Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Noda!


__ADS_3

"Tolong!" triak seorang wanita yang berada di bawah tubuh seorang pria tanpa busana.


"Em ehm ...." wanita dengan pakaian suster itu terus menggerak-gerakan kepala agar sang pria tidak dapat mencium bibirnya.


"Tollong!" sekali lagi wanita itu bertriak meminta bantuan. Tapi, sepertinya tidak ada yang mendengar.


"Ahk!" pekik sang pria saat telinganya tergigit hingga mengeluarkan darah. Rasa sakit menjalar keseluruh tubuh, sehingga membuat pria dengan tato di dadanya itu melepaskan belenggunya. Ia bangkit dari atas tubuh sang gadis dan nampak meringis menahan sakit. Kini fokusnya sedang teralihkan pada rasa sakit sehingga Kenari memiliki cela untuk berlari.


Satu-satunya hal yang terpikir oleh Kenari ialah keluar dari kamar itu.


Harapannya sirna disaat ia menyadari bahwa pintu itu terkunci.


"Tidak. Aku mohon." gumam Kenari berharap pintu itu terbuka secara ajaib.


Kenari terus saja memutar knop pintu bahkan sesekali menggedornya dan bertriak meminta bantuan.


Kepanikan semakin melanda saat Kenari menoleh ke belakang dan mendapat senyuman jahat dari sang pria bertubuh indah dengan cetakan perut atletis, berlengan kekar, bermata tajam dan sedikit jambang menghiasi area wajahnya.


"Tidak. Jangan mendekat." lirih Kenari. Ketakutan membuat suaranya hampir hilang.


Garuda berjalan pelan ia tahu bahwa tidak ada jalan bagi Kenari untuk kabur darinya.


Jarak mereka semakin terkikis dan Kenari terpojok pada pintu kayu. Pasrah? Haruskah kenari pasrah dengan situasi ini?


Kenari menggeleng dengan wajah penuh ketakutan saat Garuda semakin mendekat. Pria bersetatus pasien pusat rehabilitasi itu nampak mengintimidasi.


Kenari terkejut, hampir saja jantungnya berhenti disaat Garuda memeluknya, melilitkan lengan kekarnya pada pinggang Kenari.


Mata tajam namun indah itu kini menghipnotis Kenari hingga Kenari terdiam tanpa sedikitpun perlawan.


Mereka saling menatap dan mengunci pandangan dalam binar mata.


Tinggi Kenari yang hanya sebatas bahu milik Garuda, membuat Garuda harus menunduk.


Menunduk dan semakin menunduk hingga bibir mereka bertemu Kenari memejamkan matanya, seolah tersihir oleh kecupan Garuda.


Tidak ada lagi penolakan. Tidak ada lagi rasa takut. Kenari menikmati setiap ******* manis dari bibir sang pria dengan setatus pasien gangguan jiwa.


Brak!


Suara keras dari meja yang dipukul membuat Kenari sontak terbangun dari tidur siang.


Ia semakin terkejut saat melihat Rani berdiri di hadapannya. Dengan sigab Kenari lantas berdiri dan mengelab sebagian pipi yang terasa basah karena ngiler.


"Senikmat apa tidur di jam kerja?" tutur tegas Rani.


Nikmat? Kenapa Kenari justru nampak tersipu saat mendengar kata nikmat? Kenari teringat mimpi konyolnya.


"Jawab!" pekik Rani karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Kenari.


"Ma–maaf Bu,"


"Ke ruangan saya." ucapnya seraya berjalan meninggalkan meja resepnionis.


* * *


Cuaca sore itu nampak sedikit mendung dengan semilir angin sepoi-sepoi. Sebagian pasien dan para tenaga medis telah meninggalkan taman. Hingga hanya tersisah Garuda yang masih nampak sibuk dengan alat lukisnya.


Kenari menghembuskan nafas sebelum ia menyapa pria yang sudah hadir dalam mimpi siangnya itu.


"Apa dia pacarmu?" suara perempuan itu menghentikan gerakan tuas yang Garuda pegang.


"Siapa namanya?" sambungnya lagi sehingga membuat sang pelukis berdiri. Namun, enggan untuk menoleh kebelakang.


"Cantik sekali." sepertinya pemilik suara itu tidak mengerti reaksi tidak suka dari sang pelukis.

