
"Mana mungkin sebuah Prusahaan besar dipimpin oleh seseorang yang memiliki ganguan mental," ungkap seorang Pria dengan setelan jas rapih berwarna hitam.
Tinggi dan bentuk tubuhnya sangat profesional layaknya seorang atlite, rambutnya yang terpangkas rapih menambah aura ketampanannya semakin terpancar dengan bentuk wajah yang tegas dan penuh aura positif.
Rapat direksi dilaksanakan secara mendadak pagi ini.
Membahas tentang pemecatan Garuda sebagai CEO.
"Ya, Anda benar," sahut seorang Pria lainnya yang duduk diantara barisan orang-orang penting dalam Prusahaan itu.
"Terlebih lagi Dia mantan narapidana kasus pembunuhan." sahut yang lain.
Sungguh Garuda tidak bisa berkata apa-apa. Dengan duduk di bangku paling ujung dekat dengan kursi utama yang diduduki Presdir.
Garuda memilih bungkam.
Mungkin inilah konsukuensi atas pilihan yang ia ambil.
Suasana semakin tidak terkendali, dengan semakin bisingnya ruangan itu.
Merpati tersenyum sarkas ketika pandangannya bertemu dengan mata Garuda.
Akhirnya saat yang ia nantikan datang juga,
Menjadi CEO adalah tujuannya sejak lama.
__ADS_1
"Dia sungguh tidak layak memimpin, Prusahaan akan bangkrut jika memiliki pemimpin yang tidak kompetein," ucapan itu keluar dari bibir ranum Quensa.
"Aku bahkan tidak sanggub membayangkan kehancuran besar yang akan kita alami nanti." hal itu seolah menjadi dorongan bagi para dewan direksi untuk memecat Garuda.
Cendrawasi menghela nafas berat dengan memandangi satu persatu barisan orang-orang penting itu.
"Sarang Corporation adalah bisnis yang saya rintis dari nol." ucapannya seketika membuat hening suasana.
"Hotel dengan fasilitas mewah, Rumah Sakit berbasis internasional dan beberapa gedung toserba. Semua itu menjadi aset terbesar Prusahaan ini. Tentu saja, saya tidak akan rela jika S crop hancur." kini pandangan wanita parubaya itu terkunci pada raut wajah Garuda.
Cendrawasi tersenyum meskipun Garuda hanya memandangnya dingin.
"Aku akan memberimu masa percobaan. Aku rasa 3 bulan cukup untuk melihat kinerjamu, jika dalam waktu yang ditentukan, Kamu tidak bisa konpetein maka aku menunggu surat pengunduran dirimu." ucapan Cendrawasi sebagai Presdir, layaknya titah dari Seorang Ratu yang tidak bisa goyah.
Tidak ada komentar dari para dewan direksi termasuk Merpati yang justru nampak tersenyum remeh pada Garuda.
"Gunakan waktumu sebaik mungkin." ucap Merpati sebelum ia meninggalkan ruangan itu.
***
"Apa ini caramu bersikap pada Ibu?"
Gavin membungkuk hormat saat Cendrawasi memasuki ruangan kerja milik Garuda.
"Aku bahkan lupa masih memiliki seorang Ibu." jawab Garuda dingin seraya bangkit dari kursi yang telah membesarkan namanya sebagai seorang CEO.
__ADS_1
Garuda memilih berdiri menghadap jendela dengan membelakangi Sang Ibu.
"Ajak Gadis itu berkunjung ke rumah, bagaimana pun Kamu masih anggota keluarga Al-Irsyad."
"Ibu masih tetap sama."
"Kamu pikir Ibu akan diam saja disaat putra satu-satunya dan pewaris S Crop mengalami kesulitan?"
"Tentu saja, siapa lagi jika bukan Ibu. Ibu juga yang membungkam polisi, hakim dan pers, itu sebabnya sampai saat ini tidak ada yang mencariku."
Mendengar penuturan Garuda membuat wajah Cendrawasi memucat. Khawatir jika Garuda kembali memberontak dan memilih memutus hubungan seperti 10 tahun yang lalu.
"Tuan," suara Gavin membuat Cendrawasi beralih menatapnya.
Nampak kecemasan terpancar dari wajah sang asisten. Namun, ia ragu untuk berbicara mengingat ada Cendrawasi.
"Kenapa melihatku?" ucapan Cendrawasi membuat Gavin menundukan pandangan dan membungkuk hormat.
"Ada apa?" Garuda berbalik demi melihat sang asisten.
"Nona Kenari terus saja menangis." tangkas Gavin, tentu saja membuat anak dan ibu itu sedikit terkejut.
"Siapkan mobil." perintah Garuda seraya berjalan keluar meninggalkan Sang Ibu.
***
__ADS_1
Bersambung.