
Kenari bercermin lalu menyentuh pipinya yang merah akibat tamparan yang ia terima dari Rani beberapa waktu lalu.
Bahkan rasanya masih panas.
Kamar kos berukuran kecil kini menjadi tempatnya untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bekerja.
"Jadi mulai sekarang kamu sudah tidak bertugas di kamar 13?" tanya Dara seraya mengoleskan hand body pada lengan tangannya.
"Hem...."
"Ada hikmahnya juga sih, Kamu bisa pulang dan tidak selalu begadang di RS."
Kenari terdiam tanpa reaksi hingga Dara menimpuknya dengan bantal.
"Ngelamun. Kesambet kapok!" keluh Dara.
Kenari hanya menghela nafas panjang menanggapi ucapan Dara.
"Semua terasa aneh Dar,"
"Ya iyalah aneh, mana ada orang yang pasrah gitu aja pas dicium orang sinting." jawaban Dara membuat Kenari seketika bangkit, wajahnya kini berubah bengis dengan kedua tangan mengepal .
Dara mumutar bola matanya jengah.
"Heam...." keluh Dara setelah Kenari beranjak meninggalkan kamar.
"Habis deh persedian dapur satu bulan." gumam gadis manis dengan rambut ikal itu.
Setelah 30 menit berlalu aneka masakan tercium, mengeruak keseluruh ruangan, membuat siapa saja tergoda untuk mencicipi.
Dara bangkit dari tidurnya menyusuru ruangan hingga sampai pada dapur kecil yang merangkap ruang makan.
Terdapat meja bulat di sana berisikan aneka masakan.
"Rugi," Dara menepuk jidatnya, entah harus senang atau sedih ketika dapat menyantap makanan enak yang Kenari Masak.
"Meja sudah penuh, berhentilah memasak KE-NA-RI." Dara menarik kursi kecil dan duduk sementara itu Kenari masih saja sibuk di depan kompor.
Seperti biasa jika sedang sedih Kenari akan memasak bahkan ia tidak akan berhenti sebelum isi lemari pendingin benar-benar berubah menjadi makanan siap santap.
Dara meletakan kepala bertumpuh meja kayu.
"Masih pertengahan bulan, tapi isi kulkas sudah kosong." gumam Dara pelan.
Suara ketukan pintu membuat kening Dara mengerut. Pasalnya sudah pukul 10 malam siapa yang bertamu, tiba-tiba Dara teringat Aci yang sedang lembur.
__ADS_1
"Mungkin itu Aci, kebetulan kita ajak dia makan." Dara bangkit dari duduknya berjalan santai menuju ruang depan.
Ketika pintu terbuka ternyata tidak ada seseorang di sana, hanya sebuah paket yang tergeletak di bawah.
"Nar!" merasa tidak memesan paket membuat Dara menghampiri Kenari.
"Punya Kamu," Dara mengulurkan paket kecil pada Kenari.
"Aku nggak punya paket." sahut Kenari dengan terus mengosok piring-piring kotor.
"Apa nyasar?" gumam Dara.
"Tapi nggak ada alamat penerimanya." sambung Dara.
Kenari terdiam begitu juga dengan Dara, karena sama-sama mengingat sesuatu.
"Pasti pengagum rahasia mu," sambung Dara.
"Aku buka ya!" serunya semangat seraya membuka bungkusan kecil itu.
"Ahk!" Dara terkejut dan membuang kotak kecil di tangannya.
Perhatian Kenari pun terjutu pada kotak kecil yang terlempar di lantai.
"Bu—bukan," jawab Dara gugub.
Kenari akan beranjak guna mengambil kotak itu. Tapi, Dara mencegahnya.
"Jangan, Kamu akan pingsan kalo melihatnya."
"Justru aku akan mati penasaran jika tidak melihatnya!"
"Kenari, jangan!" Terlambat. Kenari sudah mengambilnya dan hal itu seketika membuat dirinya terkejut hingga pandangannya mulai gelap, dan benar saja Kenari pingsan seketika.
***
"Mulai saat ini aku sendiri yang akan merawatmu, jadi jangan cemaskan apapun." tutur Rani seraya mengancingkan kemeja Garuda.
Garuda yang nyaris tidak pernah bersuara dan selalu memasang wajah datar tidak serta merta membuat Rani kehilangan rasa cintanya.
Sejak kecil Rani sangat menyukai Garuda bahkan setelah dewasa Rani pernah mengungkapkan isi hatinya.
Sayang sekali cinta Rani harus bertepuk sebelah tangan. Garuda justru menikahi seorang gadis melayu dari negri jiran.
Rani mencium pipi Garuda, mengusab bulu-bulu tipis yang tumbuh di area pipi.
__ADS_1
"Aku akan mencukurnya." Rani akan beranjak dari depan Garuda. Tapi, Garuda memegangi pergelangan Rani.
"Jangan melakukan hal bodoh yang akan merugikanmu," bisik Garuda pada telinga Rani.
Lantas Garuda mendorong tubuh Rani sehingga tubuh indah itu hampir terjatuh, beruntung Rani dapat menjaga keseimbangan jika tidak mungkin dia sudah tergeletak di lantai.
Bengis dan tajam.
Tatapan Rani penuh amarah, lagi-lagi Garuda telah melukai harga dirinya.
"10 tahun terkurung di rumah sakit jiwa, ternyata belum cukup untuk menyadarkan dimana posisimu!" tutur Rani dengan amarah terpancar di wajah cantiknya.
Bahkan terlihat jelas Rani menggigit gigi grahamnya, guna menahan amarah.
***
"Sakit?" jawab Reza setelah bertanya pada Dara prihal Kenari yang belum juga mengisi absen kerja pagi ini.
"E—iya, Dokter."
"Tapi semalam saat aku mengantarnya pulang, dia masih baik-baik saja," sambung Reza.
"Eee... Sebenarnya—" Dara ragu untuk mengatakan tentang kejadian tadi malam.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Reza.
"Sebenarnya—" Dara ragu untuk bicara jujur, bukan karena ia takut melainkan karena dirinya tidak ingin mengingat hal buruk semalam yang membuat nafsu makannya hilang.
"Ada yang mengirim bangkai tikus untuk Kenari." jujur Dara.
"Bangkai tikus?" jawab Reza, dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Iya Dok, se'ekor tikus hitam yang isi perutnya tercabik-cabik dan bau busuk." Dara mual dan reflek menutup mulut.
"Lalu?" sambung Reza, rasa penasaran membuatnya banyak bertanya.
Meskipun berat. Tapi, Dara tetap saja meladeni Dokter yang terkenal ramah itu.
"Kenari pobia terhadap darah, itu sebabnya dia pingsan dan demam." sambung Dara. Tanpa menunggu lama Reza berlalu dari depan meja resepsionis tempat Dara bekerja.
Entah apa yang membuat raut wajah tampan itu tersenyum gembira, seolah mendapat kabar bahagia kini kedua mata teduh itu nampak berbinar, menyusuri koridor rumah sakit jiwa yang bersetatus milik keluarga Garuda Al-Irsyad.
***
Bersambung.
__ADS_1