Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Kebohongan.


__ADS_3

"Aish! Bodoh kenapa dia meninggalkan wanita ini." gumam Garuda sesaat setelah Gavin pergi ia baru menyadari bahwa Kenari masih tertinggal bersamanya.


Saat itu juga hujan turun, secara tiba-tiba reflek Garuda berlari karena tidak ingin tubuhnya basah. Namun, baru beberapa langkah Garuda kembali lagi menghampiri tubuh Kenari yang masih dibawah pengaruh obat bius.


Garuda membopong tubuh basah Kenari membawanya menuruni anak tangga dan berakhir pada kamar inap miliknya.


Setelah meletakan Kenari pada ranjang, Garuda berusaha menghubungi Gavin. Tapi, tidak mendapatkan jawaban.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika dia bangun dan berteriak." gumam Garuda dengan penuh kecemasan.


Benar saja, kedua mata Kenari mulai menggerayap.


"Sial!" keluh Garuda saat menyadari bahwa gadis itu mulai sadar.


Tidak disangka Kenari bangun begitu cepat, sontak berdiri tegap hingga membuat Garuda terkejut.


"Kamu!" pekik Kenari seraya menudingkan ibu jari pada wajah Garuda.


Reflek Garuda melangkah mundur saat Kenari berjalan maju.


Hilang sudah kesan cool dari wajah datar Garuda, kini ia seolah terintimidasi oleh Kenari.


"Aku akan beri tahu polisi, semuanya!" ucap Kenari dengan nada bergetar.


"Kamu berpura-pura sakit, membunuh orang dan—" Kenari menggantung ucapannya ia memasang wajah terkejut dengan mata membolak lebar.


"Bu Maya? Ap—ap—apa, apa kakamu yang yang mem—bunuh Bu Mala, anak Bu Maya?" Kenari menutup mulut dan melangkah mundur, nampak genangan air pada bola matanya yang nanar menatap Garuda.


Melihat ketakutan pada wajah Kenari membuat Garuda berfikir untuk menindasnya.


Garuda tersenyum sarkas.


"Bodoh." gumamnya pelan.


"Jangan mendekat! Aku akan berteriak dan Mereka akan datang menangkapmu!" ancam Kenari.


"Coba saja." Garuda melangkah maju.

__ADS_1


"Tol— emhm... emh...." Garuda membekap mulut Kenari, memutar tubuh Kenari hingga kini Garuda memeluknya dari belakang.


"Bahkan serangga kecilpun tidak akan bisa lari dariku." bisik Garuda.


Kenari terus meronta. Namun, tetap saja dekapan Garuda lebih kuat dari tenaga Kenari


***


Beberapa menit berlalu, kini tubuh Kenari terbaring di ranjang dengan kedua kaki terlilit lakban, sedangkan kedua tangan terikat dengan kemeja dan mulutnya tertutup lakban hitam.


Jangankan untuk lari bahkan untuk bangun saja Kenari tidak sanggub.


Garuda membuka pintu setelah terdengar ketukan 3x yang merupakan tanda dari Gavin.


"Kenapa Kamu meninggalkannya?" tanya Garuda datar, setelah Gavin masuk dan menutup pintu.


"Maaf Tuan," Gavin membungkuk hormat.


"Selesaikan tugasmu."


"Ehm... Ehm...." Kenari merontah.


Sungguh, Kenari tidak pernah menduga pria yang nampak begitu mempesona menyimpan seribu racun dan kebohongan.


Garuda hanya memberi isyarat melalui kedua mata, dan Gavin segera menghampiri Kenari lalu melepas ikatan di kaki Kenari sehingga Kenari bisa bangun dan berdiri tegab.


"Ehm...." Kenari meminta agar lakban yang menutup mulutnya dibuka.


Dengan anggukan kecil dari Garuda, Gavin membuka lakban di mulut Kenari.


Garuda menatap Kenari dengan datar menunggu permintaan ampun yang akan gadis konyol itu lontarkan.


"Dasar pria jahat!" ucapan Kenari diluar dugaan. Bukannya meminta pengampunan ia justru menghardik Garuda.


"Tuan, Kita bisa menggunakan Nona Kenari sebagai umpan." tutur Gavin.


"Tidak! Aku bukan cacing atau pelet ikan! Aku akan beri tahu polisi tentang kejahatan Kalian!" ungkap Kenari.

__ADS_1


"Jangan bicara jika tidak aku minta." aura dingin Garuda membungkam mulut Kenari.


"Lepaskan dia." peritah Garuda yang segera dilaksanakan oleh Gavin.


"Aku beli nyawamu seharga 500 juta." ucapan Garuda membuat Kenari melongo.


500 juta bukan angka yang kecil.


"Lima— ratus jujuta?" sungguh jika di akumulasikan ia harus bekerja berapa tahun untuk menghasilkan uang sebanyak itu.


Sempat tergiur. Namun, detik berikutnya ia tersadar bahwa nyawanya yang akan dipertaruhkan.


Seolah mengerti kegundahan Kenari, Garuda tersenyum sarkas.


"Syaratnya hanya berpura-pura mencintaiku, mudah bukan?"


"Apa?"


"Kamu tinggal memilih ingin mati, atau—"


"Tidak." sanggah Kenari.


"Kamu menghargai nyawaku hanya senilai 500juta? Dan untuk apa aku berpura-pura mencintaimu? Keuntungan itu tidak sebanding dengan nyawaku yang sangat berharga." sela Kenari.


"Sungguh tidak bisa dipercaya, bahkan Kamu mencoba nego tentang nyawa sendiri." Garuda tersenyum remeh.


"Aku tidak sedang melakukan transaksi nyawa, tapi menolak untuk bekerjasama dengan pembunuh."


"Jaga bicaramu!" disebut sebagai pembunuh membuat Garuda geram. Ia bahkan mencengkram rahang Kenari.


"Tidak ada yang bisa menolakku, termasuk dirimu, apa Kamu tidak ingin tahu siapa sebenarnya pengagum rahasiamu? Atau tentang ancaman bangkai tikus? Sadar atau tidak bahkan Kamu sudah terlibat sejak awal." Garuda menghempaskan pelan rahang Kenari.


Sungguh, Kenari tidak menduga mendapat perlakuan seperti ini dari Garuda.


Terlebih lagi, ternyata selama ini dirinya menjadi korban kebohongan Garuda.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2