Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Percikan


__ADS_3

Sudah genap 3 hari Kenari dirawat dan pagi ini Dokter memberikan ijin pada Kenari untuk pulang dengan syarat lusa harus kembali untuk memeriksa luka jahitannya.


"Terima Kasih Dokter," ucap Kenari sebelum tim medis pergi.


Nampak Garuda yang masih duduk di sofa panjang, melihat keseriusan Garuda pada laptopnya, Kenari dapat menebak jika Garuda bukan hanya bermain game ataupun berselancar di tik-tok.


Pandangan Kenari beralih pada Gavin yang merapihkan obat-obatan dari laci, lalu memasukannya pada plastik kecil berwarna bening.


Kenari menghela nafas, sekelibat terpikir kemana ia akan pulang.


Sedangkan sampai detik ini polisi belum bisa menangkap Dara.


Bisa saja Dara tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Tapi, tidak ada pilihan lain Kenari harus pulang untuk mengambil sisa pakaian dan beberapa barang di kos-kosannya, lalu ia berniat mencari kosan baru.


Kenari menunduk memegang bahunya yang masih terbalut kain kasa. Jika saja Garuda atau Gavin membantunya untuk mencarikan kontrakan yang baru, mungkin akan lebih mudah bagi Kenari.


Tapi, meskipun Kenari berpikiran seperti itu tetap saja harga dirinya menolak untuk meminta bantuan pada kedua pria itu.


Terlebih Kenari masih kesal pada Garuda pasca hinaan yang ia terima semalam.


"Dia sudah melukai harkat martabatku." gumam Kenari dengan menatapi Garuda yang sibuk menekan nekan tombol pada laptopnya.


Seorang suster datang dengan membawa kursi roda yang segera di ambil alih oleh Gavin.


Kenari mulai menurunkan kakinya dan menginjak ubin.


Saat Kenari akan berdiri tiba-tiba Garuda menyentuh lengannya.


Reflek Kenari menyibakan sentuhan Garuda.


Ego Kenari melarangnya untuk menerima bantuan dari Garuda.


"Jangan menyentuhku. Bukankah Juniormu akan tersinggung karena 2 buah dadaku tidak masuk dalam daftar paporitnya?"


Entah bagaimana bisa Kenari mengatakan hal sensitif seperti itu. Apakah Dia tidak menyadari bahwa selain Garuda, juga ada Gavin dan suster yang dapat mendengarnya.


Bahkan reaksi wajah Gavin dan Suster jauh lebih aneh dari Garuda. Reaksi orang yang terkejut bercampur bingung dan malu.

__ADS_1


"Suster, bisa bantu aku untuk duduk di kursi roda?"


Mendengar permintaan Kenari lantas Garuda menyingkir dan Suster itu mendekati Kenari, memapa tubuh Kenari dan membantunya duduk pada kursi roda.


"Terima kasih," ucap Kenari.


"Tapi, sebenarnya aku tidak membutuhkan kursi roda, yang terluka bahuku bukan kakiku, aku masih kuat berjalan bahkan sampai bermil-mil kilo meter untuk mencari kontrakan baru." ucap Kenari yang hanya mendapat senyuman dari Suster cantik itu.


Tentu saja Kenari mengatakan hal seperti itu dengan harapan 2 pria di dekatnya peka terhadap kesulitan yang sedang mengganggunya.


Kenari menghela napas sebelum akhirnya ia meminta Suster mendorong kursinya untuk sampai ke lobi.


***


"Suster bisa tolong pesankan aku taksi online, aku harus mengelilingi kota besar ini untuk mencari tempat berteduh." pinta Kenari saat sudah berada di lobi.


"Baik Mbak." sang suster mulai sibuk dengan ponselnya.


Sedangkan Garuda hanya diam saja dengan tangan kanan ia masukan ke dalam saku celana.


Berdiri menunggu sopir yang datang membawakan mobil.


Gavin membuka pintu mobil untuk Garuda.


"His... Dasar pria tidak pekak." gumam Kenari saat Garuda sudah memasuki mobil.


"Loh...." Kenari heran mengapa tas kecil yang berisi barang miliknya Gavin masukan ke dalam bagasi mobil.


"Silahkan Nona." Gavin meminta Kenari untuk masuk setelah ia membukakan pintu mobil.


"Tidak, aku tidak mau. Aku bisa mengurus diriku sendiri." tolak Kenari.


Bukankah Kenari harus memiliki sedikit harga diri dengan sok jual mahal.


"Masuk." suara Garuda terdengar dari dalam mobil.


"Tidak akan." tolak Kenari.

__ADS_1


"Anda harus ikut Kami, Nona. Anda memiliki hutang pada Tuan." sambung Gavin.


Garuda tersenyum tipis mendengar ucapan Gavin. Sungguh, Gavin adalah asisten yang bisa diandalkan. Ia seolah tahu isi kepala tuannya.


"Anda harus melunasi biaya rumah sakit, itu sebabnya Anda harus ikut Kami."


"Astoge! Apa kalian tidak percaya padaku?"


"Maaf Nona."


"Aku tidak akan kabur, aku pasti akan membayar hutang-hutangku!" Kenari berusaha meyakinkan Gavin.


"Anda harus ikut Kami."


"Ais... Apa itu rahasia dari kekayaanmu? Kamu sangat pelit dan hemat." Kenari bicara dengan menatap Gavin. Tapi, sepertinya ucapan itu ia tujukan untuk Garuda.


"Aku bisa sendiri!" tolaknya saat Gavin akan membantunya berdiri dari kursi roda.


Kenari menutup pintu mobil dengan keras sehingga menimbulkan suara. Bahkan Kenari duduk memepet pintu guna menjaga jarak dari Garuda.


Perlahan mobil melaju meninggalkan area rumah sakit.


Terbesit rasa sedih dalam benak gadis manis itu.


Masih teringat dengan jelas saat pertama kali ia membuka mata pasca oprasi, dan betapa menakutkannya tragedi malam itu, malam yang menghilangkan nyawa seseorang.


Salahkah jika saat ini Kenari menyesalinya?


Jika saja ia tidak mengikuti perintah Rani untuk pergi bersama, jika saja ia dapat mengenali sifat asli Dara, jika saja ia sedikit pintar mungkin saat ini adokter Rani masih berada di dunia yang sama dengannya.


Tapi, menyesal dan menyalahkan diri tidak akan mengubah keadaan dan mengembalikan waktu. Kenari sadar bahwa ia hanya perlu belajar dari pengalaman serta memetik hikmah atas cobaan yang menimpahnya.


Hikmah?


Kali ini Kenari menghembuskan nafas, mengingat hikmah apa yang mampu ia petik dari musibah ini.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2