
"Aku hanya butuh cairan asam jawa dan gula merah." gumam Kenari pelan seraya menunduk malu.
Meskipun tipis. Namun, senyuman Garuda terpati oleh wajah malu Kenari. Wajah yang terlihat lucu karena begitu lugu dan polos.
"Akan aku buatkan." ucap Garuda seraya bangun dari duduknya.
Sebaiknya memang segera menghilang dari hadapan Kenari, jika tidak mungkin Garuda akan berada dalam masalah besar. Ia sadar bahwa perasaannya mulai goyah.
"Tunggu!" suara Kenari yang terdengar keras membuat Garuda mematung.
"E—m...." Kenari nampak ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa?"
"Em— aku butuh softek," suara Kenari sangat pelan nyaris tidak terdengar.
"Baik, akan aku buatankan." Garuda pergi begitu saja setelah mengatakannya.
"A?" sungguh kini kebingungan melanda otak kecil Kenari. Tapi, ia enggan bertanya, lagi pula Garuda langsung pergi begitu saja.
"Apa dia juga memiliki pabrik softek?" Kenari masih berpikir tentang jawaban Garuda yang akan membuatkannya softek.
"Hebat sekali dia, entah berapa jumbla kekayaannya, mungkin 800 milyar? 10 trilliun? Uwahhh...."
Membayangkannya saja sudah membuat mulut Kenari mengangah lebar.
Detik berikutnya Kenari nampak berdecak pelan, mengingat hal memalukan yang baru saja terjadi.
"Untung saja wajahnya selalu datar, kalo tidak mungkin aku sudah mati menahan malu." ucap Kenari setelah pintu kamarnya tertutup.
"Aduh... Banjir banget." sambungnya dengan menarik selimut hingga dirinya tenggelam dalam selimut.
"Malunya aku." gumamnya lagi.
****
"Gavin!"
"Tuan," Gavin memang selalu sigab, baru sekali panggil saja ia sudah muncul layaknya jin dalam botol yang akan keluar ketika tuannya mengusab lampu tempatnya tinggal.
"Panggil Koki, cepat!"
Gavin nampak berbicara melalui aerphon yang terpasang di telinganya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian para koki yang terdiri dari 3 orang berjajar rapi di hadapan Garuda.
"Buatkan cairan asam jawa dan gula merah, serta buatkan softek." perintah terakhir membuat para Koki saling memandang bahkan Gavin nampak menahan tawa.
"Ada apa? Apa kalian tidak bisa membuat makanan itu? Ck... Bahkan kalian sudah memiliki sertifikat. Payah sekali." keluh Garuda.
"Tuan—"
"Ya sudah cepat cari koki baru, ganti Mereka semua." Garuda membuat Gavin menggantungkan ucapannya.
Sepertinya kali ini sinyal kepala Mereka berdua tidak terkoneksi dengan baik, sehingga Garuda tidak faham apa yang dipikirkan oleh Gavin.
Mendengar akan diganti membuat para koki memasang wajah khawatir. Saat ini Mereka mengandalkan Gavin.
Semoga saja Gavin mampu meyakinkan Garuda bahwa softek bukanlah makanan.
"Tuan, softek tidak terbuat dari tepung dan telur." Gavin berusaha menjelaskan.
"Lalu?" Wajah Garuda nampak menantang.
"Apa softek adalah makanan raja, sehinnga Kamu begitu khawatir aku tidak bisa membeli bahan-bahannya? Kamu meremehkanku hah!" Garuda justru salah faham dengan penjelasan Gavin.
"Maaf Tuan." Gavin membungkuk hormat.
"Dapatkan bahan-bahannya." Garuda mengulurkan sebuah kartu ATM berwarna hitam.
"Tapi, Tuan—"
"Apa lagi? ini kartu hitam, Kamu tahu, 'kan ini tanpa limid." sambung Garuda dan memaksa Gavin menerimanya.
"Tuan—"
"Cepat!" pekik Garuda. Bahkan Gavin tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan.
Jika seperti ini pergi adalah cara terbaik untuk menghentikan Garuda memecat para koki.
"Dia meremehkan uangku." gumam Garuda seraya menatapi punggung Gavin yang mulai menjauh.
Jika sudah seperti ini, pantaskah para Koki dan asisten yang menyaksikan berpikir bahwa Big Boss mereka ternyata tidak sepintar tampilan luarnya?
"Apa lagi? Cepat buatkan asem jawa dan gula merah!" sambung Garuda dengan sedikit memekik.
Membuyarkan lamunan para Koki.
__ADS_1
"Baik Tuan."
***
"Pak," panggil Kenari saat seorang Koki datang dengan baki berisi air asem jawa yang masih mengepulkan asap.
Rona bahagia terpancar dari raut wajah gadis manis itu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Sudah sejak 10 menit yang lalu Kenari merasa gelisah, rasa tidak nyaman jelas tergambar pada wajah Kenari.
Rona bahagia itu segera berganti dengan kecewa saat dia melihat hanya segelas air asam saja yang koki bawa.
"Aku lebih membutuhkan pembalut," gumam Kenari lirih bahkan sang koki tidak dapat mendengarnya.
"Silahkan Nona, selagi hangat," ujar Koki dan hanya dibalas anggukan oleh Kenari.
"Pak, bisa—" Kenari tidak melanjutkan ucapannya, karena rasanya sangat malu meminta pembalut wanita pada orang laki-laki.
"Ada apa Nona?"
"Eh, tidak Pak, tidak jadi."
"Saya permisi Nona."
"Pak," panggil Kenari lagi sehingga menghentikan langkah koki.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Dengan ragu Kenari terus menimang-nimang.
"Em, tolong panggilkan Tuan saja." pilihan Kenari jatuh pada Garuda.
Karena akan lebih nyaman jika bicara pada orang yang tidak memiliki ekspresi seperti Garuda. Setidaknya iru mengurangi rasa malu Kenari.
"Baik."
Saat Koki membuka pintu ternyata Garuda sudah berdiri di depannya.
"Tuan. Nona ingin bertemu," ucap Koki seraya membungkuk hormat sebelum pergi.
Garuda mengangkat satu alisnya, menatap Kenari karena Kenari memasang wajah manyun dengan duduk memeluk selimut.
***
__ADS_1
Bersambung.