Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Terluka


__ADS_3

"Apa!" jawab Garuda saat Reza memberi tahu bahwa dia membawakan bunga anyelir untuk Kenari.


"Uwih... Selow bro, bukan bunga bank." sambung Reza.


"Kamu bego atau beloon?"


Reza menggeleng.


"Nggak ada pilihan ke 3 bro? Bego dan beloon masih satu emak loh ini,"


"Ck." Garuda bercak pelan. Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa pria tinggi dengan otot bagus itu adalah dokter.


"Kenawhy?" tanya Reza.


"Kamu tahu nggak sih, kalo—"


"Sebentar." Reza memutus ucapan Garuda karena ponselnya berdering dan tertera nama Kenari pada layar ponselnya.


"Hehem, baik, oke." ucap Reza pada Kenari melalui sambungan telponnya.


Meskipun Garuda tidak bersuara tapi Reza bisa menebak bahwa Garuda penasaran dengan percakannya bersama Kenari.


"Kenari sangat menyukai bunga pemberianku bahkan dia bilang sangat senang." Reza tersenyum manis.


"Em, aku kerja dulu ya." Reza menepuk pundak Garuda lalu pergi begitu saja.


Langkah Reza nampak terburu-buru hingga membuat Garuda menggeleng heran.


***


"Hai...." sapa Reza pada Kenari.


Kenyataannya adalah saat Kenari menelpon beberapa waktu lalu, dia ingin meminta bertemu dan sudah menunggu di taman rumah sakit.


"Ada apa? Kamu baik-baik sajakan?" tanya Reza. Merasa janggal karena Kenari masih sakit dan justru meminta bertemu.


"Em— itu...." Kenari ragu untuk mengatakan tujuan awalnya ingin bertemu.


Siapa yang tidak marah ketika sedang sakit justru dibawakan bunga anyelir yang memiliki makna kematian.

__ADS_1


Apakah Reza berharap Kenari segera mati?


"Ada apa?" tegas Reza lagi.


"E—tidak, aku hanya ingin bertanya apakah Mas Garuda baik-baik saja? Aku baru ingat dia sering kesulitan tidur saat malam dan selalu mengonsumsi obat, beberapa hari lalu aku mengganti obatnya dengan vitamin dan memberinya satu gelas susu hangat, aku bahkan menemaninya sampai tertidur, tiba-tiba saja aku terpikir hal itu." ucap Kenari. Sungguh rasa sungkan untuk bertanya membuatnya berada di dalam posisi tidak nyaman bahkan mulutnya bicara ngalor-ngedol tidak terkontrol.


Kenari meringis lalu menggigit kuku pada jari telunjuknya.


Tidak pernah dia merasakan tidak nyaman seperti saat ini.


"Kamu mengganti obat dengan vitamin?"


"Eiya Dok, maaf."


"Apa kamu selalu memeriksa setiap Garuda meminum obat?"


"Eiya,"


"Kamu tahu semua jenis obat yang Garuda kosumsi?"


"Sedikit Dok."


"Kamu yakin tahu jenis obat?"


Kenari mengangguk.


kini Kenari merasa seperti Reza tidak percaya dengan pengakuannya.


"Aku loh yang membuat resep obat untuk Garuda."


Mata Kenari membulat. Siapa sangka ternyata dia berhadapan dengan dokter yang ia ganti resrp obatnya.


Jija sudah seperti ini Kenari semakin merasa canggung dan bingung untuk mengambil sikap.


"E—itu...."


"Dan semua obat-obatan Garuda adalah vitamin, juga supelmen tubuh. Kamu yakin bisa membedakan jenis obat dengan vitamin?"


"Eitu, itu—" mati kutu. Kini Kenari tidak berkutik, niatnya seolah berbalik.

__ADS_1


Seharusnya yang berada di posisi seperti ini adalah Reza. Tapi, ternyata sekaranglah dia yang dibuat mati kutu oleh pengakuannya sendiri.


"Masak iya sih aku yang nggak tahu resep obat? Atau farmasi yang salah baca?"


sikap Reza justru semakin membuat Kenari kikuk. Alangkah baiknya jika Reza memarahinya saja ketimbang bersikap seolah seorang dokter sedang dibodohi suster.


Tiba-tiba Reza terdiam dan detik berikutnya dia baru menyadari bahwa dia salah berucap dengan mengatakan obat yang dikosumsi Garuda adalah supelmen. Padahal tidak ada yang boleh tahu bahwa Garuda baik-baik saja. Beruntung Kenari tidak menyadarinya.


Ataukah sangking bingung dan didera rasa tidak nyaman sehingga membuat Kenari tidak menyadari suatu kesalahan dalam percakapannya dengan Dokter tampan itu.


"Ahahaha...." tawa Reza berhasil membuat kening Kenari berkerut.


"Aku becanda, ternyata kamu pintar tidak salah Rani memberimu tugas itu."


Kenari tersenyum kaku antara yakin dan ragu.


***


Rani menekan saklar lampu pada tembok di sisi pintu kamarnya, sehingga kegelapan tidak lagi menyelimuti ruangan 4 persegi itu.


Waktu di layar ponselnya menunjukan pukul 10 malam, ia meletakan ponsel pada meja rias yang terletak di sudut ruangan dekat dengan jendela dengan tirai biru yang menjulang tinggi.


Rani menarik tirai sihingga nampak pemandandangan pada kaca jendela.


Yang menarik baginya bukanlah pemandangan kota diwaktu malam dengan kelap-kelip lampu jalan yang terlihat indah dari ketinggian.


Rani menyeringai.


Memandangi foto Garuda Al-Irsyad yang tertata rapih pada jendela kaca sehingga membuat jendela itu beralih fungsi menjadi figura.


"Kematian terlalu muda untukmu," Rani mengusab salah satu foto Garuda dengan setelan kaos putih berlogo dengan sandal jepit dan gitar yang seperti sedang ia mainkan, terlihat Garuda menunduk memperhatikan petikan jari pada senar gitarnya.


Lagi-lagi senyuman Rani bertanggar di bibir manisnya.


"Kenapa tidak dari dulu aku memberinya obat, bodohnya aku, seharusnya dia sudah sakit-sakitan karena efek samping." Rani mengakhiri ucapannya dengan tertawa nyaring, menggambarkan rasa senang dalam hati.


"Awalnya akan sulit tidur, terganggu dan semakin hari akan semakin tertekan dan BUAM! Hahahaha ... Tubuh indahnya akan kurus kering wajah tampannya berubah keriput dan pikirannya hahaha ... Pikirannya akan benar-benar gila, tidak, bukan gila hanya sedikit tidak waras, hahahaha ...."


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2