
"Paket bunga lagi?" tanya Kenari pada Dara yang bertugas di meja resepsionis.
"Ya, seperti biasa. Dari pengagum rahasia," tutur Dara dengan sedikit tersenyum jail, seraya mengulurkan buket bunga mawar merah yang cukup besar kepada Kenari.
"Asem banget wajahmu, harusnya tuh seneng tiap hari dapet bunga,"
"Aku mulai takut Dar, kalo ini ada hubungannya sama bangkai tikus waktu itu,"
"Ya jelas bedalah. Ini bunga dan kemarin bangkai, jangan Kamu gabungkan antara bunga dan bangkai, ntar yang ada bungai bangkai." keluh Dara seraya menggeleng heran dengan sikap Kenari.
"Kamu buang aja deh bunganya." Kenari meletakan kembali buket bunga di atas meja lalu berjalan ke arah tangga darurat.
Mungkin dengan menghirup udara melalui atap gedung akan membuat Kenari sedikit merasa tenang.
Perlahan langkah Kenari menapaki tiap anak tangga hingga ia tiba pada lantai tertinggi gedung itu.
Langkahnya terpaku pada ambang pintu penghubung antara gedung dan atap.
"Selesaikan dengan sehalus mungkin, jauhkan dari jangkauan media. Kita bisa kebal hukum tapi tidak dengan media." ucap Garuda pada seorang pria dengan setelan jas rapih berwarna hitam.
"Baik Tuan,"
"Urus jasadnya dengan baik berikan uang yang cukup untuk keluarganya." sambung Garuda.
__ADS_1
"Apa sebagian tubuhnya sudah ditemukan?"
"Ya, kami menemukannya di atap rumah Bu Maya."
"Rapihkan barang buktinya, jangan sampai ada yang tahu,"
"Kami akan mengurusnya sesuai perintah Anda Tuan." Gavin menunduk hormat sebelum ia berbalik untuk pergi.
Tapi, langkah Gavin berhenti ketika ia melihat Kenari berdiri kaku di depan pintu.
Dengan wajah pucat Kenari melangkah mundur.
"Aku yakin, aku tidak salah dengar, mereka membunuh seseorang." gumam Kenari pelan.
"Tangkap dia," perintah Garuda pada Gavin. Jelas saja hal itu dapat di dengar oleh Kenari sehingga Kenari lari menuruni anak tangga dengan sangat tergesah-gesah.
Kenari berharab menemukan seseorang yang akan menolongnya. Anak tangga yang tidak seberapa banyak kini terasa sangat panjang dan melelahkan.
Hanya satu hal yang ada dalam pikiran Kenari, yaitu lari dan memberi tahu pada semua orang tentang rahasia yang dia dengar.
Perasaan Kenari sedikit lega saat sudah di ujung tangga, itu artinya tinggal beberapa langkah lagi ia sampai pada lobi dan disana semua orang berkumpul.
Mungkin jika di keramaiyan dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
Ya dugaan Kenari benar bahkan ia melihat Dara berdiri di balik meja kerjanya.
"Dar— Ehm-ehm...." seketika Kenari pingsan saat sapu tangan kecil mendarat pada area mulut dan hidungnya.
Gavin segera membopong tubuh lemah Kenari, kembali menaiki anak tangga.
"Sial," gumam Garuda saat Gavin meletakan tubuh lemah Kenari pada lantai balkon.
Sungguh Garuda menyesali kenapa Kenari bisa terlibat dalam masalahnya.
"Kami akan mengurusnya Tuan." Gavin nampak menekan aerphon yang terpasang di telinganya.
"Kita buat rencana B, atur kepulangkanku terlebih dulu."
"Tapi Tuan, Mereka akan tahu bahwa anda tidak berada disini. Bagaimana jika Mereka kembali mengungkit tentang kematian Nona Shima? Kita belum siap untuk menghadapinya Tuan."
"Benar. Kamu benar Vin, aku masih menjadi tersangka pembunuhan berencana itu." lirih Garuda.
"Sebaiknya kita lenyepkan saja wanita ini." ujar Gavin.
"Urus dengan baik, jangan sampai meninggalkan jejak."
"Baik Tuan," Gavin membungkuk sebelum meninggalkan tubuh Kenari bersama Garuda.
__ADS_1
***
Bersambung.