Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Bunga Kematian.


__ADS_3

"Dokter Reza?" Kenari terkejut saat ia membuka pintu Reza sudah berdiri di depannya.


Dokter tampan itu mengulas senyum manis seraya melambaikan tangan.


Sedang tangan kirinya ia gunakan untuk memegang buket bunga anyelir putih.


"Nggak disuruh masuk nih?" tanya Reza.


"Oh i—ya," Kenari mempersilahkan Reza, ia minggir dari pintu memberikan ruang bagi Reza untuk lewat.


"Maaf, rumah saya sempit dan berantakan." ucap Kenari seraya memunguti bungkus snack dan majala serta buku novel yang berserajan di lantai dan sofa.


"Santai saja, nggak papa," tutur Reza seraya menyentuh lengan Kenari menariknya dan memberikan buket bunga untuknya.


"E— terima kasih Dokter." sungguh Kenari masih gugub karena ini jali pertama kedatangan pria tampan di kosannya.


"Duduk saja, jangan repot-repot buatkan minuman."


"A ?" Kenari melongo bingung, antara kode atau permintaan, karena saat ini ia tidak terlihat akan membuatkan minum.


"Tidak, hanya air putih saja, tidak repot Dokter." sambung Kenari lalu ia bangkit berjalan menuju dapur.


Reza menyelisik setiap sudut ruangan ia nampak tersenyum saat melihat bingkai foto Kenari bersama Dara mengenakan seragam SMA.


"Silahkan." Kenari menghidangkan satu gelas air putih.


"Air putih ini terlalu berani, benar nggak sih?" tanya Reza seraya membuka tutup gelas lalu menenggaknya.


"Maksud Dokter?"


"Sendirian nggak ngajak temen." sambung Reza lagi-lagi Kenari dibuat melongo dengan ucapan Reza.


Beberapa detik dibuat mikir akhirnya Kenari mengerti, itu adalah kode agar menyertakan cemilan untuk mendampingi air putih.


"Hahahaha ...." tawa Reza ia tidak bisa menahan tawa melihat raut wajah Kenari yang bingung.


"Aku hanya becanda, jangan terlalu dipikir." sambung Reza yang mendapat senyuman kaku dari Kenari.


"Bagaimana kondisimu, apa sudah lebih baik?" tutur Reza prihal kesehatan Kenari.


"Apa Dara yang bercerita?" tanya Kenari.


"Ya, aku sangat terkejut mendengarnya, aku sudah meminta detektif untuk menyelidiki kasus ini semoga kita segera tahu siapa pengirim paket itu."


"Terima kasih untuk bantuannya Dokter." tutur Kenari dengan tulus.


"Untuk masalah Rani, aku benar-benar minta maaf, aku sudah bicara dengannya dan mengenai Garuda, aku—"


"E, Dokter." sela Kenari.


"Apa Dokter Rani bercerita tentang ci—uman?"

__ADS_1


"Ciuman?" Reza justru tidak mengerti maksud ucapan Kenari.


"I—iya," celaka ternyata Reza tidak tahu mendadak rasanya Kenari ingin masuk ke dalam toples saja.


"Apa itu alasan Rani marah?"


Kenari mengangguk ragu.


"Mung—kin."


***


"Kenapa kamu mengikutinya, aku tidak memintamu." ucap Garuda pada sosok pria dengan setelan jas hitam.


Pria tinggi layaknya binaragawan itu berdiri tegab dan menunduk.


"Kami curiga nyawa suster itu dalam bahaya, Pak." tutur sang ajudan.


"Tidak perlu pedulikan dia, selesaikan saja tugas yang aku berikan."


"Baik Pak."


"Apa ada kabar lain?"


"Sesuai prediksi anda, saat ini kondisi prusahaan mulai menurun, sebagian para investor mencabut saham yang mereka tanam, Pak."


"Ada lagi?"


"Tidak untuk sekarang." Garuda bangkit dari duduk dan berjalan mendekat jendela.


"Aku akan menunggu sampai mereka berada dalam titik nol lalu membelinya dengan harga murah."


"Baik, Pak. Perintahkan saja kami akan mengurusnya. SG Entertainment menunggu Anda Pak."


"Sedikit lagi, semua akan kembali pada tempatnya."


"Tempat yang mana? Kenari atau Shima?" tiba-tiba kepala Reza muncul dari balik pintu.


Mendengar hal itu lantas Garuda berbalik dan meminta ajudannya pergi melalui gerakan mata.


Sebelum pergi sang ajudan membungkuk hormat pada Garuda dan Reza yang kini sudah duduk di sisi ranjang.


"Tunggu Vin," panggil Reza menghentikan langka Gavin sang ajudan.


"Pastikan calon nyonya kita tidak lecet atau tertekan sedikit pun." perintah Reza lantas membuat Gavin kembali membungkuk hormat dan pergi.


"Siapa?"


"Kenari."


"Nggak usah ngaco!"

__ADS_1


"Jelas-jelas kamu suka."


"Jangan ngajak debat." tegas Garuda, ia tidak terima tuduhan tanpa dasar yang Reza layangkan.


"Apa alasanmu mencium Kenari?"


"Tidak ada," jawab datar Garuda.


"Bukan karena dia mirip Shima, istrimu?"


"Tidak ada yang bisa menyamai Shima, Kamu ingat itu."


"Lalu?"


"Apa?"


"Ciuman kemarin?"


"Aku membutuhkannya untuk memancing serangga agar keluar dari persembunyiannya."


"Dan kesimpulan apa yang kamu dapatkan tentang Rani?"


"Tidak mudah untuk mendapatkan bukti bahwa Dia juga terlibat, aku tidak akan gegabah."


"Hebat konon." sindir Reza.


"Nangkap penjahat aja butuh waktu bertahun-tahun."


"Jaga mulutmu, atau aku robek!"


"Kejam. Mafia kok pura-pura gila demi menghindar dari jerat hukum." sambung Reza.


"Jaga bicaramu!" Garuda mulai jengah dengan ucapan Reza yang tidak sebaik parasnya.


***


"Anyelir!" Dara terkejut setelah melihat buket bunga tersusun rapih dalam pot di atas meja. Dara baru saja pulang dari bekerja bahkan tas gendongnya masih menempel di punggung.


"Dokter Reza yang bawa, bagus ya. Baru ini aku lihat bunga jenis ini keseringan liat kalo nggak mawar ya bungga kertas."


"Tapi kan ini bunga anyelir Nar."


"Oh namanya Anyelir ya"


"Kamu tahu ini melambangkan apa?" tanya Dara.


Kenari menggeleng.


"Kematian." sambung Dara.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2