasanya jika harus terang-terangan seperti ini.
tetap saja ada sedikit perasaan takut di dalam hatinya, takut orang lain tidak bisa menerima hubungan ini dan menganggap dialah yang lebih dulu menggoda hanya untuk menikmati harta pria tersebut.
"Nad, pekerjaan mu sudah selesaikan?" tanya Steve, dia sudah berdiri di samping meja kerja Nadia.
Devi mendelik matanya ketika melihat dan mendengar pertanyaan sang Boss.
Kenapa interaksi di antara Nadia dan Steve terlihat sangat dekat.
__ADS_1
Deg deg! jantung Devi bahkan sampai berdegup, gugup, takut dan antusias ingin tahu.
"Su-sudah Tuan," balas Nadia gagap, kan bingung mau panggil Steve dengan sebutan apa jika kondisinya begini.
dan akhirnya Nadia pilih untuk memanggil dengan sebutan Tuan.
Steve tersenyum kecil.
"Kalau begitu ayo kita pulang."
"Ba-baik," jawab Nadia lagi.
setelah mengambil tas kerjanya Nadia pun segera pamit lebih dulu kepada Devi.
"Dev, Aku pulang dulu ya," pamitnya dengan sangat canggung, sementara Devi hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban, sementara mulutnya tak bisa bicara ketika di depan direktur utama.
Steve lantas mengandeng tangan sang calon istri.
Dan saat itu juga Devi rasanya ingin jatuh pingsan.
"Astaga, astaga astaga, apa yang sudah aku lewatkan? ya Tuhan, apa mereka menjalin hubungan? Kyaa!! Nadia!!!" gemas Devi, dia jadi heboh sendiri saat Nadia, Steve dan Jacob pergi.
__ADS_1
Beberapa karyawan pun segera bergerombol untuk membicarakan hal tersebut.