Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Diam Adalah Emas


__ADS_3

Kenari membuka mata dan melihat Garuda yang duduk pada sofa panjang di sudut ruangan dengan sebuah laptop dan setumpuk map di sisinya.


"Sudah jam 12 malam, kenapa belum tidur?"


Kenari tidak menyangka ternyata Garuda tahu jika dirinya masih terjaga.


"Kamu perhatiin aku?" tanya Kenari, karena merasa heran pada Garuda, padahal jelas mata Garuda fokus pada map dan laptop tapi bagaimana Garuda tahu jika Kenari belum tertidur.


"Cih ... Terlalu percaya diri tidak baik untuk tumbuh kembang otakmu." Garuda berbicara. Namun, fokusnya masih pada laptop.


"His ... Apa sih, aku tuh tanya serius bukan berarti aku kepedean dong. Lagian aku nggak bisa tidur kalo lampunya terang benerang kayak gini." ucapan Kenari kali ini mampu membuat Garuda mengalihkan perhatiannya.


Garuda mengambil remot di dekatnya lalu mematikan lampu, sehingga ruangan itu menjadi tamaram karena hanya lampu kecil di atas nakas yang menyala.


"Cepet tidur, agar segera sembuh. Tagihan rumah sakit sudah semakin banyak." ucap Garuda seraya menatapi layar laptopnya.


"Pelit!" hardik Kenari yang tidak mendapatkan respon dari Garuda.


"Apa Kamu selalu tidur larut malam?" kali ini suara Kenari membuat Garuda mengangguk.


"Enggak juga, Kamu, 'kan selalu menemuiku saat malam, memberiku segelas susu hangat, menyelimuti tubuhku dan duduk dengan memandangi ketampananku saat aku memejamkan mata."


Kenari memincingkan bibir atasnya.


"Kalo aku tahu dari awal bahwa Kamu menipuku, aku ogah baik-baikin Kamu, ngurusin Kamu, nemenin Kamu, jagain Kamu, ngambilin handuk saat Kamu mandi."


Kenari terdiam setelah mengingat masa-masa itu.

__ADS_1


Benar juga dulu Kenari selalu menemani Garuda hingga kerab tertidur di samping ranjang dan anehnya ketika ia terbangun ternyata sudah di atas sofa panjang yang berada di dekat jendela.


"Jujur deh, Kamu mindahin aku, 'kan?" tanya Kenari.


"Ngomong yang jelas, jangan setengah-setengah."


"Aku inget kok, sering ketiduran di kursi kecil dekat ranjang. Tapi pas pagi kebangun udah di sofa panjang."


"Menurutmu?"


Mata Kenari melebar sempurna dengan mulut mengangah dan kedua tangan ia silangkan pada dadanya.


"Kamu nyentuh-nyentuh aku! Dasar om-om mesum, Kamu nyuri kesempatan saat aku tidur, 'kan? Iya, 'kan, kan, kan kan!"


"Ais... Berisik." gumam Garuda.


Sungguh Garuda sangat terganggu ketika Kenari menyebutnya mesum.


Melihat Garuda berjalan pelan ke arahnya membuat Kenari menarik selimut hingga sebatas dada.


"Ap—apa?" kegugupan Kenari semakin menumpuk disaat Garuda berdiri begitu dekat dengannya.


Wajar jika Kenari merasa sedikit takut, terlebih dengan situasi yang seperti ini, Kamar tertutup dan gelap hanya ada satu pria sehat dan satu wanita yang sedang dalam pemulihan luka.


Jika Garuda meng ***-*** dirinya mungkin Kenari tidak bisa melawan, dan ia teringat pada mimpinya beberapa hari lalu.


Lagipula Garuda pernah menciumnya dengan paksa, hal itu semakin membuat pikiran Kenari melebar kemana-mana.

__ADS_1


"Ck... Bahkan kamu tidak bisa membuat Juniorku bereaksi, jadi berhentilah bersikap sok cantik."


"Jujujunior?" wajah Kenari diliputi kebingungan.


Hingga akhirnya Garuda melipat kedua tangan ke depan dan menunduk seolah memberi tahu Kenari siapa itu Junior.


Seketika Kenari melotot dengan mulut membuka lebar.


Meskipun Kenari sudah bisa menebak siapa Junior. Tapi, ia ingin memastikan apakah Junior Garuda sama dengan yang ada di pikiran Kenari.


"Jika Juniorku saja tidak tertarik padamu, lalu bagaimana bisa Kamu menyebutku mesum? Cih... Bahkan ke 2 tonjolan di dadamu itu terlalu kecil dan tidak masuk dalam daftar ktariaku."


Kenari terlalu terkejut hingga kedua bibirnya keluh. Bagaimana bisa Garuda berbicara seperti itu?


Sangat tidak sopan.


"Cih, bodoh...." Garuda kembali duduk pada sofa panjang dan sibuk dengan pekerjaannya. Ia mengabaikan Kenari begitu saja.


Melihat tingkah Garuda yang seolah tidak berdosa karena sudah membuatnya malu sekaligus insecure dengan hal yang ia miliki membuat Kenari geram ia menatap wajah Garuda dengan sinis dan penuh dendam.


Garuda mengangkat pandangannya seiring dengan Kenari yang menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.


Tingkah Kenari itu, lantas membuat Garuda nampak menahan tawa.


Garuda merasa puas karena sudah membuat Kenari kesal dan malu.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2