Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Niat Terselubung.


__ADS_3

Rani menyuntikan cairan obat pada lengan Garuda, setelah beberapa detik lalu perawat membantu Kenari membawa Garuda kembali kedalam kamarnya.


"Apa dia akan baik-baik saja Bu? Mingkin kita bisa menyadarkan-nya dulu, lalu memberinya obat?" ungkap Kenari seraya memegang baki obat-obatan.


Rani menatapnya dengan intens.


"Kenapa Kamu suka sekali ikut campur? Tahu apa Kamu?"


"Bukan begitu Bu. Tapi—"


Brak!


Tanpa terduga Rani membuang baki di tangan Kenari.


"Jangan menguji kesabaranku!" pekik Rani bahkan suara keras Rani terdengar menggema keseluruh ruangan.


Tentu saja Kenari terkejut dengan reaksi tidak normal yang Rani tunjukan.


Bagaimana bisa Rani sangat marah hanya karena ucapannya itu.


"Aku menugaskanmu hanya fokus pada Garuda. Tapi, lihat! Kamu membuatnya pingsan!"


Terjawab sudah. Ternyata Rani marah karena hal itu.


"Kamu pikir, aku tidak tahu perbuatanmu!" sambung Rani. Sungguh, Rani bicara sampai urat di lehernya nampak menonjol. Hal itu menunjukan bahwa Rani benar-benar emosi.


Bagi Rani Garuda bukan sekedar pasien. Tapi juga sahabat dan keluarga.


Dan menurut kabar yang tersebar Rani dan Reza sama-sama berasal dari panti asuhan lalu kemudian, diangkat anak oleh kedua orang tua Garuda. Jadi wajar saja, jika Rani marah kepada Kenari.


"Ada apa? Kenapa kamu memarahinya?" kedatangan Reza membawa angin segar untuk Kenari. Karena sudah pasti Reza akan membantu Kenari terbebas dari amukan Rani.


"Tanya saja padanya!" sulut Rani. Lantas ia pergi meninggalkan ruangan besar itu.


Bahkan Rani membanting pintu dengan keras membuat kedua bahu Kenari tersentak karena terkejut.


"Maaf ya, sebelumnya Rani tidak seperti ini." ucap Reza, seperti biasa Reza menyematkan senyuman pada wajah teduhnya.


"Saya yang salah Dok, saya tidak benar menjaga pasien." jawab Kenari. Lantas ia membersihkan obat yang berserakan di lantai, melihat hal itu Reza tidak diam saja.

__ADS_1


"Aku akan bicara pada Rani," sambung Reza dengan menyerahkan baki pada Kenari.


"Sebentar," lantas Reza menghampiri Garuda dan memeriksa denyut nadi ditangan Garuda.


"Dia akan baik-baik saja." ujar Reza membuat Kenari bernafas lega.


"Apa yang membuatnya pingsan?" sambung Reza.


"E— itu...." Kenari ragu untuk berbicara.


Mana mungkin ia menceritakan bahwa Garuda sudah menciumnya dan bukannya menolak, ia justru menikmati sentuhan manis itu.


"Kenapa pipimu memerah?" Reza akan menyuntuh pipi Kenari. Tapi Kenari melangkah mundur.


Reflek Kenari menyentuh pipinya serta menunjukan raut wajah khawatir.


Reza menyipitkan mata merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Baiklah, aku akan kembali bekerja. Jaga Garuda dengan baik agar Rani tidak memarahimu lagi." tutur Reza yang mendapat anggukan dari Kenari.


***


"Akh!" teriak Rani, seraya menyapu bersih barang-barang yang berada di meja kerjanya, menyalurkan emosi yang seolah meletup-letup.


Brak!


Tidak berhenti disitu ia bahkan nampak mengeratkan gigi terlihat dari exprsinya yang menakutkan.


Bayangan Kenari dan Garuda saat berciuman sungguh mengganggu Rani.


"Aku tidak akan membiarkannya begitu saja." gumam Rani dengan mengepalkan tangan yang bertumpuh pada meja kayu di ruangannya, Rani menyematkan senyuman sarkas di wajah cantiknya.


* * *


"Kamu sudah bangun," Kenari tersenyum menyapa Garuda.


Entah sudah berapa jam ia duduk di dekat ranjang Garuda menunggu pria itu membuka mata.


Garuda menepis tangan Kenari saat akan membantunya untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang.

__ADS_1


Rasa cangcung mendera Kenari.


Perubahan sikap Garuda ia anggap sangat menyebalkan, terlebih setelah Garuda mengambil ciuman pertamanya.


"Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa." lirih Kenari.


Garuda menyuruh Kenari pergi dengan isyarat mata.


"Cih... Untung saja pasien," Kenari bangkit lalu meninggalkan Garuda.


"Kalo nggak, udah aku buat bonyok matanya yang sok itu." gumamnya seraya berjalan menuju pintu.


"Kenari," Dara menarik tangan Kenari.


"Husst...." Dara meminta Kenari untuk tetap diam, sehingga Kenari mengurungkan niatnya untuk bersuara.


"Dengar," bisik Dara membuat Kenari mendengarkan dengan seksama.


"Sore ini Bu Maya akan dipindahkan oleh keluarganya, sebelum itu terjadi kita harus menculiknya terlebih dulu."


"Men—"


"Usst...." Dara menutup mulut Kenari.


"Pelankan suaramu,"


"Tapi—"


"Kamu juga tahu, 'kan jika keluarga Bu Maya pasti akan menelantarkannya begitu saja,"


"Ya itu pasti, Mereka bahkan merasa keberatan dengan perawatan Bu Maya,"


"Kita bisa mengirimnya ke rumah sakit besar."


"Untuk itu kita harus menculiknya?" sambung Kenari.


"Setuju?"


Kenari mengangguk dan keduanya tersenyum picik.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2