
Kesal? Tentu saja.
Terlebih saat ini tidak ada yang bisa Garuda lakukan untuk membalas perbuatan Kenari bahkan mengejar Kenari hingga luar kamar pun Garuda tidak berani.
"Sial!" pekik Garuda.
Meskipun marah dan kesal karena merasa direndahkan. Namun, pikiran Garuda masih waras, ia tidak akan melakukan hal konyol yang akan merugikan dirinya.
"Lihat saja, Aku akan membalas perbuatannya." ancamnya seraya mengepalkan kedua tangan.
Sungguh Garuda merasa dipermainkan oleh Kenari.
***
"Kenari!" Dara memanggil dari jarak sekitar 5 meter membuat Kenari menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Dari mana? Kamu baik-baik saja kan?" pertanyaan Dara sulit Kenari jawab, ia tidak ingin salah dalam bertindak.
"Apa terjadi sesuatu?" sambung Dara
Kenari mengeleng pelan seraya tersenyum kaku.
Lantas Dara meraih kedua telapak tangan Kenari dan menggenggamnya.
"Dengar, aku adalah sahabatmu yang lebih tahu tentang dirimu, jika ada masalah katakan saja, aku akan menyelsaikannya." ungkap Dara dengan menatap dalam pada Kenari.
Ucapan Dara membuat Kenari sulit bernafas. Sulit dipercaya bahwa selama ini Dara menyimpan rasa untuknya.
Rasa yang tidak semestinya, rasa yang sungguh diluar nalar.
__ADS_1
Ingin tidak percaya. Namun, Garuda telah menunjukan bukti tentang pengirim buket bunga yang selama ini Kenari terima.
Kenari mengerutkan kedua alisnya, menghubungkan sikap Dara yang terkesan berlebihan.
"Aku akan kembali bekerja." ucap Kenari sebelum akhirnya ia kembali berjalan meninggalkan Dara. Menghindar adalah cara terbaik yang bisa Kenari lakukan untuk saat ini.
Setelah kepergian Kenari Dara tersenyum dengan memperhatikan pinggul Kenari yang bergerak kanan dan kiri seirama dengan derap langkahnya.
"Manis sekali." gumam Dara dengan melipat kedua tangan pada perut.
***
"Dokter Rani, kenapa—" Kenari terkejut dengan kedatangan Rani pasalnya hari sudah cukup larut untuk bertamu.
"Aku butuh bantuanmu, ini tentang Garuda, apa Kamu bisa membantuku untuk yang terakhir kali?" pinta Rani dengan wajah sendu sedikit memohon.
"Aku sudah meminta Dara untuk bekerja lembur, Kalian bisa bertemu di rumah sakit." tutur Rani yang memang sengaja meminta Dara untuk lembur.
"Baik, aku ambil tas dulu." Kenari masuk ke dalam kamar, sebelum pergi Kenari mengirimkan pesan singkat pada Gavin.
Rani mengangguk seraya tersenyum tipis.
Jam dinding menunjukan pukul 11 malam saat Kenari menutup pintu dan pergi bersama Rani. Saat itulah Mereka berpapasan dengan taksi yang dikendarai Dara.
"Pak ikuti mobil itu." pinta Dara pada sopir taksi.
—————
"Loh, Dokter, kita lewat jalan yang salah." ucap Kenari saat seharusnya mobil berjalan lurus kini justru membelok ke arah jal tol.
__ADS_1
"Tidak, ini sudah benar." Rani menoleh sebentar dan tersenyum.
"Tapi—"
Rani tersenyum lagi.
"Ada yang harus aku selesaikan dan membutuhkan bantuanmu."
Deg!
Perasaan Kenari mulai tidak tenang. Ia merogo tas kecil guna mengambil ponsel. Sialnya saat baru membuka layar, Rani merebut benda pipih itu lalu membuangnya ke jalan.
"It—tu...."
"Diam!" pekik Rani. Seraya mengatur laju kendaraan.
"Aku sudah cukup sabar, tapi sepertinya Kamu tidak mengerti! Selama hidupku hanya mencintai satu orang, tapi Kamu mengacaukan segalanya!"
"Ak—u tidak—"
"Diam!" triak Rani, sontak membuat bibir Kenari mengatub rapat. Sifat Rani yang mudah sekali tersulut emosi sungguh menakutkan.
Kenari mengambil sikap bijak dengan tetap diam, seraya memikirkan cara untuk lari dan meminta bantuan. Ia sadar memberontak justru akan membuatnya celaka, harapan satu-satunya adalah pesan yang ia kirimkan kepada Gavin.
Mobil melaju hingga melewati jalan tol dan mulai memasuki kawasan sepi penduduk, terdapat sebuah rumah di pinggiran kota, Rani menggandeng Kenari memasuki rumah besar itu.
***
Bersambung.
__ADS_1