
Ugh! lenguh Steve saat dia berhasil menerobos pertahanan Nadia. Wanita cantik itu menganga merasakan sesuatu yang begitu besar masuk dan menguasai dirinya.
Kendali tubuhnya ada di bawah sana dan kendalikan oleh sang suami.
"Ini nikmat sekali sayang," bisik Steve, dia belum bergerak, masih bersemayam menikmati kehangatan yang menjalar di seluruh tubuh.
Sementara Nadia tak kuasa bicara apa-apa, rasa mengganjal di bawah sana begitu nikmat, membuatnya tak tahan untuk bergerak. Menggeliat mencari sebuah kenikmatan.
Steve tersenyum saat melihat Nadia begitu menginginkan hal ini, dia akhirnya mulai menggerakkan pinggul, naik turun dan terasa kesat..
"Ahk ahk ahhhh," desah Nadia lalu menggigit bibir bawahnya menikmati hentakan sang suami.
Kedua daddanya yang naik turun makin telihat seksi di mata Steve, dia tak kuasa untuk tidak meraupnya.
Amhh, di kamar sunyi itu hanya terdengar suara percintaan mereka. Bersenggama saling memberi kepuasan. Awalnya Steve memang memimpin permainan itu, namun kemudian Nadia pun mengambil alih kendali.
Dia pindah ke atas dan mengemudikan suaminya. Menggeliat dan bergoyang saat mereka bercinta dengan gaya duduk.
"Ugh Nad, ini nikmat sekali," ucap Steve, terus memberikan pujian atas pelayanan sang istri, sungguh dia benar-benar dibuat melayang.
Malam ini menebus semua kesepiannya selama ini, membayar lunas apa yang sudah dia tunggu.
__ADS_1
Kepuasan sama-sama mereka dapatkan, bahkan rasanya ingin lagi dan ingin lagi.
Tidak hanya dengan satu gaya, namun semua fantasi yang selama ini hanya mampu mereka bayangkan, kini semua terealisasi.
"Ahk!" pekik Nadia, kuat dan manja, dia bertopang pada meja westafel mandi dan Steve menyentaknya kuat dari belakang.
Awalnya ingin menyudahi percintaan ini dan membersihkan tubuh, tapi ternyata mereka mengulanginya satu kali lagi.
Pantulan percintaan mereka terbayang jelas di kaca westafel, lekuk tubuh Nadia pun makin memanjakan penglihatan Steve.
Di dalam sana mereka kembali bertukar desaah.
Sampai akhirnya lagi-lagi tiba di puncak kenikmatan yang tak terkira. Nadia menjepit kakinya sendiri dan merasakan benda itu makin mengganjal di inti tubuhnya.
Steve tersenyum, memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
"Aku mencintai kamu Mom, sangat," bisik Steve.
Nadia tak bisa bicara lagi, dia hanya bisa memasrahkan tubuhnya yang lemas pada sang suami.
Pagi menjelang.
__ADS_1
Percintaan panas semalam masih meninggalkan lelah untuk Nadia, tak biasanya dia masih terlelap meski waktu sudah menunjukkan angka jam 8 pagi.
Di atas ranjang itu dia tidur sendirian karena Steve sudah bangun lebih dulu.
Kini pria itu bahkan sudah rapi dengan baju rumahannya, sudah menelepon mama Fenny dan menanyakan tentang sang anak.
Zayn sudah pergi sekolah di antarkan oleh opanya, papa Richard.
Hari ini Steve memutuskan untuk tidak pergi bekerja, Nadia pun akan tetap tinggal di rumah.
"Bi, siapkan sarapan untuk Nadia, bawa ke kamar," titah Steve. Tadi dia sudah sarapan lebih dulu, ingin membangunkan Nadia tapi tidak tega.
"Baik Tuan," jawab pelayan itu patuh.
Steve lantas pergi lebih dulu untuk menuju kamarnya, lalu tercengang ketika sudah masuk ke dalam sana.
Mulutnya menganga saat melihat cara Nadia tidur.
Selimut sudah tidak membalut tubuhnya yang polos, Nadia memeluk guling hingga bokkongnya terlihat jelas.
Sementara kedua dadanya, menyenbul seolah ingin disesap.
__ADS_1
"Astaga, cobaan apalagi ini," gumam pria itu, sungguh dia ingin membiarkan Nadia untuk istirahat, tapi sekarang adik di dalam celananya pun sudah menegang.