Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Tanda Tanya Tentang Cinta


__ADS_3

"Apa Kamu tidak ingin tahu kebenarannya?" tanya Garuda pada Kenari.


Sudah pukul 9 malam, cuacapun sudah tidak lagi hujan meskipun udara masih terasa lembab dan mendung menutupi bintang-bintang.


Kenari mengangkat wajahnya menatap raut datar Garuda yang berdiri di depan jendela kaca.


"Tidak."


Sungguh jawaban Kenari bahkan membuat Garuda menarik satu alisnya.


"Aku tidak akan bertanya, mengapa, bagaimana atau kenapa. Kesulitan yang Kamu derita cukup menjelaskan bahwa Kamu ingin melupakannya." tegas Kenari.


"Tapi—"


"Aku memahaminya, ceritakan saja nanti, aku—aku tidur dulu," ujar Kenari sebelum akhirnya keluar dari kamar Garuda dengan langkah yang lebar.


"Kenap—" niatnya untuk menahan Kenari ia urungkan.


"Aish ...." Garuda mengacak rambut belakangnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain bercak pinggang.


Garuda merasa frutasi. "Seharusnya dia bertanya, 'kan? Entah apa yang dia pikirkan tentangku." gumam Garuda.


***


Kenari mengunci pintu kamar dan segera berbaring di ranjang, bersembunyi di balik selimut tebalnya.


"Aku nyaris mati olehnya," gumam Kenari.


"Siapa bilang aku tidak takut? Ais ... Jika tahu begini aku tidak akan memasuki kamar itu, aku tidak bodoh sehingga mau tetap satu kamar dengannya. Hih ... bulu gudukku berdiri." ujar Kenari seraya mengusab-usab lengannya.


"Tapi—" Kenari nampak menerawang dan kembali duduk dengan kaki bersilah.


"Bukankah seharusnya dia meminta maaf, karena sudah hampir membunuhku? Hais, dasar. Dia persis CEO dalam cerita novel, arogan, naif, sombong dan sok pintar padahal IQ-nya enol besar, orang normal mana yang tidak tahu softek, hanya dia satu-satunya penduduk bumi yang tidak dikaruniai urat pintar. Dia hanya beruntung terlahir dari rahim orang kaya." oceh Kenari.


30 menit berlalu tapi Garuda tetap tidak bisa memejamkan mata ia gelisa pikirannya tidak tenang.


"Ahk!" Garuda menendang selimut dan bangun dari tidurnya duduk dengan kaki menggantung.


"Dia pergi begitu saja, tidak peduli dengan penjelasanku," gumam Garuda sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari kamar.

__ADS_1


Garuda berdiri di depan pintu kamar Kenari, ia ragu untuk mengetuk pintu kayu itu.


Akhirnya Garuda memilih pergi dari sana dan berjalan ke arah dapur.


Suasana hening dengan cahaya lampu yang tamaram hanya terdengar dentingan jarum jam dinding besar yang terlwtak di sudut ruangan makan.


Garuda berjalan menuju Kulkas, merasa heran tentang pintu kulkas yang terbuka ia bahkan bergumam tentang kecerobohan Koki yang tidak menutup kulkas.


Namun, ada hal yang aneh. Seseorang nampak berjongkok di depan kulkas, setelah diselisik orang itu ternyata Kenari.


Garuda menepuk pundak Kenari sehingga membuat Kenari terkejut dan menoleh.


"Ahkkkkk!" teriak Garuda dan Kenari bersamaan.


Karena terkejut. Cahaya dari lampu Kulkas membuat wajahnya nampak begitu jelas.


"Ka—kamu," lirih Garuda. Melihat ekprsi tegang di wajah Garuda membuat Kenari khawatir apakah kali ini Garuda akan kembali menyakitinya.


"Dardar darah." ucapan Garuda membuat Kenari


segera mengusab mulutnya dengan telapak tangan dan benar saja warna merah menghiasi area mulut.


Kenari tersenyum datar dengan menatap wajah Garuda yang masih nampak terkejut. Namun, detik berikutnya Garuda menghela nafas lega saat menyadari tangan kanan Kenari memegang potongan buah naga.


"Aku khawatir mengganggu yang sudah tidur." sahut Kenari mengekori Garuda karena Garuda menuntun tangan Kenari mendekati meja makan.


"Duduk." perintah Garuda dan Kenari menurut saja.


Tidak ada rasa takut tidak ada perasaan khawatir di wajah gadis manis itu karena wajah Garuda memancarkan kehangatan.


"Diam disini!" Pinta Garuda sebelum beranjak menuju kulkas mengambil beberapa jenis buah dan membawanya menghampiri Kenari duduk pada sisi Kenari.


"Kenapa belum tidur?" tanya Garuda seraya mengupas kulit apel merah.


"Belum ngantuk," jawab Kenari.


"Lain kali saat ingin makan sesuatu, Kamu bisa memanggilku,"


"Apa?"

__ADS_1


"Apa lagi? Karena aku takut Kamu kabur dengan barang curian." sahut Garuda.


"Rumah ini menyimpan banyak benda-benda antik dan semuanya memiliki nilai jual yang tinggi."


Kenari berdesis yang membuat Garuda menyembunyikan senyuman kecilnya.


"Makanlah," Garuda mendorong piring kecil berisi irisan buah apel, mangga dan buah naga ke hadapan Kenari.


Tapi, Kenari tidak kunjung memakannya.


"Ini gratis," ujar Garuda membuat Kenari tersenyum tipis dan mengambil irisan mangga lalu memakannya.


Satu irisan belum cukup hingga Kenari mengambil irisan kedua.


"Manis?" tanya Garuda dan Kenari mengangguk saja.


"Cicipi," Kenari menawarkan buah yang ia pegang untuk Garuda seraya tersenyum manis. Tapi, detik berikutnya senyuman itu memudar disaat ia menyadari bahwa dirinya melewati batas dengan menawarkan suapan buah untuk Garuda.


Sadar dengan situasi canggung membuat Kenari menarik tangannya dan memakan buahnya.


Tanpa terduga Garuda menyondonfkan tubuhnya hingga mengikis jarak antara mereka.


Karena terkejut Kenari tidak mampu bertanya ataupun berkomentar bibirnya seolah keluh mendapat tatapan sedekat ini dari Garuda.


"Boleh aku mencicipinya?" tanya Garuda. Namun, Kenari masih diam alih-alih menjawabnya Kenari memilih mengangguk saja.


Setelah anggukan itu secara tiba-tiba Garuda mengecub singkat bibir Kenari.


Tentu saja hal itu membuat Kenari membolakan mata dengan wajah terkejut. Tidak menduga Garuda akan menciumnya.


Garuda mengecabkan mulutnya merasakan rasa manis buah mangga yang baru saja ia dapatkan dari bibir Kenari.


Kedua matanya nampak menerawang entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Ka—ka—kamu," ingin sekali Kenari bicara dan protes. Tapi, entahlah suaranya seolah terkecat di tenggorokan.


Gerakan Garuda tanpa terduga, ia kembali menyesab bibir Kenari.


Membuat sang pemilik kembali terkejut. Kenari memukul punggung Garuda tapi tetap saja Garuda tidak melepaskan ciumannya. Seolah tertantang Garuda justru semakin menyesab dalam bibir Kenari, memberikan sentuhan memabukan sehingga Kenari menutup mata dan memilih pasrah dengan perlakuan Garuda.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2