
"Steve_"
"Sayang," potong Steve, membalas dengan berbisik pula, mereka sudah berjalan secara beriringan. Steve juga terus menggenggam erat tangan sang calon istri, seraya menariknya agar berada di posisi yang lebih dekat dengannya.
Sementara asisten Jac mengikuti mereka berdua dari belakang, terus berjalan seperti itu tidak peduli di saat semua karyawan tercengang melihat pemandangan tersebut. Steve bahkan masih sempat tersenyum kecil memberi sapaan kepada beberapa orang yang dia temui.
Senyum yang selama ini tidak pernah Steve umbar.
"Astaga, ada apa ini? ya Tuhan!!! apa ini mimpi?" tanya salah seorang karyawan wanita. dia sampai menepuk pipinya sendiri saking tidak pertanyaannya dengan apa yang dia lihat.
Sang direktur utama yang menggandeng seorang karyawan dari bagian admin, Nadia.
Kabar tersebut menyebar dengan cepat seperti hembusan angin, sampai akhirnya seluruh karyawan di perusahaan ini mendengar tentang kabar itu.
Apalagi sore itu yang pulang lebih dulu adalah Steve dan Nadia, sementara karyawan yang lain masih tetap tinggal.
Sayup-sayup Cindy pun mendengar kabar lucu itu, kabar yang di telinganya terdengar seperti sebuah bualan.
Mana mungkin seorang Direktur Utama mengandeng tangan Nadia.
Cindy geleng-geleng kepala, coba menepis kabar itu dengan akal sehatnya sendiri.
Namun pembicaraan semua orang yang semakin keras dia dengar sungguh membuatnya merasa tidak nyaman.
"Cukup! berhenti membicarakan tentang tuan Steve dan Nadia, itu jelas tidak mungkin!" bentak Cindy, dia bisa bicara seperti itu karena tidak melihatnya secara langsung.
__ADS_1
terlebih-lebih mana mau dia mengakui bahwa Nadia mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dia.
Aslan dan Steve jelas tidak bisa disamakan.
"Hih, kenapa kamu yang sewot, suka-suka kami mau membicarakan apa!" balas karyawan yang lain, tak ada pula yang takut dengan gertakan Cindy itu.
Mereka semua sama-sama karyawan disini.
"Benar, kalau tidak mau dengar ya sana pergi!"
"Nadia benar-benar beruntung, aku juga mau jadi Nadiaaa."
"Devi, apa benar Nadia memakai cincin tunangan berlian?"
"Iyaa, aku melihatnya secara langsung, itu berkilau sekali," balas Devi antusias.
Dan disambut pula oleh teriakan gemas semua orang, sementara Cindy makin panas hatinya ketika mendengar pembicaraan tersebut.
Dia sampai mengepalkan kedua tangannya kuat, menatap nyalang penuh amarah.
Tanpa memperdulikan semua orang itu, Cindy putuskan untuk segera meninggalkan kantor ini dan pulang.
hari itu dia pulang menggunakan ojek, sementara Aslan sudah pergi lebih dulu meninggalkan dia begitu saja. Bahkan Aslan sedikitpun tidak ada basa-basi untuk mengajaknya pulang bersama.
Cindy kesal sekali, sangat kesal dengan semua yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Sesak di dalam daddanya semakin terasa saja, dia benci pada semuanya.
Mulai merasa bahwa hidupnya saat ini sangat menyedihkan. Tidak semenyenangkan saat dulu dia masih menjadi selingkuhan Aslan.
Jam 5 sore lewat akhirnya Cindy baru tiba di rumah.
Dia melihat mobil Aslan sudah terparkir sempurna di halaman rumah mereka.
dan hal itu makin membuatnya merasa kesal.
"Mas Aslan!" pekik Cindy saat dia baru selangkah masuk ke dalam rumah.
Aslan saat itu ada di meja makan, dia membeli makan malam cepat saji.
"MAS!!" pekik Cindy lagi, dan akhirnya dia temukan suaminya itu berada di dapur.
"Jahat kamu Mas! JAHAT!!" pekik Cindy, dia ditinggal dan mendengar kabar menjijjikkan tentang Nadia dan Steve.
Cindy menangis saat ini.
"Jaga bicara mu Cin, jangan bicara dengan suara keras di hadapan ku."
Aslan tak memperdulikan keberadaan Cindy, dia bahkan tetap asik makan tanpa peduli Cindy yang menangis.
Sikap dingin itu makin membuat Cindy merana.
__ADS_1
Tangisnya meraung-raung, tapi Aslan tidak peduli. Aslan juga lelah, Aslan juga menyesal, dia sibuk dengan kekalutannya sendiri, hingga tidak peduli tentang Cindy.