
Hari berlalu.
Kemarin Cindy terus menunggu kedatangan Nadia ke kantor, tapi ternyata wanita itu tidak datang. Malah ibu Mulia mengatakan bahwa Nadia tidak masuk dan izin.
Cindy merasa geram sekali, pasalnya dia butuh seseorang untuk melampiaskan semua kekesalannya.
Tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Aslan tentang rumah itu yang jatuh ke tangan Nadia, Cindy tetap bertekad untuk mendapatkan rumah itu untuknya.
Dia akan terus menekan Nadia dan membuat wanita itu menyerahkan rumah tersebut padanya.
"Awas saja kalau wanita itu hari ini tidak datang juga ke kantor, apa dia pikir kantor ini miliknya? cih! benar-benar benalu, sudah bekerja masih saja bersikap tidak profesional. Izin izin, memangnya izin apa?!" geram Cindy, tak sudah Sudah-sudah dia mengumpat Nadia.
Kini hanya Nadia lah pusat dari semua kekesalannya.
Sementara itu di tempat lain.
Steve dan Nadia baru saja mengantarkan Zayn ke sekolah.
__ADS_1
Kata Steve mulai sekarang dia yang akan selalu menjemput anaknya itu pulang sekolah. Lagipula di kantor, Steve adalah boss-nya, jadi tidak ada masalah sedikitpun jika dia memiliki jadwal baru untuk menjemput Zayn.
Pagi itu, Steve juga meminta Jacob untuk datang ke rumahnya. Steve memperkenalkan secara resmi sang asisten sekaligus sahabatnya itu pada Nadia dan Zayn.
Nadia yang memang sudah mengenal asisten Jac pun semakin gugup saja, perubahan status ini benar-benar membuatnya kikuk.
Asisten Jac juga mengemudikan mobil mereka saat ini. Setelah mengantar Zayn, mereka putuskan untuk langsung pergi ke kantor.
sebenarnya ada yang ingin Nadia sampaikan kepada Steve, tentang mereka yang tidak usah pergi bersama-sama, biar saja Nadia turun lebih awal.
jadi sejak tadi, Nadia terus menggigit bibir bawahnya sendiri seraya terus melirik Steve yang ada di sampingnya.
Mereka berdua duduk di tengah.
"Kenapa sayang?" tanya Steve, dia selalu peka jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Nadia, tapi wanita itu bingung untuk bicara.
Dan pertanyaan itu benar-benar membuat Nadia merasa lega, karena akhirnya dia punya kesempatan untuk menyampaikan keinginannya.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kita pergi sendiri-sendiri saja? Bagaimana kalau ada karyawan yang lihat kita datang bersama?" tanya Nadia lirih, bicara pelan seolah takut di dengar oleh asisten Jac.
Steve tersenyum kecil, dia tahu jika Nadia canggung karena ada Steve di sini. Tapi tak apa, Nadia memang harus membiasakan ini semua.
Kelak Nadia pun harus terbiasa saat Steve menciumnya meski ada asisten Jac.
"Tidak mau, kita akan tetap pergi bersama-sama ke kantor. lagi pula aku memang tidak berniat untuk menyembunyikan hubungan kita, biar saja mereka tahu." jawab Steve.
Dan Deg! jantung Nadia makin berdegup mendengar jawaban itu.
Tenang Nad, kata Rima aku harus bangga, aku harus kuat, aku harus mengangkat wajah di hadapan Aslan dan Cindy, termasuk tentang hubungan ini. Jadi benar kata Steve, tidak perlu menyembunyikan hubungan ini. Batin Nadia, bicara panjang lebar pada dirinya sendiri.
Berulang kali mencoba jadi wanita yang lebih kuat, yang lebih menyayangi diri sendiri dibandingkan orang lain yang telah menjahati hidupnya.
Tiba di kantor, Steve turun lebih dulu, lalu disusul oleh Nadia.
Bersama-sama mereka masuk ke dalam kantor tersebut.
__ADS_1