
Hening. Hanya suara detik jarum jam dinding yang terdengar mendominasi ruangan rumah sakit dengan fasilitas kamar VIP, sudah pukul 09 pagi. Itu artinya sudah 8 jam sejak peristiwa yang menewaskan Rani, dan saat ini Kenari masih dalam pengaruh obat pasca oprasi akibat luka tusuk yang ia terima, beruntung lukanya tidak terlalu dalam.
"Tuan, Anda harus kembali, saya sudah menyiapkan kendaraan," ujar Gavin yang baru saja memasuki ruangan.
Sudah 15 menit Garuda menatap raut wajah Kenari yang terpejam.
"Kamu bilang, dia bisa demam hanya dengan melihat sedikit darah?"
"A?" reaksi Gavin seolah mewakili kebingungannya.
"Pasti dia sangat menderita." sambung Garuda.
Gavin menghela nafas mendengar penuturan Big Boss-nya.
Tidak menyangka bahwa Garuda akan berkata seperti itu.
"Bagaimana dengan suster itu?"
"Dia masih dalam pencarian, Tuan."
"Bukankah Dia juga terluka karena pelurumu?"
"Ya, Tuan."
Gavin melepaskan anak peluru yang mendarat pada lengan Dara, demi melindungi Garuda. Jika tidak mungkin saat ini Garuda sudah terbaring di ranjang oprasi.
"Pastikan Dia tertangkap, aku yakin Dia akan kembali menemui Kenari, sebelum Dia menyakiti Kenari, kita harus menangkapnya." perintah Garuda.
Mata Kenari terbuka dengan perlahan, ia pun nampak berkedip beberapa kali, guna menetralisir cahaya pada retina matanya.
"Dara, Dara dimana?" tanyanya pada Garuda yang berdiri tepat di samping Kenari.
Garuda nampak berdecak pelan dengan melipat kedua tangan melingkar pada area perut.
"Bodoh." gumamnya.
Tidak ada yang berubah dari raut wajah Garuda, matanya masih tajam dengan ekprsi wajah yang selalu dingin.
"Dimana Dara? Aku harus bertemu dengannya."
__ADS_1
"Kamu hampir mati karena Dia."
"Dara...." lirih Kenari setelah mengingat perbuatan yang dilakukan Dara. Bahkan Kenari nampak menahan mual saat teringat genangan darah di lantai.
"Istirahat agar segera sembuh sebelum tagihan rumah sakit ini semakin banyak." ucap Garuda setelah mengamati tingkah Kenari.
"Aku yakin, Kamu bahkan tidak bisa membayarnya meski hanya menginap sehari, maka dari itu Kamu bisa mencicil padaku, ck... Sungguh dimana lagi Kamu bisa menemui pria baik sepertiku?"
"Apa?"
"Apa?" Garuda balik bertanya.
"Kenapa reaksi wajahmu seperti itu? Kamu pikir semua ini gratis?"
"Selain sombong, Dia pun pelit." gumam Kenari.
"Aku bisa mendengarnya, lain kali ucapkan dalam hati saja. Itu lebih baik untukmu." sindir Garuda.
Kenari hanya memasang wajahnya menatap sinis pria yang mengaku mengalami gangguan jiwa itu.
"Jika terus menatapku, Kamu akan jatuh cinta." sambung Garuda yang hanya mendapat reaksi penolakan dari Kenari dengan decikan kecil dan membuang pandangan darinya.
Perhatian Gavin teralihkan pada suara pintu yang terbuka.
Sontak membuat Gavin memasang wajah serius ketika sosok wanita muda dengan setelan mini dres berdiri di ambang pintu.
Langkah dari sepatu tinggi yang ia kenakan terdengar teratur.
Garuda berdiri menyambut kedatangan Quensa Amaliris sosok wanita yang merupakan saudara kembar Almarhuma Shima Amaliris. Istri dari Garuda Al-Irsyad.
"Aku datang karena mendengar berita kepulanganmu, tidak disangka begitu keluar Kamu memiliki wanita pengganti Kakakku." Quensa mengalihkan pandangannya pada Kenari.
Tingkah Quensa lantas membuat Garuda menarik tipis sudut bibirnya.
"Aku sudah menunggumu." jawab Garuda angkuh.
"Seperti biasa, Kamu selalu pandai menebak, Kakak ipar."
mendengar ucapan itu lantas membuat Kenari menatap Quensa dan Garuda bergantian.
__ADS_1
"Entah aku yang pandai atau Kamu yang terlalu bodoh?"
"Cih... Orang yang pandai tidak akan terjebak selama 10 tahun di dalam RSJ."
Mendengar penuturan Quensa membuat Garuda tersenyum tipis.
"Lucu juga." ungkapnya kemudian.
"Bersiaplah karena sebentar lagi jeruji penjara yang akan menjadi hunianmu."
"Jangan sesumbar, karena tidak baik untuk kesehatan mentalmu." sambung Garuda dengan senyuman tipis yang mengerikan.
"Lagi pula, 10 tahun terkurung di RSJ membuatku semakin pintar menilai seseorang, termasuk dirimu, adik ipar."
Quensa membuang wajah malas menatap kesombongan Garuda.
"Karena Kakak ipar sudah sehat, maka akan aku ajukan kembali berkas pembunuhan Kakakku. Kali ini Kakak ipar tidak bisa menghindar dari jerat hukum."
"Aku menunggunya," jawab Garuda dengan wajah dingin yang sangat mengintimidasi.
"Lagi pula aku sudah cukup lama bermain-main denganmu."
———
"Apa aku masuk ke dalam dunia drama thiller?" gumam Kenari seraya menatapi kepergian Quensa.
"Jika kamu masuk dunia lain, apakah peranmu sebagai Han yoo jo?" sahut Garuda dengan wajah remeh.
"Cih...." Kenari berdecak.
"Lalu Kamu sebagai Lee jong suk? Naif sekali."
Seketika wajah Gavin menjadi pucat pasih. Bagaimana bisa Garuda berubah sikap begitu kontras, apakah itu pengaruh obat jangka panjang yang Rani campurkan secara diam-diam?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar diatas kepala Gavin.
***
Bersambung.
__ADS_1