
Hampir jam 9 malam akhirnya Steve dan Nadia tiba di rumah mereka, tadi mereka lebih dulu makan malam bersama dengan Mama Fenny, papa Richard dan Zayn. Karena itulah cukup larut saat tiba di rumah ini.
"Naiklah dulu ke atas, aku akan menemui bik Narti lebih dulu," terang Steve dan Nadia mengangguk.
Nadia tahu jika Steve ingin mengatakan tentang pernikahan mereka pada bik Narti. Sungguh dia dan Steve sedikitpun Tidak ada niat untuk menyembunyikan pernikahan mereka, tapi semuanya memang terpaksa jadi begini seolah tergesa-gesa dan tidak diketahui oleh semua orang.
Nadia lantas pergi lebih dulu menuju kamar mereka.
Kamar yang selama ini Steve huni sendiri kini akan jadi kamarnya juga.
Nadia tahu mereka akan melakukan yang namanya Mallam pertama, karena itulah sejak tadi jantungnya sudah berdegup.
Malu tapi tidak sabar juga.
Tiba di kamar Nadia bingung mau apa. Rasanya harus mempersiapkan sesuatu untuk malam yang indah ini.
"Lebih baik aku bersihkan tubuh lagi," gumam Nadia. Dengan jantungnya yang tak karuan dia segera menuju kamar mandi. Mandi lagi meski tidak keramas.
Membasuh tubuhnya dengan banyak sabun hingga jadi sangat harum.
Keluar dari dalam kamar mandi itu Nadia hanya menggunakan handuk yang melilit di daddanya.
__ADS_1
Dan alangkah terkejutnya Nadia saat ternyata Steve sudah ada di sana.
Deg!
Jantung Nadia rasanya mau copot saat itu juga. Dia bahkan langsung memegangi handuknya sendiri tiba-tiba takut melorot.
Sementara Steve langsung tersenyum lebar, bahagianya jadi berkali-kali lipat saat tau Nadia pun mempersiapkan diri untuk malam ini.
"Kemari lah," panggil Steve, dia duduk lebih di atas ranjang dan Nadia pun menyusul.
Berulang kali Nadia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Steve menarik tubuh Nadia agar lebih dekat, dengan gerakan perlahan dia menanggalkan handuk yang di pakai oleh Nadia.
Saat handuk itu berhasil dia lepas, Nadia segera menyilangkan kakinya sendiri, malu ditatap dibagian inti. Dia pun mengigit bibir bawahnya merasakan darrah panas yang mulai mengalir.
Sementara kedua pucuk dadanya sudah menegang siap disantap.
"Sayang, jangan menatapku seperti itu," lirih Nadia, kini dia sudah begitu polos berdiri dihadapan sang suami.
Sementara Steve masih menikmati indahnya tubuh itu, hanya melihat dan sudah berhasil membuatnya menegang.
__ADS_1
Steve lantas memeluk pinggang Nadia dan dia langsung menyusu.
"Emhh, ahhh," Nadia tak bisa menahan diri untuk tidak mendessah, apalagi Steve pun mulai memainkan tangannya di inti tubuhnya yang basah.
"Steve, emh, jangan curang," rintih Nadia, dia tak dipuaskan seorang diri, dia pun ingin memberi kenikmatan pula pada sang suami.
Tapi Steve tidak memperdulikan ucapan Nadia itu, dia terus melakukan apapun yang dia mau. Menyesap kuat dadda yang menggantung itu secara bergilir.
Satu tangannya meremas bokong, dan satu tangannya lagi bermain di lembah basah tersebut.
Nadia nyaris menggelinjang, namun urung karena Steve segera membaringkannya di atas ranjang.
Steve menjilat-jilat dua dadda istrinya yang menjulang, dan Nadia hanya mampu menggeliat menikmati semua sentuhan.
"Sayang, aku mau kamu," lirih Nadia, Steve pun rasanya sudah tidak sabar untuk menenggelamkan diri di dalam sana.
"Tunggu sayang, aku akan segera datang," balas Steve. Dia segera mengeluarkan miliknya yang sudah menegang hebat.
Siap menghujam dengan begitu dalam.
Ahk!
__ADS_1