__ADS_1


Brakkk!


Suara keras dari alat praga yang terlempar membuat Kenari tersentak. Bagaimana tidak, disaat ia telah memuji hasil lukisan yang dibuat oleh Garuda, justru membuat Garuda marah.


Sungguh. Bagaimana mungkin sosok pria seperti Garuda dengan tingkat depresi, hadir dalam mimpinya. Kenari hanya mengerutkan kedua alis jika mengingat mimpi nyeleneh siang tadi.


"Maaf, aku minta maaf. Ayo kita kembali ke kamar." tuturnya lembut. Meskipun sempat terkejut dan merasa takut. Namun, Kenari berusaha bersikap tenang.


Kenari mencoba meraih tangan Garuda. Tapi, Garuda mencekik leher Kenari dan membuat gadis 23 tahun itu sulit bernafas, keributan pun terjadi, tidak sedikit dari suster dan dokter yang mencoba melepas cekikan itu. Tapi sayang semakin direlai, cekikan itu justru semakin kuat, hingga membuat wajah Kenari memerah akibat kekurangan oksigen.


"Gar!" Reza berusaha melepas cengkraman Garuda yang melilit leher mulus suster Kenari.


"Aku mohon, jangan berulah lagi!" Reza sudah sangat kesal dengan ulah brutal sahabatnya itu. Hampir setiap hari ada saja yang terluka oleh perbuatan Garuda. Tapi, sayang permintaan Reza terabaikan bahkan Kenari nampak semakin kesakitan.


"Sudah! Cukup!" bentak Reza dengan menatap marah pada Garuda sehingga membuat Garuda melonggarkan cengkraman tangannya. Kesempatan itu Kenari gunakan untuk melepaskan diri, ia mundur beberapa langkah dari mereka seraya terbatuk-batuk, nafasnya nampak terpenggal-penggal.


"Minumlah." seorang suster lain datang memberikan sebotol air mineral untuk Kenari.


"Kamu oke?" tanyanya lagi.


"Gar!" panggil Reza, karena Garuda berlalu begitu saja.


"Kamu urus dia." perintah Reza pada Suster Dira agar membantu Kenari. Sementara Reza berlari kecil menyusul Garuda.


* * *


Dira membawa Kenari pada kamar istirahat bagi para Suster.


"Aku udah bilang, jangan terlalu menurut jika diperintah, tapi kamu bandel, ngeyel!" tutur Dira seraya mengoleskan saleb pada leher Kenari yang membekas merah.



"Gimana aku bisa menolak perintah dari atasan? Sedangkan aku masih ingin bekerja." sangkal Kenari.


"Ya apa kek, alesan apa gitu. Lagian kamu masih magang dan belum faham benar tentang pasien disini."


"Nggak ada yang nggak mungkin jika kita mau berusaha."


"Aku ragu. Kamu yakin nggak ada motif lain? Aku mencium aloma aneh sejak hari pertama kita dateng."


"Hahaha...." Kenari justru tertawa kaku.


"Aku mencium aloma perbucinan."


"Hussttt!" Kenari menyumpal mulut Dira dengan tisu.


"Behh!" Dira meludah menyemburkan sisa-sisa tisu di mulutnya.


"Dasar! Bucin!" Pekik Dira meluapkan kekesalannya.


"Pasien itu sudah tergolong orang dengan tingkat kejiwaan yang meresahkan, seharusnya dia di isolasi, bukan malah dibiarkan bebas berkliaran gitu aja. Suster Anna, Suster Cici, Suster Miso, dan terakhir Dokter erik. Mereka semua korban kebengisan Sih Tuan Muda Gila itu!"


"Udahlah Ra, nggak usah ungkit yang lalu-lalu, lagi pula Garuda itu pasien kita, kita wajib merawatnya, kan?"


"Modus!"


"Sedikit."


"He'm..." suara Dokter Reza mengalihkan perhatian Dira dan Kenari. Membuat keduanya reflek berdiri dan gugub khawatir jika Sang Dokter yang merupakan sahabat Garuda itu mendengar obralan mereka.


"Bagaimana lukamu?"


"Enggak terlalu serius Dok, hanya sedikit terkejut saja."


