Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 42 - Sangat Menyesal


__ADS_3

"Kurang ajar!" geram Cindy, dia kembali mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar Nadia, namun kembali gagal, karena tangannya lebih dulu dicekal.


Tapi bukan Nadia yang melakukannya, yang mencekal tangan Cindy adalah Aslan.


"Cindy! jaga sikap mu!" bentar Aslan, seketika begitu muak melihat sikap Cindy yang hilang kendali seperti ini.


Aslan seperti tidak mengenali wanita yang telah bersamanya selama 1 tahun terakhir ini. Dimana Cindy yang lemah lembut, Cindy yang begitu pengertian.


Aslan tak pernah menemukan sifat itu lagi, dia malah seperti melihat Cindy yang lain.


"Lepas Mas! kenapa kamu malah membela Dia! sekarang ini aku yang jadi istri kamu!" balas Cindy, suaranya terdengar tinggi.


Dan mendengar ucapan Cindy tersebut. Nadia cukup tercengang, pasalnya begitu cepat mereka menikah.


Ternyata Aslan telah benar-benar mencintai Cindy.


tanpa diketahui oleh kedua orang tersebut, Nadia membuang nafasnya dengan kasar. Seolah membuang semua yang mengganjal di dalam hatinya.


"Lihat sekarang kamu dimana? ini di kantor! jangan membuat keributan!" geram Aslan..


Dia tadi hendak datang menemui Nadia, ingin mengatakan bahwa dia akan pergi ke rumah untuk mengambil semua baju-bajunya yang tertinggal di sana, tapi ternyata sayup-sayup Aslan malah mendengar suara keributan di sudut sini dan betapa terkejutnya ketika dia melihat Cindy hendak menampar Nadia.


Dibentak seperti itu oleh Aslan, Cindy pun terdiam.

__ADS_1


Namun kekesalannya semakin membuncah ketika dia mendengar Aslan malah meminta maaf kepada Nadia ...


"Maafkan aku Nad_"


Nadia tidak peduli pada apapun yang diucapkan oleh Aslan, bahkan sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya Nadia pilih untuk segera pergi dari sana.


"Kenapa kamu meminta maaf pada dia Mas? aku menemui dia agar Nadia menyerahkan rumah itu untuk kita," ucap Cindy, saat ini hanya tinggal mereka berdua di sini sementara Nadia sudah hilang dari pandangan mereka.


"Berapa kali aku harus katakan padamu? bahwa Rumah itu sekarang adalah milik Nadia dan hal itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun!"


"Kenapa? kenapa setelah berpisah kamu masih saja berat sebelah seperti ini? Apa kamu masih mencintai dia?"


"Ya, sepertinya begitu dan aku sangat menyesal memilih kamu untuk jadi pengganti Nadia."


Deg!


Bagaimana bisa Aslan mengucapkan kalimat tersebut dengan begitu tegas, bahkan tatapannya mengisyaratkan sebuah keseriusan.


Disaat Cindy masih terkejut seperti itu, Aslan pun tiba-tiba pergi dari sana begitu saja tanpa memperdulikan istrinya.


Membuat Cindy merasakan sesak yang teramat sangat terasa di dalam daddanya.


Bahkan sampai tenggorokannya terasa tercekat. Sulit untuk bernafas.

__ADS_1


Diabaikan, dicampakkan dan dan bahkan tidak dipedulikan bagaimana perasaannya.


Tanpa sadar Cindy pun menjatuhkan air mata.


"Mas!" panggil Cindy, tapi Aslan tetap berjalan meninggalkan dia sendirian.


Rumah tangga itu benar-benar telah siap untuk hancur, tiap menit menit berlalu retaknya semakin bertambah banyak.


Sementara itu di dalam ruangannya.


Nadia langsung bertemu dengan Devi. Bertukar sapa karena beberapa hari sulit sekali bagi mereka untuk bertemu. Nadia sangat sibuk.


"Apa ini? kamu pakai cincin apa? cincin tunangan?" tanya Devi beruntun, saat dia lihat cincin yang sangat cantik melingkar di jari manis Nadia.


Padahal seingatnya Nadia tidak pernah memakai cincin itu.


Dan ditanya seperti itu Nadia tersenyum kikuk, namun dia mengangguk.


"Wah! kamu mau menikah?"


Nadia mengangguk lagi.


"Berikan undangannya padaku, aku pasti akan datang," balas Devi pula, sangat antusias.

__ADS_1


Dan Nadia pun tersenyum begitu lebar, bahkan jika Devi bertanya siapa calonnya, dia tak akan segan untuk menyebut nama Steve.


Aslan di luar ruangan itu mendengar pembicaraan tersebut.


__ADS_2