Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 39 - Menerima Semua Hidupku


__ADS_3

"Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya, aku juga masih merasa bahwa ini semua seperti mimpi," terang Nadia, bingung juga bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Rima.


Namun Rima pun sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan itu semua, dia sudah sangat-sangat bahagia saat melihat secara langsung Steve begitu menyayangi Zayn.


"Baiklah, tidak perlu jelaskan apapun padaku. aku sudah sangat bersyukur akhirnya kamu berpisah dengan pria badjingan itu. Apa dia masih bekerja di perusahaan Steve? dan selingkuhannya bagaimana?"


"Mereka berdua masih bekerja di perusahaan, kata Steve dia memang sengaja tidak memecat mereka berdua. Biar kedua orang itu bisa melihat secara langsung pernikahan kami."


Rima langsung tertawa ketika mendengar penjelasan Nadia tersebut, sementara Nadia sendiri sebenarnya merasa tak enak hati.


Rasanya mereka jadi beradu tentang kebahagiaan, padahal dia benar-benar ingin memutus semua hubungan dari kedua orang tersebut.


"Bagus, aku juga sangat setuju jika alasannya seperti itu. Biar tau rasa, selama ini mereka banyak sekali menyakiti kamu, tapi ternyata apa yang mereka dapatkan? yang ada mereka akan menunduk memberi hormat kepadamu, hahaha ya Tuhan, aku bahagia sekali Nad, mampus!"


"Rim, jangan berlebihan seperti itu."


Tapi Rima tetap saja tertawa, menertawakan kehancuran Aslan dan Cindy. jadi lucu sendiri ketika nanti kedua orang itu akan menaruh hormat kepada Nadia, jika tidak hormat gampang saja, langsung ditendang keluar dari perusahaan tersebut.


"Hahahaha, ya Tuhan, aku bahagia sekali," tawa Rima tak habis-habis.

__ADS_1


Puas sekali untuk semua pembalasan yang telah didapat oleh kedua manusia menjijjikkan tersebut.


Tawa Rima itu bisa terhenti saat akhirnya Steve dan Zayn menghampiri mereka.


Pembicaraan hangat pun terjadi, apalagi saat pemilik toko kue tersebut pun datang memberi salam kepada Steve.


Mereka saling mengenal degan baik.


Steve bahkan terang-terangan mengatakan bahwa dia merekomendasikan Rima untuk memiliki posisi yang lebih penting dalam toko kue tersebut.


Rima senang bukan main, rasanya saat ini juga dia bahkan sampai ingin berjingkrak-jingkrak saking senangnya.


Pertemuan siang itu benar-benar terasa berkesan bagi mereka semua.


Jadi di akhir pertemuan mereka Nadia dan Rima hanya saling memeluk erat, saling mendoakan satu sama lain untuk bisa merengkuh sukses dalam hidup, entah itu dalam kehidupan pribadi ataupun pekerjaan.


Hampir jam 12 siang, akhirnya Nadia dan Steve pamit pulang.


Sepanjang perjalanan mereka Nadia pun terus mengukirkan senyum, terima kasih sekali karena Steve pun bersikap baik pada sahabatnya.

__ADS_1


"Mom, aku ngantuk," lirih Zayn.


"Tidurlah sayang, mommy akan mengelus punggung mu," jawab Nadia.


Saat ini Nadia dan Zayn duduk di depan Zayn berada dalam pangkuan sang ibu.


"Tidak mau pindah ke belakang?" tanya Steve dan Nadia menggeleng.


Nadia lebih suka duduk disini, duduk di dekat calon suami.


Nadia pun tersenyum dan mulai menidurkan sang anak. Sementara Steve sesekali mengelus puncak kepala wanitanya.


Sampai entah di menit ke berapa akhirnya Zayn benar-benar terlelap.


"Sayang," panggil Nadia lirih, memanggil Steve dengan malu-malu.


"Kenapa sayangku? bicara mu pelan sekali," balas Steve, dengan nada yang terdengar jelas jika menggoda.


Nadia mencebik, namun dia melanjutkan niatnya untuk bicara sesuatu ...

__ADS_1


"Terima kasih untuk semuanya, kamu bukan hanya menerima aku. Tapi juga semua hidupku, Zayn, bahkan Rima." terang Nadia.


Steve yang sedang mengemudikan tak bisa banyak bicara, dia hanya menjawabnya dengan menggenggam erat tangan Nadia.


__ADS_2