Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Laki-laki Lugu


__ADS_3

Garuda berjalan diikuti beberapa asisten rumah dengan seragam cream.


"Sudah hubungi Dokter?" tanya Garuda seraya menaiki anak tangga.


"Belum Tuan, Kami menunggu perintah Anda," ujar seorang kepala asisten.


"Gavin," panggil Garuda sebelum ia menarik tuas pintu.


"Baik Tuan."


Sungguh, isi kepala Gavin dan Garuda seolah terkoneksi satu sama lain. Bahkan hanya dengan menyebutkan nama saja Gavin bisa mengerti apa yang harus ia lakukan.


Benar saja, ketika pintu terbuka nampak Kenari yang bersembunyi di dalam selimut.


Suara rintihan dan erangan kecil membuat Mereka yakin bahwa Kenari sedang menahan sakit.


Terlebih lagi tubuh yang terbalut selimut putih itu nampak gelimpangan ke kanan dan kiri.


"Sejak kapan Nona seperti ini Bu?" tanya Gavin pada kepala asisten seolah mewakili isi kepala Garuda.


Gavin selalu bisa diandalkan.


"Sudah sekitar 30 menit Mas."


"Lain kali tidak perlu perintah untuk memanggil Dokter, kalian tahu harus bagaimana?" sambung Gavin.


"Kami pikir Tuan Besar bisa mengobatinya, seperti pagi tadi." jawab kepala asisten.

__ADS_1


"Jangan membatah!" suara datar Gavin terdengar angker ditelinga Mereka.


"Baik Mas." jawab kepala asisten.


Garuda berjalan mendekati Kenari dan seketika menarik selimut yang membungkus tubuh Kenari.


"A—ada apa?" tanya Kenari dengan wajah terkejut saat melihat orang-orang mengerumuninya.


Dengan duduk bersila dan kedua tangan yang tertutup selimut ia gunakan untuk meremas perut. Wajahnya nampak pucat, tergambar dengan jelas ia sedang menahan sakit.


Kenari menunduk dan meringis sakit, melihat hal itu membuat Garuda duduk di samping Kenari dan sontak menarik tangan Kenari untuk memeriksa denyut nadi.


Kenari terlalu terkejut hingga ia tidak bisa menolak perlakuan Garuda saat Garuda mendorong tubuhnya hingga ia kembali terbaring di ranjang.


"Aku, aku, aku tidak apa-apa sungguh." ucap Kenari saat Gavin mendekat dengan kotak medis milik Garuda.


"Aku baik-baik saja, sungguh." Kenari mencoba meyankinkan Garuda.


"Apa perutmu sakit?" tanya Garuda karena Kenari memegangi perut.


Mengangguk adalah cara efektif untuk menjawab pertanyaan Garuda. Karena Kenari pun sudah hampir mati menahan sakit.


"Biar aku periksa."


"Tidak!" Kenari menepis tangan Garuda yang akan menyentuh area perutnya.


"Jangan membangkang!"

__ADS_1


"Enggak!" Kenari dan Garuda berebut selimut yang menutupi tubuh Kenari.


"Enggak, aku baik-baik aja!" Kenari terus mempertahankan selimut, seolah sedang melindungi hal yang berharga.


Namun, akhirnya ia harus pasrah ketika Garuda berhasil membuang selimut putih itu.


"Diam." pekik Garuda dan berhasil membuat bibir Kenari mengatub rapat.


Tidak ada hal yang lebih mengerikan dari marahnya seorang pendiam dan Kenari berkesempatan menyaksikan fonomena langka ini. Tidak ada cara lain ia harus mengaku.


"Aku nyeri haid," ujar Kenari yang sepontan membuat Garuda terdiam dengan wajah ambigu.


Sementara Gavin dan kepala asisten rumah memilih berjalan keluar kamar.


Kenari sudah membuat heboh seisi rumah bahkan Garuda harus meninggalkan kantornya dan ternyata hanya nyeri haid.


Bukankah ini sesuatu yang melawati batas kewajaran?


Sadar jika ucapannya sedikit ambigu lantas Kenari memasang cengiran kuda miliknya.


"Aku hanya butuh minum cairan asam jawa dan gula merah." gumam pelan Kenari dengan menunduk malu.


Situasi yang aneh seperti ini membuat Garuda menarik tipis senyumannya, ia menertawakan dirinya sendiri karena sudah khawatir pada seorang gadis yang tidak normal.


Tapi, menyesal pun tidak berguna. Setidaknya gadis gila itu baik-baik saja.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2