
Pagi ini Nadia dan Steve datang bersama ke perusahaan.
Devi dan teman-temannya sangat antusias melihat kedatangan mereka berdua. sebenarnya Devi ingin berlari dan memeluk Nadia, tapi sekuat tenaga dia tahan diri karena tidak berani dengan tuan Steve.
Jadilah dari jarak jauh dia tersenyum-senyum dan bisa sekali melambai pada Nadia.
Sedangkan Nadia pun membalas lambaian tangan itu, tapi dia tidak bisa menghampiri Devi dan harus segera menyerahkan surat pengunduran dirinya pada ibu Mulia.
Saat mendatangi ruangan Ibu Mulia, Steve pun ikut menemani.
Sepasang calon pengantin itu tidak tahu jika sejak tadi Cindy memperhatikan keduanya dengan dadda yang bergemuruh.
Sabar Cin, sabar, aku yakin Nadia akan seperti dulu. Dia akan kembali menjadi ibu rumah tangga dan tidak lagi bekerja disini. Dan saat aku harus mendekati tuan Steve, Batin Cindy.
Beberapa hari terakhir pikirannya memang kacau karena rasa iri, namun setelah terpikir bahwa nanti Nadia tidak akan bekerja lagi membuatnya seperti menemukan sebuah solusi.
Dan setelah yakin dengan pemikirannya itu, kini Cindy mulai bisa mengendalikan emosinya.
Bukan hanya Cindy yang merasa sesak di dadda saat mengetahui Nadia dan Steve datang.
Aslan pun merasakan hal yang sama. Setiap hari mendengar tentang hubungan keduanya yang romantis, lalu melihat sendiri Bagaimana kedua orang itu saling mengasihi, Aslan benar-benar merasa cemburu.
__ADS_1
Rasanya Dia pun tidak sanggup untuk bekerja di perusahaan ini lagi.
Dan setelah Nadia menyerahkan surat pengunduran dirinya tersebut, dia pun ikut sang suami untuk menuju ruangan Direktur Utama.
"Sayang, sebenarnya masih ada urusan kita yang belum beres," tanya Nadia, ketika mereka berdua sudah duduk di sofa ruangan tersebut.
"Apa?" tanya Steve.
"Bagaimana tentang hutang ku di perusahaan ini? bukannya itu belum lunas?" tanya Nadia, bertanya dan menatap dengan kedua matanya yang penuh tanda tanya.
Steve terkekeh pelan.
"Tidak perlu dipikirkan lagi, sebenarnya itu hanya akal-akalan ku saja untuk bisa mendekati kamu."
Dan Steve yang gemas, segera mengusap wajah istrinya tersebut, sampai Nadia gaduh tidak mau.
"Iihh sayang, apa maksudnya bicara seperti itu?" tuntut Nadia.
Jadi mau tidak mau akhirnya Steve pun menceritakan tentang hubungan mereka melalui sudut panjangnya.
Saat dia mengira bahwa Nadia adalah wanita gila, saat dia tahu Nadia adalah wanita yang menyedihkan, dan saat sadar jika sebenarnya Nadia sangat cantik.
__ADS_1
Jadi Steve melakukan segala cara untuk bisa dekat dan memanfaatkan mobilnya yang rusak.
Mendengar cerita itu semua, Nadia tidak terharu, dia malah memukul lengan Steve dengan cukup kuat.
Plak!
"Awh, kok dipukul sih?"
"Jahat, kamu tidak tahu betapa takutnya aku dulu," geram Nadia.
"Aku tau kok, kamu kan sampai pingsan."
"Iihh sayang," kesal Nadia, dia tahu Steve meledeknya.
Dan melihat istrinya kesal, Steve malah tertawa semakin keras.
Sampai tawanya itu terdengar ke luar dan mampu di dengar oleh Aslan yang hendak menghadap.
Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bekerja disini. Aku tidak akan sanggup jika terus melihat kebersamaan mereka. Batin Aslan.
Steve memang tidak pernah berencana untuk memecat dia, namun rasa ingin mengundurkan diri di dalam benak Aslan mulai terpikirkan.
__ADS_1
"Ketuk saja pintunya Pak, silahkan masuk," ucap sekretaris Steve.
Tapi Aslan berat sekali kakinya untuk segera masuk ke dalam sana.