Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Hati Nurani


__ADS_3

Keributan terjadi di pagi hari, kali ini bukan pasien yang berulah, tapi salah satu wali dari pasien rumah sakit jiwa.


"Ada apa sih Bang?" tanya Kenari yang baru saja memasuki lobi setelah ia mengisi absen.


"Entahlah, denger-denger sih, wali dari Ibu Maya tidak setuju jika Ibu Maya melakukan perawatan untuk sakit paru-parunya." jawab Hari, rekan Kenari.


"Loh, bukannya kondisi Bu Maya sudah menghawatirkan?"


"Entahlah, aku juga heran ada ya anak seperti mereka. Alasannya mereka tidak cukup biaya jika Bu Maya menjalani pengobatan."


"Ya tapi, 'kan—" ucapan Kenari menggantung saat ia melihat Garuda keluar dari lif.


Kenari memperhatikan arah Garuda berjalan yang rupanya menuju taman.


Keributan semakin terdengar bising dengan segala ocehan dari anak Bu Maya sedangkan Bu Maya hanya duduk di kursi roda.


Kenari berjalan terburu-buru saat perawat dan anak Bu Maya berebut kursi roda yang Bu Maya duduki.


"Stop!" triak Kenari hingga mampu membuat mereka terdiam. Tidak hanya itu bahkan Garuda yang masih berjalan pun ikut berhenti, tapi ia enggan untuk berbalik badan guna melihat sumber suara itu.


"Ada apa ini? Kenapa tingkah kalian malah seperti pasien?"


"Jaga mulutmu!" sulut Anak dari Bu Maya yang mereka kenal bernama Mala.


"Kenari—" ucap Dira, karena ia tahu Kenari pasti akan membuat kacau suasana.


Menanggapi sikap Dira, Kenari hanya mengangguk pelan.


"Ta—" Dira mengurungkan niatnya untuk bersuara, karena kini Kenari bersimpuh menjajarkan tubuhnya menyamai Bu Maya yang sudah menangis.


"Tidak apa-apa Bu, tidak perlu menangis, kami akan menjaga Ibu." ungkap Kenari dengan lembut.


Membuat Mala melipat tangan ke perut dan tersenyum remeh.

__ADS_1


Sementara staf rumah sakit merasa ambigu dengan perubahan Kenari. Mereka tidak menyangka Kenari bisa bicara lembut.


"Dira, bawa Bu Maya masuk dan siapkan perawatannya." pinta Kenari, seraya bangkit berdiri tegab menghadap Mala.


"Aku sudah bilang akan membawa pulang Ibuku, kamu tuli atau budek?"


Saat itulah Rani dan Reza memasuki lobi, mereka saling pandang tidak mengerti dengan hal yang baru mereka saksikan.


"Diam!" pekik Pelangi lagi-lagi suara lantangnya itu membuat Mala bungkam. Bagaimana bisa tubuh semungil Kenari tapi memiliki notasi suara yang tinggi dan cempreng, bahkan terdengar menggema keseluruh ruangan.


"Aku yang akan membiayai pengobatan Bu Maya, jadi jangan melarang kami dan silahkan anda pulang, kami harap anda tidak lagi datang kemari."


"Cih..." Mala pergi setelah meremehkan Kenari.


***


"Ibu memanggil saya?" ucap Kenari setelah mengetuk pintu dan memasuki ruangan Rani.


"Duduk." pinta Rani yang langsung di laksanakan oleh Kenari.


"Maksud Ibu?"


"Kamu bersedia membiayai pengobatan Bu Mala, itu artinya Kamu memiliki banyak uang dong."


"Ti—"


Brak!


Rani memukul meja membuat Kenari tersentak kaget.


"Masuk!" perintah Rani saat terdengar suara ketukan pintu.


"Ibu memanggil saya?" tanya Dira.

__ADS_1


"Siapkan kepulangan Bu Maya." sontak membuat Kenari dan Dira saling memandang terkejut.


"Dengar?"


"I—iya Bu." jawab Dira.


"Tapi Bu, saya yang akan bertanggung jawab." sela Kenari.


"Kamu mau pamer kekayaan?" tanya Rani.


"Tidak Bu, bukan seperti itu—"


"Keluar,"


"Tapi—"


"Keluar atau aku yang akan menendang Mu!"


"Enggak! Aku tidak setuju dengan keputusan Ibu. Dimana hati nurani Ibu? Ibu tega membiarkan orang teraniaya, padahal Ibu mampu menolongnya. Aku tidak akan membiarkan hal buruk menimpah pada Bu Maya." ucap Kenari sebelum ia meninggalkan ruangan.


* * *


Kekesalan terhadap sikap Rani membuat Kenari kehilangan mood di pagi hari, ia bahkan tidak tahu arah tujuannya berjalan.


"Kenapa aku kesini sih?" gumam Kenari, ia segera berbalik badan guna meninggalkan taman yang sepi itu. Namun, niatnya itu ia urungkan ia justru berdiri tegab dengan kedua tangan di pinggang lantas ia menengadahkan kepala melihat rindangnya pohon akasia berukuran besar yang menaungi sekitaran taman.


"Kenapa! Apa karena aku orang miskin terus dilarang membantu orang lain?" pekik Kenari dengan kekesalan.


"Kalian orang kaya selalu saja belaga lenggak-lenggok dengan pakaian bagus tapi saat melihat orang lain kesulitan, kalian justru berpura-pura tidak melihat!" Kenari sangat jengah, meluapkan kekesalannya pada pohon yang tidak bersalah.


Tanpa ia sadari bahwa Garuda memperhatikan dari kejauhan.


* * *

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2