Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Ada Apa Dengan Tuan Besar.


__ADS_3

"Suasana sarapan yang penuh kehangatan, berkumpul bersama, saling bertukar cerita," ujar Kenari seraya mengembangkan senyuman khasnya.


"Ini membuatku rindu teman-teman." sambung Kenari dengan wajah lugunya.


Meskipun perasaan canggung menggelayuti para pengurus rumah. Tapi, Kenari selalu bisa mencairkan suasana kaku diantara Mereka, hingga sesekali terdengar suara tawa menggema di ruangan kecil itu.


Tentu saja itu tidak berlaku untuk Gavin. Sosok pria dingin yang cenderung serius itu tidak sekalipun tertawa atau sekedar mengelus senyum tipis.


"Apa Dia selalu begitu?" bisik Kenari pada Asisten dapur yang ia tahu bernama Sasa.


"Ya, Mas Gavin memang seperti itu," ujar Sasa dengan berbisik.


"Dia mirip tokoh utama dalam dongeng yang tidak bisa tertawa," bisik Kenari lagi.


"Hah, benar!" seru Sasa. "Sehingga Sang Raja membuat saimbara berhadiah besar bagi yang mampu membuat Putrinya tertawa,"


"Ternyata Kamu tahu dongeng itu," jawab Kenari senang, karena merasa mendapatkan teman yang satu server dengannya.


***


"Presdir," Gavin membungkuk saat Cendrawasi turun dari mobilnya.


"Bagaimana dengan Garuda?" tanya Cendrawasi seraya berjalan, sementara itu Gavin setia mengekori dengan memegang payung, agar tetesan gerimis tidak membasahi pakaian wanita parubaya itu.


Diamnya Gavin seolah memberi jawaban, bahwa Garuda tidak baik-baik saja.


Cendrawasi menyusuri rumah besar itu, menapaki anak tangga hingga berakhir pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka.


Tentu saja hal itu membuat Cendrawasi dan Gavin saling memandang.

__ADS_1


Pasalnya pintu itu selalu tertutup disaat turun hujan.


Gavin mendorong pelan pintu kayu itu hingga menampakan Garuda yang duduk diatas ranjang.


Alangkah terkejutnya Mereka disaat tersadar bahwa Garuda duduk diatas tubuh seseorang, kedua lututnya bertumpuh pada kasur dengan kedua tangan mencekik leher Kenari.


"Tuan!" Gavin segera berlari dan berusaha melepaskan cekikan Garuda.


Dilihatnya Kenari yang sudah hampir kehabisan nafas, wajahnya memerah dengan mulut menganga kedua tangannya memukul-mukul lengan Garuda.


"Tuan! Sadarlah!" pekik Gavin.


Cendrawasi mematung dengan wajah tanpa ekprsi, kedua kelopak mata Ibu yang sudah tidak lagi muda itu nampak berkaca-kaca seolah menggambarkan kehancuran hatinya.


"Tuan!" notasi suara Gavin bahkan naik 5 oktaf, hingga membuat Garuda menoleh.


Cengkraman Garuda melemah dan berangsut terlepas, membuat Kenari kembali bernafas lega dan terbatuk-batuk.


Garuda tersadar ia menyingkir dari atas tubuh Kenari. Berdiri dengan kondisi lemah membuat keseimbangannya tidak teratur, bahkan kedua kaki terasa tidak mampu menopang berat tubuhnya, hingga akhirnya ia terjatuh dengan menutup mata.


***


Cendrawasi menghela nafas berat, dilihatnya wajah Kenari yang sudah tidak lagi pucat.


Dengan duduk di sofa panjang dan mengulum kesepuluh jarinya bahkan Kenari tidak berani mengangkat wajah untuk menatap Cendrawasi.


Rasa takut menggelayuti Kenari, ia memikirkan tentang jawaban apa yang mampu menyelamatkannya ketika Nyonya Besar itu bertanya prihal keberadaannya di kamar Garuda.


Sedangkan manusia satu-satunya yang mampu menolong sedang tidak bersamanya. Ruangan tivi yang besar itu hanya berisi Kenari dan Cendrawasi.

__ADS_1


15 menit berlalu. Namun, wanita itu tidak kunjung melontarkan pertanyaan padanya.


"Apa aku akan dipenggal?" gumamnya lirih.


"Presdir, sebaiknya Anda kembali." perintah itu datang dari Gavin yang baru saja datang.


"Tuan sudah baik-baik saja," ujarnya lagi.


Kedatangan Gavin selalu membuat Kenari merasa lega.


"Baik, jangan katakan padanya tentang kedatanganku,"


"Baik,"


Cendrawasi bangkit dan melihat pada Kenari sebelum akhirnya ia melangkah. Namun, baru satu langkah Cendrawasi kembali berhenti dan menoleh menghadap pada Kenari.


Saat itulah pandangan Kenari dan Cendrawasi bertemu.


Kenari lantas kembali menunduk ia terlalu takut untuk menatap wajah wanita tua itu.


"Berikan perhatian lebih untuknya, bukankah hanya dia yang berani mendekati anakku?" ujar Cendrawasi pada Gavin.


Ucapan Cendrawasi membuat Kenari mengangkat pandangannya.


Sedangkan Gavin hanya membungkuk hormat sebagai tanda bahwa dia mengerti.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2