
"Angkat kepala mu, aku bahkan mengizinkan kamu untuk bersikap semena-mena di perusahaan ini," ucap Steve, saat mereka baru selangkah masuk ke dalam perusahaan.
Jacob yang mendengar ucapan sang Boss seketika terkekeh pelan, sementara Nadia mengerutkan bibirnya merasa kesal.
Kenapa kini dia merasa jadi bulan-bulanan Steve dan Jacob.
Bertiga masuk ke dalam perusahaan itu tentu saja langsung mencuri perhatian semua orang, rata-rata bertanya di dalam benaknya kenapa Nadia ada diantara 2 pria tampan tersebut.
Nadia digadang-gadang sebagai karyawan yang paling beruntung.
Namun tidak dalam pikiran Cindy, dia yang sejak tadi memang sudah menunggu kedatangan Nadia, kini menatap sinis kepada wanita itu.
Menjijjikkan, apa setelah bercerai dari Aslan, dia berharap bisa memiliki hubungan yang dekat dengan Tuan Steve? haha lucu sekali.
Batin Cindy.
Dulu dia saja tidak berhasil mendekati sang direktur utama, padahal penampilannya sudah sangat sempurna untuk mendampingi pria tersebut. Lalu bagaimana dengan Nadia? hanya seorang janda dan karyawan admin, membayangkannya saja Cindy sudah merasa lucu.
Seolah Nadia benar-benar tidak punya malu. Harusnya wanita itu sadar diri dengan semua kekurangannya.
__ADS_1
Cindy sedikit bersembunyi agar keberadaannya tidak disadari oleh orang lain, dia bahkan menunggu Nadia berpisah dari tuan Steve dan asisten Jac.
Diam-diam Cindy menguntit, sampai akhirnya dia melihat Nadia hanya tinggal sendirian.
Melihat itu, Cindy makin menatap sinis, tatapan penuh benci dan dendam yang terpendam.
Sebelum Nadia masuk ke dalam ruangannya, Cindy lebih dulu menarik tangan wanita itu dan membawa Nadia ke tempat sepi.
"Aw! lepas!" ucap Nadia dengan suara yang cukup tinggi, pasalnya pergelangan tangannya terasa sakit akibat cengkeraman tangan wanita ini.
Wanita yang dia lihat adalah Cindy.
Brug! Cindy mendorong tubuh Nadia hingga terbentur oleh dinding.
Mereka berada di sudut lantai 2 ini, tempat yang sepi dan tak nampak oleh orang lain.
"Berikan rumah itu pada Aslan! kamu tidak berhak mendapatkan rumah itu!!" bentak Cindy, kedua matanya mendelik mengintimidasi.
"Selama ini kamu hanyalah wanita pengangguran, mana ada andil mu alam membangun rumah itu! dasar wanita parasit, menikah hingga bercerai tetap saja jadi benalu bagi Aslan!" geram Cindy pula, semua kekesalan yang ada di dalam hatinya akhirnya dia keluarkan semua.
__ADS_1
Dan Nadia sungguh merasa lelah dengan ini semua. Nadia lantas membalas tatapan Cindy tak kalah tajam, dia bahkan mengambil satu langkah untuk mendekati Cindy.
"Sebagai perebut suami orang, kamu benar-benar tidak tahu malu," balas Nadia.
"Jaga bicaramu!" Cindy mengangkat tangan kanannya hendak menampar Nadia, tapi gagal karena Nadia lebih cepat menepis tangan itu, bahkan mencengkeramnya kuat sebelum dilepaskan.
"Diantara aku dan Aslan ada banyak hal yang tidak kamu tahu, ada banyak hal yang tidak akan pernah bisa kamu mengerti, akan ada ruang dimana kamu tidak akan pernah bisa masuk. Tapi aku tidak akan menjelaskan apapun padamu, karena percuma bicara pada wanita yang tidak punya otak, bisanya hanya membuka kaki untuk suami orang." Nadia tersenyum miring, senyum menghina.
dan Cindy benar-benar marah mendengar ucapan itu, namun dia pun tercengang bagaimana bisa Nadia mendapat keberanian untuk melawan dia.
Pasalnya selama ini yang dia tahu, Nadia hanyalah wanita lemah yang bisanya hanya patuh.
"Aku sudah bercerai dengan Aslan, lalu kenapa masih mengganggu hidup ku juga? bahkan mengusik semua hartaku," tanya Nadia lagi.
Sementara Cindy hanya mampu mengepalkan kedua tangannya kuat.
Dan makin pecah amarahnya saat mendengar kalimat tambahan Nadia ...
"Jangan membuat ku berpikir bahwa kamu adalah wanita miskin yang tidak pernah bahagia, menyedihkan," tambah Nadia, senyum miringnya makin terlihat jelas.
__ADS_1