Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Tentang Rasa Takut Dan Tertekan.


__ADS_3

"Apa lagi yang Kamu tahu?" Kenari menatap Garuda penuh kebencian.


Garuda tersenyum sarkas, menertawakan tingkah Kenari yang kerab berubah-ubah, jika beberapa hari lalu Kenari menatapnya dengan mata berbinar, kini justru sorotan tajam yang terpancar dari bola mata gadis manis itu.


"Aku bahkan tahu seseorang yang selalu menguntitmu."


"Hentikan, jangan pamer kehebatanmu Tuan, katakan saja siapa penguntitku."


"Lalu apa yang akan Kamu lakukan setelah mengetahuinnya?"


Kenari terdiam.


"Terima tawaranku dan dapatkan keuntungan dari kerjasama kita, selain uang Kamu juga akan mendapatkan bukti ancaman atas dirimu. Lagi pula pembunuhan anak Bu Maya masih berhubungan denganMu."


Kenari menarik kedua alisnya.


Bagaimana bisa ia terlibat dengan kasus mutilasi itu.


"Jangan menyeretku! Aku mendengarmu dan pria ini membicarakan kasus mutilasi itu."


"Ya, apa Kamu mendengar jika Aku pelakunya? Tidak, 'kan?"


Kenari terdiam, ia tidak mengerti kenapa Garuda seperti ini.


Dan kenapa dia terseret dalam kasus yang sama sekali tidak berhubungan dengannya.


"Kamu mencoba menjebakku?"


"Entahlah...."


"Jahat!"


"Berhenti menghardikku atau aku akan benar-benar membuatmu bertanggung jawab untuk kesalahan yang tidak Kamu perbuat!" ucap Garuda dengan tegas dan dingin.


Kenari tersenyum, ia menertawakan nasibnya sendiri.


"Kamu menjebakku, memberi pilihan antara dibunuh atau bunuh diri, lalu apa namanya jika bukan jahat?" pertanyaan Kenari membuat Garuda menajamkan pandangannya.


"Apa ciuman kemarin ada hubungannya?" sambung Kenari.

__ADS_1


"Lakukan saja perintahku!" mengungkit tentang ciumannya seketika membuat Garuda semakin kesal. Nada bicara Garuda juga penuh dengan penekanan.


"Atau aku akan benar-benar membuat hidupmu seperti di Neraka."


Itu bukan sekedar gertakan bahkan bibir Kenari bergetar karena menahan tangis, kedua bola matanya pun nampak memerah karena menahan amarah tapi tidak berdaya.


Salahkah jika Kenari kecewa ketika mengingat ciumannya bersama Garuda beberapa hari lalu?


"Urus Dia." perintah Garuda pada Gavin.


Gavin membungkuk hormat sebelum ia berjalan dan membuka sebuah lemari kayu yang memiliki 3 pintu besar.


Terdapat beberapa pakaian yang menggantung di dalam lemari, hingga akhirnya Gavin menyingkirkan gantungan itu dan menekan tombol kecil pada sudut lemari.


Seketika dinding lemari bergeser dan menampakan sebuah ruangan.


"Mari." minta Gavin pada Kenari agar Kenari memasuki lemari.


Meskipun ragu Kenari tetap mengikuti perintah Gavin dan menghilang di dalam lemari


Kenari menatap heran dengan ruangan besar dengan berbagai buku tersusun rapih pada rak tinggi.


Menuruni anak tangga hingga sampai pada ruangan lain.


Guratan takjub pada wajah manis Kenari saat melihat hal yang baru baginya karena saat ini ia merasa dalam ruangan yang persis dengan Drama Korea bergendre detectif.


layaknya ruangan rahasia bawah tanah, yang dilengkapi teknologi canggih dengan berbagai layar digital menyatu diantara dinding.


"Ap—apa ini cctv yang kamu retas seperti dalam Drakor?" akhirnya pertanyaan pertama Kenari keluar.


Sayang sekali pertanyaan itu tertuju justru pada Gavin bukan Garuda, sehingga membuat sang peretas memincingkan satu alisnya.


"Maaf Nona—"


"Tidak usah meminta maaf, aku tahu Kamu hanya menjalankan perintah." sela Kenari sebelum Gavin menyelsaikan ucapannya.


Gavin melempar pandangan pada Garuda yang berdiri di belakang Kenari.


Garuda hanya mengangkat kedua bahu.

__ADS_1


"Siapa Kalian?" pertanyaan kedua Kenari setelah Kenari mendekati layar digital yang menampilkan setiap sudut Rumah Sakit Jiwa, tempatnya bekerja.


Tidak hanya itu, bahkan banyak alat-alat yang tidak ia fahami fungsinya.


"Apa Kalian Mafia?" sambung Kenari.


"Kalian komplotan pembunuh berantai? Pengumpul organ tubuh manusia? Ahhh" Kenari menarik nafas dengan mata membolak lebar dan mulut menganga.


"Apa Aku akan mati, karena mengetahui rahasia Kalian?"


Deg! Sesaat pikiran itu membuat tubuh Kenari gemetar, bagaimana jika ia dihabisi dalam ruangan rahasia ini?


"Bodoh." gumam Garuda. Namun, masih bisa di dengar oleh Kenari dan Gavin.


"Ap—apa yang harus aku lakukan?" tanya Kenari.


Garuda tidak menyangka akan semudah ini membuat Kenari berada dalam genggamannya.


"Siapa sangka hanya melihat ini membuat nyalimu hilang."


Sungguh, jika sebelumnya Kenari selalu tidak suka diremehkan sekarang ia justru tidak peduli tentang hal itu.


Baginya nyawa lebih penting saat ini.


Garuda tersenyum.


"Bodoh." gumamnya lagi.


***


"Astaga! Kenapa Kamu bisa basah seperti ini?" tegur Dara saat Kenari baru saja keluar dari lif.


Hachi!


Kondisinya dengan pakaian yang basah terlalu lama membuat kekebalan tubuh Kenari menurun dan akhirnya bersin-bersin.


Dara memapah tubuh Kenari membawanya menuju kamar istirahat bagi para suster.


****

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2