
Jam 1 siang sepasang suami istri itu baru keluar dari dalam kamar mereka, Steve tersenyum lebar sementara Nadia sedikit menunduk malu-malu.
Jika ingat apa yang sudah dia lakukan di dalam kamar tersebut Nadia jadi malu sendiri, Entah dari mana dia mendapatkan semua keberanian itu, tapi di hadapan Steve tadi dia benar-benar tapi kan seperti wanita penghibur.
"Aku akan pura-pura lupa tentang tadi," ucap Steve, seperti berbisik. Dan hal itu justru membuat Nadia makin malu dibuatnya.
Reflek, Nadia memukul lengan Steve dengan kuat.
Sampai menimbulkan suara Plak! yang cukup jelas.
"Awh, jadi ingat tadi saat aku memukul bokong mu," ucap Steve.
"Sayaaang!!" geram Nadia.
Steve tertawa terbahak, rumah yang biasanya sangat sepi karena hanya dihuni oleh seorang pelayan kini mendadak jadi gaduh.
Diantara langkah mereka menuju meja makan, tawa Steve itu masih setia terdengar.
Makan siang telah tersaji dan mereka hanya tinggal menikmati.
Steve tidak mau makan sendiri, jadi siang itu mereka makan sepiring berdua dengan Nadia yang selalu menyuapi dia.
Selesai makan, Nadia memutar duduknya dan menghadap ke arah sang suami.
__ADS_1
Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan, cukup serius untuk memulai rumah tangga mereka yang baru.
"Sayang ... aku mau tanya, nanti ... kamu maunya aku tetap bekerja atau di rumah saja?" tanya Nadia.
Perpisahannya dengan Aslan memang Menimbulkan trauma yang membuatnya ingin menjadi wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada siapapun.
Tapi setelah Nadia pikir-pikir sikap seperti itu hanya akan membuat hatinya jadi keras, sementara semakin hari dia pun ingin mengabdi sepenuhnya kepada sang suami.
Sungguh, Nadia ingin jadi istri yang terbaik untuk Steve.
sebagaimana pria ini selalu memperlakukannya dengan baik.
mendengar pertanyaan itu Steve tidak langsung menjawabnya dia lebih dulu tersenyum, lalu mengangkat tangan kirinya dan membelai lembut Wajah kami itu, merapikan rambut panjang Nadia ke belakang pundak.
"Sebenarnya itu semua terserah kamu sayang, tapi aku cemas jika tetap bekerja kamu akan kekurangan waktu bersama Zayn, belum lagi ketika kita punya anak kedua nanti," jelas Steve dengan lembut, dia tidak ingin memaksakan kehendak Nadia.
Dan jawaban Steve itu makin membuat Nadia yakin untuk berhenti bekerja, dia akan jadi seperti dulu sebagai ibu rumah tangga.
"Baiklah, kalau begitu besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan," balas Nadia.
"Kamu yakin?"
Nadia mengangguk dengan bibirnya yang tersenyum lebar. ketika dia menikah dengan Aslan, Nadia telah melakukan segala cara yang terbaik untuk bisa jadi istri sempurna, namun Aslan memang tidak pernah menghargai semua usahanya itu.
__ADS_1
Jadi kini Nadia pun akan melakukan hal serupa, percaya pada Steve bahwa dia tidak akan seperti Aslan.
"Besok pagi kita datang bersama-sama di kantor dan aku akan mengajukan pengunduran diri, nanti aku pulang sendiri sekaligus menjemput Zayn, ya?" tanya Nadia dengan antusias.
Steve tersenyum melihat semangat istrinya itu.
"Deal," balas Steve.
Nadia yang kegirangan langsung memeluk sang suami, mencium leher Steve dengan lembut.
Merasakan jelas saat Steve memeluk pinggangnya dan di delapan erat.
Nyaman sekali.
Siang itu setelah mendapatkan semua barang penting yang Nadia cari, mereka berdua pun pulang.
Di dalam ruang kerja Steve, Nadia membuat surat pengunduran diri.
Steve tersenyum-tersenyum saja melihat sikap istrinya itu, padahal sebenarnya Nadia perlu membuat surat itu, dengan kuasa Steve sebenarnya Nadia bisa keluar masuk semaunya.
"Sayang, ini sudah benar belum?" tanya Nadia, menunjuk ke arah laptop.
Steve yang sedang duduk di sofa dan membaca buku segera menghampiri sang istri, Nadia yang kini duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Benar, ini sudah cukup," jawab Steve.
Sebenarnya itu sedikit salah, tapi untuk Nadia semuanya jadi benar.