
Zayn sudah masuk ke dalam mobil ini, Nadia juga sudah mengatakan kepada Steve bahwa dia ingin mengunjungi sahabatnya lebih dulu sebelum mereka pulang.
Nadia menjelaskan secara rinci siapa Rima baginya dan Apa pentingnya Rima dalam hidup dia.
Nadia tidak canggung sedikit pun saat mengatakan bahwa Rima lah yang telah membantu dia di saat hidupnya nyaris hancur.
Dan Steve memahami itu, bahkan saat dulu Steve sampai menganggap Nadia adalah orang gila.
"Itu toko kue nya," tunjuk Nadia, pada sebuah toko kue yang cukup besar di seberang jalan sana.
Steve lantas memutar kemudi dan menuju toko tersebut.
Zayn tentu senang mereka berhenti di sini, karena dia bisa membeli banyak kue manis kesukaannya.
"Apa aku boleh ikut turun?" tanya Steve, takut kehadirannya akan mengganggu pertemuan kedua wanita tersebut. tapi dia pun ingin menunjukkan diri pada sahabat Nadia bahwa saat ini dialah pria Nadia, calon suami Nadia.
dan mendengar pertanyaan itu Nadia pun tersenyum cukup lebar lalu menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.
Tentu saja Steve boleh ikut turun, meski sebenarnya dia sedikit merasa malu. Takut juga kalau ternyata sebenarnya Rima sudah mengetahui tentang Steve, Direktur Utama di tempatnya bekerja.
__ADS_1
Ya ampun, Nadia malah jadi gugup sendiri.
Namun pada akhirnya mereka bertiga turun bersama-sama dari mobil tersebut.
Zayn menggandeng tangan sang mommy dan Daddy bersamaan, masuk ke dalam toko kue itu.
Dan kedatangan mereka bertiga ke dalam toko ini sontak saja jadi pusat perhatian semua orang, pasalnya para karyawan pun di sana melihat mobil mewah milik pria itu yang terparkir di depan toko ini.
dan yang paling terkejut dari semua karyawan di sana adalah Rima. bahkan mulutnya sedikit menganga saat melihat Nadia dan Zayn masuk bersama pria itu. Pria yang memang tidak asing bagi Rima.
Meski tidak mengenal tapi Rima cukup tahu siapa pria tersebut, seorang pengusaha sukses berstatus duda yang sering dibicarakan oleh semua orang.
Sebelum Nadia sempat meminta bantuan untuk memanggil Rima, Rima sudah lebih dulu menghampiri dia.
"Nad," panggil Rima.
"Rima!" Nadia menyahutnya dengan antusias dia bahkan langsung berlari dan memeluk sang sahabat.
Steve dan Zayn pun mengikuti.
__ADS_1
"Rim, kenalkan, ini calon suami ku," balas Nadia langsung, memperkenalkan Steve adalah hal pertama yang ingin dia lakukan.
Rima makin tercengang dibuatnya ketika mendengar kalimat tersebut.
perkenalan singkat di antara Rima dan Steve pun berlangsung.
sampai akhirnya Nadia dan Rima duduk lebih dulu di kursi tunggu toko kue tersebut, sementara Steve dan Zayn masih memilih kue yang akan mereka makan di sini dan yang akan dibawa pulang.
Di tempatnya duduk Rima terus menatap tidak percaya pada Nadia dan Steve. Juga kedekatan Steve dan Zayn.
baginya ini semua terasa seperti mimpi, dia merasa ikut bahagia dan bahkan saking bahagianya dia sampai tak bisa berkata-kata.
kehilangan Aslan ternyata Nadia bisa mendapatkan pengganti yang jauh-jauh lebih baik.
Belum bicara sepatah kata pun Rima sudah merasa haru sendiri.
"Ya Tuhan, ini bukan mimpi kan Nad? itu tuan Steve Direktur Utama di tempatmu bekerja kan? bagaimana bisa? ya Tuhan Nadia!!" Rima memeluk Nadia dengan erat.
Jatuh juga akhirnya air mata itu. Nadia ikut menangis juga. Jika bukan dengan Rima entah dengan siapa dia berbagi banyak rasa ini, sedih dan senang.
__ADS_1