
Kekacauan yang terjadi di kantin akhirnya terdengar sampai ke telinga ibu Mulia, kepala bagian HRD itu langsung memanggil Devi dan Cindy untuk menghadap.
Juga beberapa karyawan sebagai saksi.
Dan semuanya kompak menjawab bahwa Cindy lah yang membuat keributan tersebut.
"Kurang ajar! mana ada aku yang memulai! Devi saja yang selalu membuat keributan! tiap hari kerjanya membicarakan Nadia terus!!" geram Cindy, suaranya menggebu-gebu, terlihat sekali penuh amarah.
Amarah yang sebenarnya bukan hanya dia tujukan pada Devi, tapi juga pada Nadia.
"Tuh liat kan Bu, dia ini stres," balas Devi.
"Kurang ajar!" Cindy hendak kembali menjambak rambut Devi, tapi kemudian dihalangi dengan cepat oleh orang lain.
"CUKUP!!" bentak ibu Mulia.
Astaga, kini keadaan benar-benar kacau.
"Cindy, semua masalah kamu sendiri yang ciptakan! lagipula tidak ada salahnya Devi dalam hal ini, lagipula dia bicara tentang Nadia saat jam istirahat, bukan jam kerja, dan yang dibahas pun tentang pernikahan Nadia dan tuan Steve, bukan hal yang buruk-buruk! Saya akan beri kamu SP 1! kalau sampai membuat keributan seperti ini lagi saya akan ajukan untuk pemecatan kamu!!" tegas ibu Mulia.
Devi dan rekan-rekannya yang lain tersenyum, itu pantas di dapatkan oleh Cindy. Tanpa ada alasan yang jelas marah-marah semaunya.
Sedangkan Cindy makin mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Sungguh, dia pun tak sudi bekerja di perusahaan ini lagi. Tapi jika ingat dia masih butuh gaji, jadi Cindy tahan diri.
Dan di luar ruangan tersebut, Aslan pun mendengar keputusan ibu Mulia tersebut.
ada rasa kesal yang tumbuh di dalam hatinya untuk sang istri.
Makin malam dia memang seperti tidak mengenal Cindy.
Wanita yang dulu begitu lemah lembut dan mengerti dia kini tak ada lagi, kini Cindy seperti orang lain.
Terlalu terobsesi dengan harta dan jadi terus menyalahkan Nadia. Padahal Nadia tidak pernah sekalipun membuat masalah dengan Cindy.
Setelah ada keputusan bu Mulia itu akhirnya semua orang pun keluar dari ruangan tersebut.
Lagipula selama ini memang tak ada yang menyukai Cindy di kantor tersebut, hanya sebagai sekretaris manajer saja gayanya sudah selangit.
Cindy tidak menghiraukan ucapan Devi itu, dengan raut wajahnya yang kesal dia melengos pergi begitu saja.
Tapi Cindy masih mendengar dengan jelas saat Devi dan semua orang menertawakan dia.
Kurang ajar! Kurang ajar!!
Saat tiba di lantai 4 tempatnya bekerja, Cindy langsung ditarik oleh Aslan untuk segera masuk ke dalam ruangan pria tersebut.
__ADS_1
Tarikan tangan Aslan terasa begitu menyakiti pergelangan tangannya, Cindy bahkan sampai meringis merasa kesakitan.
"Mas lepas! kamu apa-apaan sih?!" geram Cindy, dia coba menarik tangannya namun tidak berhasil, sampai akhirnya Aslan berhasil membawanya masuk ke dalam ruangan itu dan dia didorong dengan kasar.
Cindy terhuyung dan nyaris jatuh.
"Mas!!" pekiknya tak terima.
"Cukup Cin! jangan lagi menganggu Nadia! aku benar-benar muak melihat sikapmu yang seperti itu!" bentak Aslan.
"Aku juga muak punya suami seperti kamu! aku mau cerai!!"
"Baiklah, aku akan mengurus surat perceraian kita."
Cindy langsung mendelik.
Dia menggeleng, Tidak! dia harap Aslan akan menahannya bukan seperti ini.
"Jangan Mas, jangan ceraikan aku." Cindy buru-buru memeluk kedua kaki Aslan.
Namun pria itu malah menendangnya hingga benar-benar tersungkur ke lantai. Kemarahan Aslan terasa begitu menakutkan bagi Cindy.
"Kalau begitu berhenti lah membuat ulah, dan aku ingin kamu jadi seperti Nadia, jadi istriku yang penurut."
__ADS_1