
Kenari berlari di jalanan sepi dan gelap.
Ia mengeluarkan semua tenaga, meskipun begitu entah kenapa Dara masih bisa mengejarnya.
Jika dulu Dara adalah orang pertama yang Kenari peluk ketika bangun tidur. Maka saat ini, Dara menjadi sosok yang paling Kenari takuti.
"Akh...." Kenari terjatuh saat sebuah batu mendarat di kepalanya. Ia menyentuh kepala belakang dan merasakan cairan membasahi telapak tangannya.
Setelah ia menarik tangannya dapat ia lihat bercak merah membasahi telapak tangan.
Tidak hanya rasa nyeri di bagian kepala, bahkan kini pandangannya nampak buram, kedua telinganya pun terasa berdengung.
"Sayang!" Dara bersimpuh menyamai tubuh Kenari yang terduduk di jalanan poros itu. Raut khawatir dan penyesalan bertengger di wajah cantik Dara.
"Kamu terluka sayang," ungkap Dara seraya memegang telapak tangan Kenari yang berlumuran darah.
Detik berikutnya wajah yang tadinya nampak sedih itu berubah menjadi pias dan kejam. Sungguh perubahan pada wajah Dara memupuk rasa takut Kenari.
Kenari menarik tangannya seraya menggeleng, ia ingin berkata 'tidak'. Tapi, bahkan bibirnya saja keluh dan nampak bergetar. Sebuah pemandangan yang membuat Dara menyunggingkan senyum manis.
"Cup-cup...." Dara mengusab air mata Kenari bersikap seolah Kenari balita yang sedang membutuhkan perhatian.
———
"Hei... Bangun, bangun...." Garuda menepuk-nepuk pipi basah Kenari membangunkannya dari tidur yang membuat Kenari menangis.
Kenari membuka mata sontak bangun dan memeluk erat Garuda yang berdiri di samping ranjang inapnya.
Kenari menangis mengerang-ngerang memeluk pinggang Garuda menyembunyikan wajah pada perut pria tinggi itu.
Meskipun ragu. Namun, akhirnya Garuda mengusab ujung kepala Kenari, berharab mampu mengurangi rasa sedih yang kini melanda gadis berusia kisar 20 tahunan itu.
Garuda tidak mengerti mimpi apa yang membuat Kenari bisa menangis seperti ini. Namun, satu yang pasti, itu bukan mimpi yang indah.
__ADS_1
"Tuan...." Gavin masuk begitu saja dan berhenti pada ambang pintu, karena tangan Garuda kini mengambang di udara memberikan isyarat stop pada Gavin.
Sebelum Gavin keluar ia membungkuk hormat dan menutup kembali pintu ruang vip itu.
Namun, wajah Gavin tidak baik-baik saja, ia nampak memikirkan sesuatu hingga membuat keningnya berkerut.
———
Perlahan tangis Kenari mereda, ia pun membuka mata dan menyadari sesuatu yang salah. Seketika Kenari mendorong perut Garuda hingga tubuh Garuda tersentak ke belakang karena tidak menduga serangan yang akan Kenari lakukan membuat tubuhnya tidak seimbang.
"Apa yang Kamu lakukan!" Kenari menyilangkan kedua tangannya pada area dada.
Seolah sedang melindungi kedua tonjolan di dadanya.
Tentu saja hal itu membuat kedua bola mata Garuda membulat sempurna, kini Garuda merasa harga dirinya terinjak. Karena tertuduh sebagai pria tidak bermoral.
"Jangan mentang-mentang Kamu meminjamkan uang dan membiayai perawatanku lantas bisa bersikap se'enak jidat! Kamu mengambil kesempatan pada gadis yang tidak berdaya dan lugu sepertiku!"
Garuda ingin bicara memberi pembelaan untuk dirinya sendiri. Bahwa ia hanya berniat menolong dan tidak sedikitpun mengambil keuntungan. Namun, belum sempat bersuara Kenari sudah mengacungkan ibu jarinya.
Akhirnya Garuda hanya menghela napas. Kali ini ia kalah dari seorang gadis yang ia anggap tengil dan ceroboh.
Merasa tidak dibutuhkan membuat Garuda ingin keluar saja.
Namun, baru saja akan melangkah Kenari sudah menghentikannya.
"Apa lagi?" tanya Garuda setelah Kenari memintanya untuk tetap tinggal.
"Jangan pergi." ucap Kenari lagi.
"Cih... Apa ini sikapmu setelah tadi menghinaku?"
"Aku tidak menghinamu, aku hanya waspada dari om-om cabul sepertimu."
__ADS_1
terang saja ucapan Kenari semakin membuat Garuda kesal. Hal itu tergambar pada raut wajah dan tatapannya yang tajam.
"Em—itu—" Kenari menyadari bahwa Garuda kesal hingga membuatnya sedikit salah tingkah dan hanya bisa memasang wajah lugu dengan duduk bersila di atas ranjang lalu menunduk.
"Cih, dasar," lirih Garuda.
"Wanita selalu saja merasa paling benar, melimpahkan kesalahan pada pria lalu meminta pertanggung jawaban, jika pria menolak maka wanita akan membuat laporan pada polisi, mengaku bahwa dirinya dianiaya hingga hamil."
"Heh Om!" pekik Kenari.
"Apa!" Garuda tidak kalah memekik dan menantang.
"Jangan lupa bahwa pria juga terlahir dari rahim wanita, jadi jangan menghina kaum wanita."
"Hei... Aku harap, Kamu tidak lupa bahwa wanita tidak akan mengandung tanpa benih dari pria, Jadi jangan remehkan kaum pria."
"Wanita lebih berjasa dari pria, pria hanya menitipkan benih setelah itu wanita yang menanggung beban."
"Hanya. Kamu bilang hanya? Ingat satu hal bahwa ketika pria menitipkan benih, wanita juga menikmati siraman benih itu, bahkan Mereka selalu saja meminta lagi."
Tanpa Mereka sadari perdebatan itu disaksikan oleh Suster, Dokter dan Gavin, yang berdiri kaku, tercengang dengan perdebatan yang aneh.
"He'em...." Gavin bersuara agar perdebatan antara Garuda dan Kenari berhenti sebelum semakin melebar dan membuat keduanya malu.
Bibir Kenari mengatub rapat ketika melihat Gavin bersama Dokter dan Suster di ambang pintu.
Berbeda dengan Kenari yang bersikap tegang bercampur malu. Garuda justru nampak tenang dan biasa saja. Ia bahkan merapihkan kera kemeja dan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
———
"Aish... Sial." gumam Garuda setelah di luar ruangan. Sungguh rasa malu tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Tuan, apa Anda perlu bantuan? Saya bisa mencarikan informasi seputar berdebatan Anda dengan Nona—" Gavin terdiam karena kini Garuda menatapnya dengan serius.
__ADS_1
***
Bersambung.