Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Sisi Lain Dara.


__ADS_3

"Brengsek!" Sungguh amarah menyelimuti Dara. Melihat kondisi Kenari yang jauh dari kata baik-baik saja, membuat ubun-ubun Dara seolah mendidih.


Kenari terdiam, dia bingung dan takut dengan situasi saat ini.


Bagaimana jika Rani menyakiti dirinya dan Dara. Bagaimana jika Dara tiada gara-gara dia.


Pikiran itu sontak membuat Kenari menggeleng ia harus melakukan sesuatu.


Kenari mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan Rani, saat itulah ia melihat sebuah vas bunga di atas nakas, Kenari meraihnya dan memukul kepala Rani dengan vas berukuran sedang.


Seketika Rani mengerang sakit bahkan tubuhnya nyaris terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan akibat rasa pusing yang menyerangnya.


"Sial!" pekik Rani.


Merasa terancam lantas Kenari berlari, sial. Saat itulah Rani meraih kaki Kenari hingga ia jatuh dan tersungkur di lantai.


Sontak, Dara berlari mendekat membantu Kenari bangkit.


"Kenari," Dara menangkup kedua pipi Kenari menatapnya dengan penuh kesedihan, rasanya tidak terima melihat Kenari terluka.


Dara menyelisik setiap inci lengan Kenari, luka pada tubuh Kenari seolah menyayat hati Dara hingga air mata menetes begitu saja.


"Tidak Dara. Tidak...." Kenari menyingkirkan kedua tangan Dara.


"Jangan seperti ini, aku tidak bisa Dara."


"Ck, ck, ck... Drama apa ini?" Rani memperhatikan dengan bersedakep, Rani yang tidak mengerti apapun hanya tersenyum miris.


Dara mengalihkan perhatian, menatap Rani dengan kebencian dan amarah.


"Hah!" teriak Dara, meluapkan emosi dalam dirinya.


Ucapan Kenari sulit ia terima, terlebih saat ini kondisi Kenari sangat membuat Dara tersiksa.


Dara melangkah mendekati Rani, secepat kilat menendang perut Rani, hingga terjatuh.


Saat Rani masih mengerang sakit Dara menghampiri dan menendangnya berulang-ulang secara brutal tidak ada ampun bagi Rani, meskipun berulang kali Rani mengaduh lirih.


Melihat hal itu lantas Kenari mendekat, sungguh Kenari tidak tega melihat Rani yang meringkuk tidak berdaya. Kenari menghalangi Dara agar tidak menyakiti Rani lagi.

__ADS_1


"Dia pantas menerimanya Nar! Aku akan menghabisinya, aku akan mencabik-cabik tubuhnya, dia pantas mati! Dia sudah menyakitimu!" notasi suara Dara meninggi 5 oktaf.


Kenari menggeleng.


"Tidak Dara, tidak." kenari memegang kedua lengan Dara meyakinkan Dara untuk tidak menyakiti Rani.


Saat itu fokus Mereka teralihkan sehingga tidak menyadari bahwa Rani sudah berdiri kembali dengan sebuah pisau di tangannya.


Dan seketika itu menusuk pinggang Kenari.


"Ahk...." lirih. Suara Kenari tertahan di tenggorokan, rasa sakit tergambar di wajah Kenari. Menyadarkan Dara, bahwa Kenari terluka, benar saja detik berikutnya tubuh Kenari ambruk


"Kenari...." Dara menyangga tubuh lemah Kenari yang terjatuh lemah.


"Kenari," Dara melihat pisau terpasang di punggung Kenari.


Kenari menahan sakit dengan bertumpuh pada kedua lutut yang menyentuh lantai sementara Dara memeluk tubuhnya.


Seketika itu juga Dara mencabut pisau yang menancab di punggung Kenari.


Hingga terdengar suara Kenari yang mengaduh lirih menahan sakit.


"Tidak Dara, jangan lakukan apa pun," lirih Kenari dengan pandangan yang mulai sayub dan darah tidak berhenti mengalir dari luka tusuknya.


"Tidak, jangan...." lirih Kenari saat Dara mulai berangjak dari sisinya.


Tapi Dara tidak peduli dengan ucapan Kenari, ia tetap melangkah mendekati Rani yang nampak semburat takut pada wajahnya.


"Berhenti! Atau aku akan menghabisi kalian!" pekik Rani seraya melangkah mundur.


Wajah menakutkan yang Dara pancarkan sungguh membuat Rani gemetar, bahkan Rani tidak menyangka wajah lugu Dara dapat berubah pias.


Dara menyeringai.


"Kamu sudah salah mengganggu orang." gumam Dara, ia sematkan senyuman khas psikopat pada wajahnya.


"Aku bahkan tidak segan membunuh Bu Mala dan mencincang tubuhnya." pengakuan Dara lantas membuat kedua mata Rani membulat sempurna disusul getaran di mulut dan seluruh anggota tubuhnya.


Dengan kondisinya yang lemah Kenari mencoba bangkit.

__ADS_1


"Kamu sudah menyakiti Kenariku!" teriak Dara, hingga suaranya menggema menyentuh langit-langit ruangan.


"Kamu pantas mati!" sambung Dara.


Rani berlari ketika memiliki kesempatan tapi Dara mengejarnya.


Saat jarak satu meter Dara menghantam tubuh Rani dengan sebuah bangku kayu, hingga tubuh Rani tersungkur ke lantai.


Tidak banyak yang Dara lakukan, ia hanya menarik rambut Rani seperti saat Rani menarik rambut Kenari.


Rani merontah meminta pertolongan.


Suara itu dapat Kenari dengar dari ruangan yang berbeda.


Kenari berjalan tertatih, merayab pada tembok, ia ingin menolong Rani dari kegilaan Dara.


Sementara itu Dara terus menyeret tubuh Rani dengan rambut sebagai pegangan.


Ia membawa tubuh lemah Rani menaiki tangga.


"Dara...." lirih Kenari.


Kenari mulai menapaki anak tangga menyusul Dara dan Rani yang telah menghilang, memasuki sebuah ruangan.


"Ahhhhhh!" suara teriakan Rani membuat langkah Kenari mematung. Namun, detik berikutnya Kenari kembali berjalan dengan menahan sakit.


Darahnya menetes pada setiap langkah yang Kenari lalui.


Jika beberapa detik lalu suara teriakan Rani yang membuat Dara mematung. Kini justru suara tawa Dara yang menahan langkah Kenari.


Tawa Dara sangat lepas dan terdengar bahagia.


Semakin dipikir Kenari semakin merasa takut berhadapan dengan Dara, terlebih pengakuan Dara beberapa menit lalu tentang Bu Mala.


Jika Dara bisa membunuh Mala maka apa yang akan terjadi pada Rani.


Pikiran itu membuat Kenari kembali melangkah, ia harus menyelamatkan Dokter Rani.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2