
"Ahk," desah kecil itu lolos dari mulut Nadia, tak kala Steve terus menyerangnya dengan ciuman yang menghanyutkan.
Nadia hanyalah wanita dewasa biasa, terus mendapatkan sentuhan lembut begini tentu saja dia terbuai. Belum lagi perlakuan Steve selama ini pun membuatnya merasa begitu dicintai.
Nadia tak bisa menghindari sesuatu pesona sang Direktur Utama, dia telah benar-benar jatuh ke dalam pelukan Steve.
Nadia bahkan menurut saat Steve mengangkat tubuhnya dan di dudukkan di meja kerja, kedua kaki Nadia terbuka dan Steve berada di tengah-tengah. Ciuman mereka terus berpaut dengan begitu mesra, sesekali terdengar suara decapan diantara keduanya.
Sampai Steve merasa tangannya begitu gatal untuk menyusuri tubuh Nadia yang lain, ingin meremas dua dadda yang sejak tadi menempel di tubuhnya.
Namun sekuat tenaga Steve tahan diri, meski hasrat telah dipuncak namun akhirnya dia lepaskan ciuman tersebut.
"Hah," nafas keduanya terengah-engah, sama-sama meraup udara setelah ciuman panjang itu.
Steve tersenyum, menghapus sisa salivanya di atas bibir Nadia.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin mempercepat pernikahan kita, aku sudah sangat menginginkan kamu Nad," ucap Steve lirih, kening dan hidung mereka saling menempel. Berbagi nafas hangat yang makin membuat darrah jadi mendidih.
Nadia sangat tau ke mana arah pembicaraan sang calon suami tersebut, karena Nadia sudah bisa merasakan bagian tubuh Steve yang telah mengeras di dalam sana. Sesekali menyentuhnya dan membuat Nadia pun terlena.
Nadia tidak bisa bohong Jika dia pun menginginkan Steve.
"Akuh, akuh jugah menginginkan kamu Sayang," balas Nadia dengan suaranya yang terengah.
Steve lantas mencium bibir Nadia lagi, kini tangan tak ragu untuk menelusuri tubuh Nadia lebih dalam. Menelusupkan tangannya masuk ke dalam baju Nadia dan melepaskan ikatan bra di belakang sana, lalu maju dan menyentuh langsung kedua dadda itu.
Ciuman pria itu lantas turun dan menyesap leher Nadia dengan kuat, menciptakan tanda kepemilikan yang sangat jelas. Terus turun sampai akhirnya Steve benar-benar mengullum dua dadda itu secara bergilir.
Nadia kehilangan kendali, dia mendesaah dan mencengkeram kuat rambut Steve, seperti meminta lebih dari ini.
"Sayang," panggil Nadia lirih diantara sisa-sisa kesadarannya.
__ADS_1
Steve segera mengangkat wajah. melepas susuannya sendiri, padahal dia sedang sangat menikmati dadda itu.
"Ma-maaf harus mengatakan ini, ba-bagaimana kalu kita daftarkan dulu pernikahannya, baru resepsinya sesuai dengan tanggal yang disetujui mama Fenny," ucap Nadia, sungguh dia pun ingin lebih dari ini. Tapi rasanya tetap saja ada yang mengganjal di dalam hati jika mereka belum resmi.
"Setuju, maafkan aku sayang. aku tidak terpikir ke arah sana," balas Steve, tapi sekarang dia sudah tidak bisa menghentikan permainan ini.
Apa yang sudah terpancing harus sama-sama mereka keluarkan.
Steve lantas memisahkan diri sesaat, dia mengunci pintu ruangan tersebut. Membuka kedua kaki Nadia lebar-lebar dan memuaskan sang calon istri menggunakan lidahnya.
Nadia menjerit tertahan saat gelombang kenikmatan yang telah lama tidak dia rasakan akhirnya kini kembali membuatnya mabuk.
Sungguh, Nadia ingin lebih. Ingin merasakan sesuatu memasuki dirinya.
Namun dia masih cukup sadar untuk tidak melakukannya.
__ADS_1
Dan setelah Steve memuaskan Nadia, kini giliran dia yang membuat Steve mengeram penuh nikmat.