Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 59 - Suka Kalau Ada Keributan


__ADS_3

Seberapa pun ragunya Aslan untuk masuk ke dalam sana tapi tetap saja Dia tidak punya pilihan untuk mundur.


Berkas yang ada di tangannya ini sekarang juga harus diberikan untuk sang Direktur Utama dan harus dia sendiri yang menyerahkannya.


jadi nanti jika ada pertanyaan dari Steve, dia bisa langsung menjelaskan isi berkas tersebut.


Aslan menelan ludahnya sendiri dengan kasar, tangan kanannya terkepal dengan kuat hingga akhirnya terangkat naik untuk mengetuk pintu ruangan itu.


Tok tok tok!


"Masuk," sahut Steve.


Sebuah ketukan pintu yang membuat bercandanya dengan sang istri jadi terhenti.


Nadia pun merapikan roknya yang terlalu naik, bagaimanapun dia harus nampak sopan di hadapan anak buahnya sang suami.


Aslan kemudian masuk ke dalam ruangan itu, dengan jantungnya yang berdegup tidak karuan.


Sementara Nadia yang melihat mantan suaminya masuk ke dalam ruangan ini biasa saja, tidak ada sedikitpun perasaan yang mempengaruhi hatinya. Dia benar-benar telah mati rasa pada pria itu, sekarang Nadia hanya melihat Aslan sebagai karyawannya Steve, tidak lebih.

__ADS_1


"Aslan, masuk lah, ada apa?"


"Permisi Tuan, maaf menganggu waktu anda, ini berkas evaluasi acara kemarin."


Berikan padaku, Duduk lah dulu."


"Terima kasih Tuan." Aslan melirik Nadia sekilas, namun wanita itu terus menatap ke arah Steve.


Laporan yang dibuat oleh Aslan itu ada beberapa hal yang salah, jadi Steve mebenahinya dan meminta konfirmasi data yang benar.


Sepanjang pertemuan mereka itu Aslan seperti kehilangan harga dirinya di hadapan Nadia, dia seperti terus memohon di hadapan Steve agar tidak mendapatkan kemarahan pria itu atas kesalahan yang dia buat.


"Berkas ini tinggal saja disini, perbaikannya kirim lewat email saja," ucap Steve, mengakhiri pembicaraan mereka. Pasalnya sekarang Nadia harus segera pulang untuk menjemput anak mereka.


Steve ingin mengantar Nadia turun, karena itulah dia menyudahi diskusinya dengan Aslan.


"Baik Tua, saya akan segera kirimkan pada Anda."


"Bagus, kamu boleh keluar."

__ADS_1


Aslan bangkit dan menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.


Diluar sana Aslan langsung membuang nafasnya dengan kasar, kini bukan hanya satu tangannya yang terkepal kuat, tapi kedua tangannya sekaligus.


Di dalam sana Entah kenapa dia merasa baru saja dipermalukan oleh Steve, pria itu seolah benar-benar ingin menunjukkan posisinya yang sebagai bawahan. Dan itu sungguh membuatnya marah.


Kurang ajar, aku tau sekarang kamu sudah bersama Nadia. Tapi aku dan Nadia memiliki Zayn, dan Zayn tidak akan pernah membuat kami benar-benar berpisah. Batin Aslan.


Pertemuan itu justru membuat dia tidak bisa diam saja diperlakukan seperti ini. Aslan mulai menyusun rencana untuk membalas semua rasa sakit hatinya.


Tapi Aslan tidak sadar, jika sejak tadi gerak-geriknya sudah dipantau oleh Jacob.


Aslan mungkin akan mengambil 1 langkah untuk menyakiti Nadia dan Steve, tapi Jacob tidak akan pernah membiarkan hal itu, dia akan mengambil 2 langkah dihadapkan Aslan untuk mencegah.


"Aku paling suka kalau ada keributan seperti ini," gumam Jacob, lalu tertawa sendiri. Sekarang malah dia yang nampak seperti pria gila.


Jacob bahkan sudah memasang penyadap suara di dalam ruangan Aslan, jadi dia bisa mendengar semua rencana licik pria itu.


Dengan senyumnya yang masih terukir lebar, Jacob kemudian memanggil beberapa karyawan untuk segera menyebar undangan pernikahan sang Tuan.

__ADS_1


__ADS_2