Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 48 - Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Keluar dari ruangan Aslan tersebut, Nadia membuang nafasnya dengan lega. Benar-benar tidak ada lagi perasaan mengganjal di dalam hatinya.


Apa yang terjadi di masa lalu memang tidak akan pernah bisa dia ubah, tapi mulai sekarang Nadia tidak akan menganggapnya sebagai kenangan buruk, dia hanya akan memikirkan tentang yang baik-baik saja tentang masa lalu.


Bagaimanapun tentang pernikahannya dengan Aslan akhirnya mereka bisa memiliki Zayn, anak yang sangat dia sayangi.


Tentang Cindy, dia pun tidak akan terlalu membenci lagi. Jodohnya dengan Aslan memang telah berakhir dan mungkin memang benar jika Cindy adalah jodoh pria tersebut.


Kini Nadia hanya akan menjalani hidupnya yang baru dengan perasaan yang bahagia, tidak ingin terbelenggu dengan kesedihan masa lalu.


"Nad," panggil Jacob, sebuah panggilan yang membuat langkah kaki Nadia terhenti. Dia juga sedikit kaget.


"Asisten Jac," sahut Nadia, dia menundukkan kepalanya kecil sebagai tanda hormat.


"Sebenarnya Steve tidak memanggil kamu, tapi dia tahu tentang mu yang bertemu dengan Aslan, jadi ku pikir lebih baik sekarang kamu temui calon suami mu itu," terang Jacob, dia memang seperti itu, pembawaannya sangat santai.


Hingga membuat Nadia kikuk sendiri.


"Ba-baiklah," jawab Nadia gagap, sebenarnya masih canggung dengan hubungan mereka sekarang.


Pasalnya Nadia masih ingat dengan jelas ketakutannya selama ini pada Jacob. Asisten sang Direktur Utama yang dia temui untuk membuat surat perjanjian hutang dulu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit asisten Jac.


"Baik," balas Nadia, dia menundukkan kepalanya lagi.


Setelah asisten Jac tidak lagi nampak di pandangannya barulah Nadia segera bergegas pergi juga menuju ruangan sang calon suami.


Tiba di depan pintu ruangan itu, Nadia bertemu dengan sekretaris Steve, Larisa namanya.


Larisa pun mempersilahkan Nadia untuk masuk dengan sangat sopan, bagaimana pun Nadia adalah calon istri sang Direktur Utama, jadi tentu saja Nadia selalu mendapatkan perlakuan istimewa, meski sebenarnya Nadia tidak menginginkannya.


"Terima kasih sekretaris Larisa," ucap Nadia, saat sekretaris cantik itu membukakan pintu untuknya.


Tidak ada temui yang ditemui Steve, jadi Nadia bisa langsung masuk.


Jujur saja, sejak tadi dia memang selalu menunggu. Meskipun dia tidak memerintahkan Nadia untuk datang.


Setelah kembali menutup pintu, Nadia berjalan menghampiri. Steve pun bangkit sampai akhirnya mereka bertemu di depan meja kerja pria itu.


"Kamu datang," ucap Steve, bibirnya tersenyum menggoda.


Sementara Nadia menunjukkan wajahnya yang malu-malu. Kedua pipinya bahkan nampak merah merona.

__ADS_1


Ya ampun, kenapa aku masih saja selalu gugup saat berhadapan dengan Steve, batin Nadia, jantungnya berdebar.


Steve lantas mengulurkan tangannya, lalu menjangkau tangan Nadia san menarik wanita itu untuk mendekat.


Steve bersandar di meja kerja dan memeluk pinggang Nadia erat.


Sikap dan posisi yang membuat jantung Nadia makin berdegup hebat.


Ini adalah kantor, begitu gugup ketika mereka bermesraan disini. Takut ada yang lihat, takut ketahuan, takut tapi juga mau.


Entahlah, Nadia seperti jatuh cinta lagi. Semua rasa indah itu kini memenuhi hatinya.


"Em Sayang," cicit Nadia, tidak ingin salah sebut. dia harus membiasakan diri untuk memanggil Steve dengan sebutan itu.


"Aku tadi bertemu dengan Aslan," ucap Nadia lagi, membuat pengakuan.


Dan pengakuan seperti itu saja sudah membuat Steve benar-benar bahagia, dia sudah puas dengan Nadia mengaku, tidak perlu penjelasan apapun.


Jadi sebelum Nadia melanjutkan ucapannya, Steve Lebih dulu mencium bibir wanita itu.


Cup!

__ADS_1


"Emhh," lenguh Nadia.


__ADS_2