Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Pengagum Rahasia.


__ADS_3

Kenari berjalan santai menuju kamar Bu Maya. Berbeda dengan Dara yang bertugas di bagian resepsionis, maka akan terlihat aneh jika Dara meninggalkan tugasnya untuk memasuki kamar Bu Maya.


Beberapa kali Kenari berpapasan dengan perawat lain dan mereka tidak mencurigai gelagat Kenari yang akan melakukan hal extrem dengan menculik Bu Maya.


Kenari memasuki kamar Bu Maya, nampak sang pasien sedang menonton acara berita di TV.


Kenari mulai mendekat dan sudah merasakan perubahan pada wajah Bu Maya.


Bu Maya nampak ketakutan menatap layar televisi.


"Mala, tidak, bukan Mala, itu Mala tidak bukan Mala," gumam Bu Maya dengan menggeleng-gelengkan kepala, keringat membasahi kening Bu Maya.


Sadar dengan hal itu membuat Kenari mempercepatkan langkah dan memeluk tubuh Bu Maya yang duduk bersandar pada ranjang perawatnya.


"Tenang Bu, tenang, tidak apa-apa ada Aku, aku akan menjaga Ibu." Kenari mencoba menenangkan Bu Maya, ia mengusab punggung Bu Maya.


Namun, tiba-tiba Kenari terdorong dan jatuh ke belakang.


Bu Maya bangkit dari ranjang dan lari setelah mendorong Kenari.


Bu Maya terus berlari histris menyusuri koridor rumah sakit.


Tentu saja hal itu membuat se isi Rumah Sakit heboh, para perawat mengejarnya. Namun, setelah tertangkap Bu Maya memberontak ia terus berteriak histris seraya memanggil nama Mala anak satu-satunya.


"Ada apa dengannya?" Kenari bertanya pada Hari, sedangkan Bu Maya sudah terkapar diatas belangkar akibat suntikan penenang yang mereka berikan.


Perlahan blangkar Bu Maya menghilang memasuki sebuah kamar.


"Kenari...." Dara menghampiri dengan nafas engos-engosan karena dia berlari dari lobi sampai gedung paling belakang tempat para kamar pasien.


"Tarik nafas, hembuskan." Kenari membimbing Dara untuk membuat pernafasannya lega.


Setelah beberapa detik Dara mulai bisa bernafas dengan lega.


"Aku ke farmasi dulu ya," pamit Hari yang mendapat anggukan dari Kenari.


"Ada apa?" Kenari bertanya perihal kepentingan Dara.


"Aku liat di pesbuk, anak Bu Maya menjadi korban pembunuhan," ujar Dara sontak membuat Kenari terkejut hingga kedua matanya membulat.


"Mata lu hampir jatuh njir." Dara mengusab wajah Kenari.


"Terima kasih, Anak muda,"


Dara menarik satu sisi bibirnya mendengar penuturan Kenari.


"Serius Kamu Dar? kapan, dimana?"

__ADS_1


"Reaksi Kamu telat Nar,"


"Nar, Nar. Kalo manggil pakek nama lengkap dong! Ke-na-ri. Bukan Nar," protes Kenari.


"Lah nggak nyadar, Kamu juga gitu manggil Aku Dar! Yakali Darmini." jawab Dara.


"Jadi, gimana ceritanya?" tanya Kenari meninggalkan berdebatan Darmi dan Nari.


"Baca ini," perintah Dara seraya menunjukan ponsel genggamnya.


"Pembunuhan dan mutilasi?" Kenari menyipitkan mata saat membaca judulnya saja suda nampak mengerikan.


Dara menarik ponselnya lalu mengantongi benda pipi itu.


Sebelum Kenari melihat beberapa poto yang memperlihatkan ceceran darah.


Ia tahu Kenari paling tidak suka dengan darah, Kenari bisa mutah bahkan demam.


"Mungkinkah itu alasan Bu Maya histris?"


"Mungkin saja,"


"Kasian Bu Maya. Dia sangat menyayangi anaknya,"


"Dan yang lebih memilukan sebagian potongan tubuhnya tidak ditemukan di tempat kejadian."


"Polisi masih menyelidiki motif pembunuhan dan semoga saja tersangkanya segera ditemukan." sambung Dara, ia nampak mengusab bahu Kenari, mencoba memberikan kekuatan.


***


"Dapet paket lagi Nar?" Kenari tersentak dengan suara Dara yang datang tiba-tiba.


"Iya Dar," jawab Kenari seraya menyelisik buket bunga mawar yang ia pegang.


"Ciyeee yang punya pengagum rahasia." ucap Dara seraya tersenyum menggoda.


Kenari turut tersenyum dan mencium harum mawar itu.


"Aku duluan ya Ken," pamit Dara pada Kenari karena sip jaganya sudah selesai.


Hari sudah sore saat itu, sebagian kariawan sudah berganti sip.


Tapi, tidak untuk Kenari yang memiliki beban menjaga Garuda selama 24 jam, tugas yang Rani berikan untuknya sungguh diluar aturan pekerja. Tapi, apa daya Kenari butuh pekerjaan ini.


"WA ya, kalo sudah sampai," pesan Kenari pada Dara. Satu-satunya teman yang Kenari miliki dan sudah 2 tahun ini mereka tinggal satu kos dengan biaya patungan.


"Jangan lupa besok pagi bawain kaos kakiku." sambung Kenari, Dara berjalan meninggalkan lobi rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengawasinya.


"Lembur lagi Ken?" sapa Hari yang ikut duduk pada kursi panjang di lobi.


"Ya, seperti itu."


"Mau makan apa, biar aku pesenin sekalian." tanya Hari, seraya melihat-lihat menu yang tersaji pada aplikasi online.


"Gratis?" tanya Kenari dengan mata berbinar.


"Giliran gratis aja gercep lu!"


"Hehehe...."


"Sedang apa," kedatangan Rani yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka sungguh mengejutkan.


"Kamu dibayar lebih bukan untuk bersantai!" pekik Rani.


Hari dan Kenari sontak berdiri dan berpamitan.


"Tunggu." ucapan Rani menghentikan langkah mereka.


"Hari kamu cek lagi obat-obatan di farmasi dan Kamu Kenari segera ke ruangan saya."


"Baik Bu." jawab keduanya bersamaan.


***


Suara ketukan pintu membuat Rani segera beranjak dan membuka pintu.


Kenari sampai terheran, karena tidak biasanya Rani membukakan pintu untuknya.


"Ibu mencari saya?"


"Masuk," Rani menarik telapak tangan Kenari mengajaknya duduk pada sofa panjang dekat jendela. Terdapat aneka makanan tersaji di atas meja kecil itu.


"Apa ini Bu?" sungguh Kenari tidak faham maksud Rani.


"Maaf ya, beberapa hari ini aku bersikap keras padamu, aku hanya ingin Kamu memahami bahwa tidak selamanya kebaikan itu berujung bahagia."


"Maksud Ibu?"


"E— ayo ngobrol sambil makan." Rani menyajikan nasi di piring Kenari, ia juga menambahkan aneka lauk pauk di sana.


Kenari mengerutkan dahi saat ia menyadari bahwa ini adalah menu makanan paforitnya semua.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2