Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 36 - Daddy dan Sayang


__ADS_3

Mobil yang dinaiki oleh Nadia dan Steve akhirnya melaju di jalanan.


Jalanan yang mereka lewati kali ini adalah jalanan yang dulu pernah jadi pertemuan pertama mereka, dimana Nadia tanpa sengaja menabrak mobil Steve menggunakan motornya.


Tapi yang Nadia ingat bukanlah tentang kenangan tersebut, melainkan dia mengingat tentang sang sahabat, Rima.


Ingin sekali rasanya dia kembali menemui sang sahabat, mengucapkan banyak terima kasih, juga membayar hutang yang sampai sekarang belum sempat dia lunasi.


Yaitu uang yang digunakan Nadia untuk bisa masuk di perusahaan Steve.


Tapi sebelum meminta izin untuk menemui sahabatnya tersebut, Nadia juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Steve dulu.


Mengingat mereka yang akan menikah, rasanya tak pantas jika dia masih terus memanggil nama.


Tapi apa Steve mau dipanggil Mas?


Belum mengutarakan maksud, Nadia sudah merasa gugup sendiri. Dia mengigit bibir bawahnya dan melirik Steve sekilas.


Sialnya Steve pun sedang menatap ke arahnya, hingga membuat mereka bersitatap.


Deg! seperti maling yang ketahuan.


Ya Tuhan, batin Nadia. Kikuk sendiri.


"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Steve, karena tergambar jelas wajah bingung di wajah cantik wanita ini.


"Emm, sebenernya iya, tapi aku bingung mulainya dari mana."


"Kenapa bingung?"

__ADS_1


Nadia diam dulu, karena dia benar-benar bingung bagaimana bicaranya.


"Katakan," ucap Steve.


Bibir Nadia sedikit mengerucut.


"Aku ingin memanggilmu bukan dengan sebutan nama."


"Apa? sayang?"


"Stevee, jangan menggodaku."


Steve malah tertawa pelan.


"Lalu apa?" tanya pria itu lagi.


"Kamu maunya dipanggil apa?"


"Kalau hanya kita berdua?" tanya Nadia lagi.


"Sayang."


Blus! saat itu juga kedua pipi Nadia langsung merah merona. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi saking tersipunya.


Nadia bahkan langsung sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya yang malu-malu.


Steve yang menyadari jika calon istrinya tersipu pun dengan segera mengelus puncak kepala wanita tersebut.


Mengelusnya dengan sangat lembut, mengisyaratkan perasaannya begitu tulus.

__ADS_1


"Sekarang coba katakan, Aku ingin mendengarnya," titah Steve, kesepakatan sudah dibuat jadi sekarang tinggal eksekusi, bagaimana cara pemanggilan mereka yang baru.


Nadia mengulum senyum, mendadak malu sendiri untuk mengucapkan satu kata itu, padahal dialah yang meminta pergantian panggilan ini.


"Daddy," panggil Nadia lirih, kecil sekali.


"Memangnya di sini sedang ada Zayn?" goda Steve, menatap dengan matanya yang menatap genit.


Nadia reflek kemabli memukull lengan Steve.


Plak!


"Aw, sakit Nad, sekarang kamu jadi suka pukul-pukul ya?" balas pria itu, pura-pura sakit. padahal pukulan Nadia tidak seberapa baginya.


"Jangan menggodaku," jawab Nadia.


"Kalau begitu cepat panggil aku dengan sebutan yang hanya untuk kita berdua," pinta Steve lagi, dan saat itu juga Nadia pun menurutinya.


"Sayang," balas Nadia, meski kikuk dan canggung namun tetap dia ucapkan 1 kata itu.


1 kata dengan banyak makna untuk hubungan mereka berdua.


Dan saat Nadia memanggil Steve dengan sebutan sayang tersebut, bertepatan dengan mobil mereka yang berhenti tepat di depan sekolah Zayn.


Steve lantas mematikan mesin mobil tersebut, dan menarik tengkuk Nadia, dia cium bibir wanita ini dengan begitu lembut.


"Aku sangat menyayangi kamu dan Zayn sayang," ucap Steve lirih, setelah ciuman itu dia putus. Masih menempelkan hidung hingga bicara dengan jarak yang sangat dekat.


Membuat tubuh Nadia pun jadi meremang.

__ADS_1


Steve selalu berhasil membuatnya melayang.


__ADS_2