"Maaf ya, karena–"

__ADS_1


"Tidak Dokter, jangan meminta maaf ini bukan kesalahan anda, lagi pula sudah menjadi resiko ketika menghadapi pasien, 'kan?" sela Kenari.


"Garuda sedang tidak stabil, tapi dia akan segera membaik." Dokter Reza menatap dingin pada Dira, hingga membuat gadis manis berponi merasa gugub khawatir jika kehilangan pekerjaan.


"Ambil ini," Kenari menerima uluran kotak obat dari Reza.


"Semoga tidak membekas." Kenari mengangguk senang. Perasaan senang Kenari kian menumpuk disaat Reza tersenyum padanya.


"Terima kasih Dokter," balas Kenari.


"Aku yang berterima kasih karena kamu bersedia membantuku mengurus Garuda, seharusnya aku langsung memanggilmu begitu Rani memberi tahu bahwa Kamu yang akan menggantikan Suster Anna, agar bisa menghindari kejadian seperti ini, datanglah ke ruanganku Aku akan memberikan riwayat kesehatan Garuda, apa yang Garuda suka dan tidak suka, itu akan membantu mu." Kenari menanggapi dengan anggukan serta senyuman.


"Sekali lagi terima kasih."


Lagi-lagi Kenari hanya mengangguk dan tersenyum sok cantik. Bahkan disaat Dokter muda itu sudah pergi senyuman Kenari masih saja merekah indah.


"Bener kata orang, kalau sudah cinta, tai kucing-pun terasa lezat." ucab Dira setelah Dokter Reza menjauh pergi. Merasa risih dengan kelakuan sahabatnya itu.


* * *


"Kenapa menugaskan Kenari untuk merawat Garuda?" suara itu mengalihkan perhatian Rani dari laptopnya.


"Kenari masih Suster magang, belum banyak pengalaman bagaimana jika dia terluka karena salah langkah? kamu tahu benar, emosi Garuda masih belum stabil dan dia–"


Rani tersenyum remeh dan bangkit menghampiri Reza, berdiri tepat saling berhadapan.


"Kenapa baru menyadarinya?"


"Ran–"


"Za!" Rani memekik kesal.


"Kamu tahu bahwa emosi Garuda tidak stabil, dia butuh perawatan ekstra, ruangan kusus. Tapi, Kamu dengan santainya mengatakan, esok semua akan membaik dan lihat sudah berapa tenaga medis yang terluka bahkan nyaris kehilangan nyawa gara-gara Garuda? Oke dia sahabat kamu, kamu tidak tega jika dia di isolasi, lalu siapa aku? Posisi kita sama Za! Kita sama-sama terluka."


"Garuda tidak seburuk itu Ran, dia hanya butuh perhatian dan sedikit perawatan."


"Jangan membual Za, kamu lupa aku juga seorang dokter?"


"Terserah!" Reza berlalu meninggalkan ruangan Rani.


* * *


Suara pintu terbuka tidak membuat Garuda mengalihkan perhatiannya dari bingkai foto yang ia pegang.


Reza menghembuskan nafas lelah sebelum ia memasuki bilik itu. Berjalan mendekati Garuda yang tengah duduk di bawah jendela.


"Perawat itu baik-baik saja." ungkap Reza seraya duduk di samping Garuda.


"Namanya Kenari. Usianya 23 tahun, dia gadis yang ceria dan bertanggung jawab. Mulai sekarang dia yang akan membantumu, aku harap, kamu bisa bersikap baik padanya."


"Aku tidak butuh bantuan siapa pun. Aku masih bisa mengurus diriku sendiri." tatapan Garuda masih lekat pada sosok wanita dalam foto.


Reza menepuk bahu Garuda, berharap mampu meringankan beban di pundak sahabatnya itu.


"Melur cantik, 'kan?" ucapan itu sontak membuat Garuda mengalihkan pandangannya pada Reza.


Mendapat reaksi seperti itu membuat Reza meringis sok lugu.


"Jangan bicara tentang Melurku, atau aku akan menghabisimu." lirih. Namun, terdengar mengerikan. Hal itu tidak membuat Reza gemetar atau pun lari seperti para rekannya.


Reza hanya menggut-manggut seraya memasang wajah sok imut dengan bibir mengerucut.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2