Pesona Istri Orang

Pesona Istri Orang
Bab 46 - Seperti Neraka


__ADS_3

Tentang hubungan Nadia dan Steve kini telah diketahui oleh semua orang. Steve bahkan terang-terangan mengatakan rencana menikah mereka saat ada rapat umum untuk seluruh karyawan.


Kabar itu tentu di sambut baik oleh semua orang, kecuali Alsan dan Cindy.


Aslan kini merasa bahwa dia masih sangat mencintai Nadia, di sudut hatinya sungguh tak rela jika wanita itu dimiliki oleh pria lain. Tiap malam Aslan bahkan merindukan sang anak, Zayn.


dia benar-benar merindukan kebersamaan mereka bertiga, meski sebenarnya kebersamaan itu tidak pernah benar-benar ada. karena selama ini hanya Nadia dan Zayn yang menunggu, sementara Aslan selalu sibuk sendiri.


Seolah yang memiliki kehidupan hanya dia sendiri.


Disaat Aslan masih terjebak dengan masa lalunya sendiri, Cindy terus mengutuk semua yang terjadi saat ini.


Berulang kali dia mengatakan di dalam hatinya bahwa Nadia tidak pantas mendapatkan semua kebahagiaan itu. Harusnya dia lah yang bahagia, harusnya dialah yang lebih beruntung.


Cindy melihat ke arah Aslan dan melihat pria itu terus menatap ke arah Nadia. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat di bawah meja.


Jahat kamu Mas! jahat! geram Cindy.

__ADS_1


Harusnya Aslan masih memperlakukan dia dengan istimewa, apalagi di saat dia sedang terpuruk seperti ini. tapi jangankan memberi perlakuan yang istimewa, Aslan bahkan ini seolah tidak menganggap keberadaannya.


Jam 11 siang, rapat umum itu pun berakhir.


Meski sudah mengumumkan tentang hubungan mereka tapi di lingkungan kerja seperti ini Steve dan Nadia masih sama-sama bersikap profesional.


Nadia bahkan masih menundukkan kepalanya memberi hormat kepada sang Direktur Utama sama seperti yang dilakukan oleh karyawan yang lain.


Hal itu pula lah yang makin membuat semua orang mensegani Nadia.


"Astaga ya Tuhan Nadiaaaa, jadi tuan Steve calon suami mu, ampun ampun ampun," ucap gadis itu dengan sangat antusias.


Nadia pun tersenyum lebar, jika dibilang tidak menyangka dia pun merasakannya juga. Tapi kini Nadia tidak ingin ragu lagi tentang hubungannya dengan Steve.


Dia akan sangat yakin, akan menjaga hubungannya yang baru ini.


Telinga Cindy panas sekali mendengar semua pembicaraan itu. Dia ingin langsung pergi dari sana namun urung saat melihat suaminya malah berjalan ke arah Nadia yang sedang dikerumuni banyak orang.

__ADS_1


Cindy jadi menghentikan langkah, dan ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Aslan.


"Nad, ambil berkas di ruanganku, ada beberapa yang aku butuh untuk diperbaiki," ucap Aslan, sungguh permintaannya itu hanyalah sebuah alasan. tak ada dokumen yang benar-benar ingin dia perbaiki tapi dia hanya ingin memiliki waktu untuk bicara dengan Nadia.


karena selama ini mereka seperti kehilangan akses untuk bertemu, apalagi Nadia tidak lagi tinggal di rumah mereka yang lama melainkan sudah tinggal di rumah Steve.


"Baik Pak," jawab Nadia patuh, hingga menghentikan semua kehebohan yang terjadi di sana. Nadia tidak ada sedikitpun lagi perasaan canggung ketika dia bertemu dengan Aslan, tidak ada berdebar ataupun takut, bersama pria ini dia benar-benar telah mati rasa.


Karena kini semua rasa di dalam hatinya sudah tertuju untuk Steve.


Aslan lantas pergi dan Nadia mengikuti, mereka bahkan melewati Cindy yang berdiri tak jauh dari pintu ruang rapat ini.


Melihat Aslan yang tetap berjalan mengacuhkan Cindy, Nadia pun tersenyum miring.


Senyum yang membuat Cindy mengepalkan kedua tangannya kuat.


Kurang ajar!! pekik Cindy di dalam hatinya. lama-lama bekerja di perusahaan ini jadi seperti neraka baginya.

__ADS_1


__ADS_2